
"Selamat pagi, Tuan Hanzi. Senang bisa bertemu denganmu." Seorang pria bersama keempat anak buahnya memasuki ruangan. Saat itu juga pria yang merupakan atasan dari dua pengawal itu berdiri.
"Ada apa kau kemari?" Ruangan itupun jadi sesak karena berisi banyak orang.
Seseorang itu tersenyum tipis. "Tidak mungkin aku datang tanpa alasan, Tuan. Kedatanganku ke sini karena ingin mengajak Anda bekerja sama. Tentunya uang yang di dalam koper itu tidaklah ada apa-apanya," terang seseorang itu kepada Hanzi.
Hanzi adalah seorang pejabat tinggi negara. Ia ketua dari Dewan Perwakilan Rakyat yang ada di sana. Ia menolak untuk bertemu dengan siapapun. Tapi saat melihat sekoper uang yang ada di hadapannya, ia jadi luluh dan mau menerima tamu. Dan kini pertemuan itu terjadi di ruangannya.
Lalu siapakah pria yang bertemu Hanzi pagi ini? Mengapa ia membawa sekoper uang hanya untuk menemui Hanzi?
__ADS_1
Belasan menit kemudian...
Terjadi negosiasi sengit di dalam ruangan. Sang tamu tampak kesal karena Hanzi menolak tawarannya. Tapi ia tidak kehabisan akal.
"Anda akan menyesal jika menolak tawaran ini, Tuan Hanzi," ucap seseorang yang merupakan pimpinan dari tamu tersebut.
"Aku khawatir tawaranmu itu akan membahayakanku. Terlalu berisiko," sahut Hanzi. Pria tua itu menolak mentah-mentah tawaran yang diberikan padanya.
"Em, maaf. Aku terlalu jujur bicara." Tamu itu akhirnya meminta maaf. "Begini, Tuan. Anda punya kekuasaan, kekuatan, harta dan tahta. Apa yang Anda takutkan sedang semuanya berjalan di genggaman Anda?" rayu tamu tersebut. "Anda bisa saja dengan mudah memerintahkan beberapa pihak untuk bekerja sama lalu membagi V kepada mereka. Setahuku tidak ada yang tidak menginginkan uang di pemerintahan. Jika Anda menolak, maka sayang sekali, aku akan memberikan proyek ini kepada yang lain." Tamu tersebut menakutu Hanzi.
__ADS_1
Hanzi tampak diam. Ia berpikir ulang mengenai tawaran yang diberikan. Ada kalanya ia membenarkan perkataan tamu tersebut. Ada kalanya ia juga merasa cemas jika membuat kesepakatan. Karena bagaimanapun kabar kematian menteri keuangan itu membuatnya gemetaran. Ia khawatir menjadi target sasaran.
"Baiklah, aku akan membebaskan barang kalian masuk ke negeri ini. Tapi pajak yang kuminta 25% dari total barang jika diuangkan." Hanzi akhirnya memutuskan.
"Baiklah. Aku setuju. Permintaanmu dikabulkan, Tuan Hanzi. Nanti malam timku segera bergerak ke pelabuhan," tutur tamu tersebut.
Tamu itu adalah seorang penyelundup narkoba yang bekerja sama dengan jaringan internasional untuk menyelundupkan barang-barang mereka ke berbagai negeri. Ia pun mendatangi Hanzi untuk meminta izin. Dan tentu saja mereka berani membayar mahal agar barang sampai ke tujuan. Tak lain tak bukan untuk memuluskan usaha mereka. Mereka mempunyai misi tersembunyi.
Lantas apakah Hanzi akan menjadi salah satu sasaran operasi kelompok perampok bertopeng? Akankah mereka mengetahui kerja sama yang Hanzi lakukan?
__ADS_1
Malam harinya...
Berkilo-kilo tepung sagu itu masuk ke salah satu pelabuhan yang ada di dalam negeri. Tanpa ada kendala sama sekali. Kedatangannya disambut hangat oleh orang-orang berbadan kekar yang ada di sana. Lokasi pelabuhan juga tampak sepi dari nelayan ataupun pelaut yang berlayar. Transaksi tepung sagu itu berjalan mulus malam ini. Puluhan kilo shabu memasuki area dalam negeri.