
Iko tampak segan mengatakannya. "Sebenarnya kami sedang membutuhkan seorang wanita untuk menjadi mata-mata di sana. Tapi kami khawatir jika menyewa dari luar. Karena bisa saja dia membocorkan apa yang kami lakukan. Maka dari itu kami mengadakan rapat untuk menentukan siapa wanita yang bisa dipercaya mengemban amanah itu." Iko menceritakan.
Nana jadi mengerti apa maksud Iko. "Kalau hanya sekedar jadi mata-mata, aku bisa. Tapi apakah tidak akan ketahuan?" tanya Nana lagi.
Iko menggeleng kepalanya. "Kami akan memberi peralatan lengkap agar terhindar dari bahaya. Kami bertanggung jawab sepenuhnya terhadap keselamatan mata-mata yang bekerja sama. Ada orang khusus yang akan mengawasi dari monitor pusat. Jadi aku rasa semua bisa aman dan terkendali." Iko meyakinkan.
Nana mengangguk. "Baiklah. Aku bersedia. Tapi setelah itu liburan ya?" Nana pun meminta.
Saat mendengarnya, saat itu juga Iko senang bukan kepalang. Ia lantas memeluk istrinya. "Sayang, terima kasih."
__ADS_1
Kata sayang itupun akhirnya terucap dari mulut Iko. Nana juga merasa senang mendengarnya. Setidaknya ia bisa sedikit meringankan kegelisahan yang melanda suaminya.
Harusnya kau bilang sejak kemarin, Suamiku. Tapi tak apa, asal bersamamu, aku mau. Jangan pusing-pusing lagi ya.
Nana pun memeluk suaminya dengan mesra. Dan tentu saja pelukan Nana menjadi kekuatan bagi Iko untuk terus berjuang. Iko pun jadi lebih bersemangat menghadapi operasi besar. Ia akan segera memainkan peran.
Sementara itu di markas mafia narkoba...
"Bagaimana transaksi minggu ini?" tanya sang bos besar yang waktu itu menemui Hanzi di kantor dewan perwakilan rakyat.
__ADS_1
Ialah Oda, seorang penyelundup shabu-shabu ke dalam negeri. Ia bekerja sama dengan jaringan internasional untuk melindungi pendistribusiannya ke tiap negeri. Dan ia mendapatkan keuntungan yang besar dari setiap pendistribusian tersebut. Katakanlah ia seorang mafia narkoba di negeri timur. Ia memegang kendali atas lajunya pendistribusian obat-obatan terlarang. Tak ayal ia banyak kenal dengan pejabat yang berkepentingan.
"Seperti apa yang Anda harapkan, Tuan. Semua berjalan lancar," jawab salah satu anak buahnya.
Oda mengangguk. "Itu bagus. Secepatnya kita musnahkan generasi yang ada di negeri ini. Tak sabar rasanya mendapatkan imbalan yang besar dari MAMA yang ada di sana." Ia tampak mengusap-usap tangannya.
Oda adalah orang yang disegani. Bahkan panglima tinggi sekalipun tidak berani mengusiknya. Ia kaya raya dan juga banyak uang. Terlebih ia memiliki pasukan tersembunyi yang bisa menyerang target sasaran. Oda kadang tidak bisa terdeteksi sedang ada di mana. Ia mempunyai seribu wajah.
Peredaran obat terlarang yang dilakoninya sudah mencapai puluhan tahun. Ia juga sering berpindah tempat dari negara ke negara dalam tiap bulannya. Sistem kerja yang tak menentu itu membuatnya harus melajang dan menderita kesepian. Tapi ia cukup mampu untuk menyewa beberapa wanita panggilan. Tentunya uang yang ia punya sudah milyaran dolar. Oda pun tidak pernah takut terhadap suatu penolakan. Karena ia bisa dengan mudah menghabisinya.
__ADS_1
"Tuan Oda." Tak lama anak buahnya pun datang menghadap.