
Gelas teh terjatuh. Nana pun mencoba membersihkan pecahan gelas tersebut. Namun, jarinya malah terkena pecahan gelas dan mengeluarkan darah.
"Nona, kau baik-baik saja?" Naga pun segera menuju dapur apartemen Nana. Saat itu juga ia melihat jari Nana yang terluka. "Nona, biar aku bantu keringkan." Naga menawarkan dirinya.
"Ti-tidak perlu." Nana pun segera membersihkan jarinya di wastafel dapur. Namun, jarinya terus saja mengeluarkan darah.
Naga bertindak cepat. Ia memaksa Nana agar membiarkan dirinya menolong. Naga pun meraih jari itu lalu menghisapnya agar semua darah yang terkontaminasi dengan pecahan gelas bisa keluar. Tapi, saat itu juga Nana merasakan sesuatu yang aneh pada dirinya. Ia tampak ingin mengakhiri hal ini secepatnya.
"Su-sudah, Tuan. Aku baik-baik saja." Wajah Nana pun memerah karena malu.
__ADS_1
Malam ini terjadi sesuatu yang tak terduga kepada Nana. Yang mana membuat Naga bisa melakukan kontak fisik dengan Nana. Naga pun berharap mendapat respon yang baik dari tindakannya ini. Naga berharap Nana bisa membuka hati.
Kini keduanya berdiri berhadapan dengan Nana yang menundukkan wajahnya. "Nona." Saat itu juga Naga memberanikan diri memegang pundak Nana. "Aku ... ingin kita lebih dekat lagi. Bisa kah?" Ia mengajukan pertanyaan itu kepada Nana.
Sontak jantung Nana berdebar kencang. Ia tak tahu harus menjawab apa. Sementara Naga terus tersenyum kepada Nana yang masih menunduk di hadapannya. Naga pun mengangkat wajah Nana dengan jemarinya.
"Kau cantik." Naga memuji Nana.
Esok harinya...
__ADS_1
Sinar mentari pagi menyoroti seisi ruangan apartemen Nana. Saat ini sudah pukul tujuh pagi waktu ibu kota dan sekitarnya. Perkotaan pun telah dipadati oleh lalu lintas kendaraan. Ramai dengan penuh semangat untuk mengais rezeki. Tapi sepertinya hal itu tidak terjadi pada Nana. Wanita itu terlihat menangis di dalam kamarnya.
"Apa yang telah aku lakukan? Mengapa sampai seperti ini? Aku telah mengkhianati Iko."
Dan hanya kata-kata penyesalan itulah yang terucap dari mulutnya, setelah apa yang terjadi semalam bersama Naga. Derai air mata pun mewarnai pagi yang cerah. Nana menyesali perbuatannya.
Nana tidak mengerti mengapa hal itu bisa terjadi. Hasrat yang menggelora tiba-tiba merasukinya, membuatnya menikmati setiap sentuhan dari Naga. Nana lupa akan siapa dirinya. Ditambah lagi Naga yang seakan tidak memberi waktu bagi Nana untuk berpikir jernih. Hasrat itu bergejolak di dada dan ingin segera dilampiaskannya. Hingga akhirnya semua terjadi begitu saja.
Kini air mata menjadi saksi atas penyesalan terbesar Nana di dalam hidupnya. Ia pun tidak tahu harus ke mana setelah ini. Nana kehilangan arah. Penyesalan itu merenggut hidupnya. Hasrat sesaat telah menghancurkan semuanya. Ia pun berniat pergi jauh untuk menebus kesalahannya. Tapi, Nana juga tidak tahu harus ke mana.
__ADS_1
Sementara itu di markas para hacker...
"Aku rasa transaksi semalam sudah cukup untuk menutup perjumpaan kita kali ini."