
Sementara itu di markas para perampok bertopeng...
"Mau kita apakan uang sebanyak ini, Odi?" tanya Bram ke Odi. Keduanya tengah menerima uang dalam jumlah yang sangat besar.
"Entahlah, aku pikir akan membuat panti asuhan saja," sahut Odi segera.
"Kau begitu baik, Odi." Bram menyanjung Odi.
"Kau tidak ingin menanyakan pendapatku?" Hans pun datang sambil membawa beberapa botol minuman.
"Aku sudah tahu jawaban darimu," sahut Bram kembali.
"Hah, kau selalu sok tahu!" Hans pun tidak mau kalah.
"Uangnya terlalu banyak. Mungkin bisa digunakan untuk membeli seluruh tanah di negeri ini." Esa menambahkan.
"Aku tidak berminat," jawab Hans cepat.
"Bagaimana jika ikut terjun di dunia pemerintahan saja?" tanya Esa kemudian.
Tampak Bram dan Odi yang saling melirik. Perkataan Esa ternyata membuat keduanya tertarik.
__ADS_1
"Kita tidak mempunyai kenalan di politik pemerintahan, Esa." Bram mengungkapkan.
Esa mengangguk. "Benar. Tapi kita bisa menyogok ketua partai untuk menerima jadi anggota. Bukankah itu mudah?" tanya Esa kembali.
"Lalu jika berhasil?" Odi pun ikut bertanya.
"Tentu saja kita akan pelan-pelan menyingkirkan semua pejabat korup yang ada di negeri ini. Dengan cara yang lebih halus lagi dan tanpa terjadi pertumpahan darah," terang Esa.
Odi mengangguk.
"Jangan terlalu banyak mengkhayal. Negeri ini sudah dikuasi oleh mafia-mafia tanah, mafia obat-obatan dan mafia yang lainnya. Kita tidak punya kekuatan untuk melawan mereka semua." Hans tampak berkecil hati memikirkannya.
"Menurutku tidak ada yang tidak mungkin. Kenapa tidak kita coba saja dulu? Lagipula jika berhasil masuk ke pemerintahan, kita jadi lebih mudah menutupi siapa jati diri ini. Tentunya kita bisa buat pencitraan yang lebih baik lagi." Esa menambahkan.
Esok harinya...
Tim SAR berhasil mengevakuasi korban dari meledaknya kereta bawah tanah yang hancur di sungai besar yang ada di kota. Mereka pun menemukan seorang mayat yang diduga adalah Hanzi, pimpinan dewan perwakilan rakyat. Dan kini jasad yang ditemukan itu sedang diotopsi untuk mengungkapkan kasus ini lebih jauh. Naga dan Hara pun tampak kelelahan setelah bekerja seharian ikut membantu.
"Benar-benar melelahkan." Hara pun duduk di kursi kafe, dekat dengan rumah sakit yang mengotopsi jasad yang Tim SAR temukan.
"Setidaknya pekerjaan kita ada hasil." Naga ikut duduk di depan Hara.
__ADS_1
Hara mengembuskan napasnya perlahan. Tersirat dari raut wajahnya memendam sebuah kesedihan.
"Apa yang kau pikirkan, Hara?" tanya Naga segera.
Hara menyandarkan tubuhnya di kursi yang ada di kafe tersebut. Ia memandangi langit sambil sesekali mengembuskan napas lelahnya.
"Bagaimana jika sekelompok penjahat malah menjadi pahlawan di negeri ini?" tanya Hara tiba-tiba.
Sontak Naga pun terkejut mendengar pertanyaan Hara. "Apa maksudmu?" tanya Naga segera.
"Entahlah. Tapi setelah melihat rekam jejak para pejabat yang tewas dalam pertemuan, sebuah kesimpulan kudapatkan. Bahwa apa yang terjadi di gedung pertemuan adalah cara mereka untuk mengamankan negeri ini dari pejabat yang melakukan penyelewengan kekuasaan." Hara mengungkapkan pemikirannya.
"Hara, mengapa kau jadi berubah drastis seperti ini? Bukankah kau seharusnya berpihak kepada pemerintah? Mengapa malah menggiring opini pelaku tidak kejahatan adalah pahlawan?" tanya Naga tak percaya.
Hara tertawa. Ia kemudian mengusap wajahnya. "Aku rasa kebenaran itu akan segera memerangi kebatilan dengan caranya sendiri." Hara berkata.
Naga tampak menepuk dahinya sendiri. "Semakin lama, kau semakin gila. Aku tak mengerti dengan cara berpikirmu. Ada baiknya kau segera mengajukan cuti," saran Naga kepada Hara.
Hara tersenyum. "Kau benar. Tapi ada baiknya jika kita segera membuat laporan temuan hari ini," terang Hara ke Naga.
Pihak kepolisian akhirnya menemukan sedikit demi sedikit titik terang dari apa yang terjadi di gedung pertemuan waktu itu. Namun sayang, mereka belum bisa menemukan siapa pelakunya. Tentunya Hara sendiri menutupi karena ada adiknya yang ikut terlibat di sana.
__ADS_1
Lantas apakah bangkai yang disembunyikan itu tidak akan ketahuan? Lalu bagaimana jika suatu saat situasi berbalik kepada Hara? Mampukah Hara mempertanggungjawabkan semua perbuatannya yang menutupi kasus penyelidikan?