
Sebuah organisasi tersembunyi menargetkan untuk merusak anak-anak negeri. Mereka bekerja sama dengan mafia narkoba untuk menyalurkan puluhan kilo shabu tersebut. Dan tentu saja dengan uang yang mereka punya, tidak ada yang bisa menghentikan ulah mereka. Mereka dengan mudah menyelundupkan barang ke dalam negeri untuk kemudian didistribusikan kembali. Tentunya dengan meraup keuntungan yang lebih besar lagi.
Mereka juga menargetkan agar para pejabat pemerintahan terlebih dahulu yang mencicipinya. Barulah mereka akan memasarkannya ke pelosok negeri. Yang mana pejabat pemerintahan akan mendapatkannya secara gratis. Sepuluh gram pertama gratis untuk masing-masing pejabat yang bermain di transaksi ini. Sedang jika ingin mendapatkan lebih, mereka harus membayarnya tunai. Tentunya transaksi sudah diatur sedemikian rupa. Sang mafia pun hanya menerima keuntungannya saja. Negeri Iko sudah porak-poranda.
Esok paginya di markas kepolisian intelijen...
Pagi-pagi Hara didatangi Naga di ruangannya. Yang mana Naga baru saja membaca dokumen yang diterimanya kemarin. Dokumen itu berisi tentang praduga atas apa yang terjadi. Dokumen itu juga berisi penemuan-penemuan penting tentang barang bukti yang sempat lewat dari proses bea cukai. Naga pun segera menceritakannya kepada Hara di ruangan.
"Hara, aku terima kabar puluhan kilogram shabu-shabu masuk ke negeri ini." Naga mengabarkan.
"Apa?!" Sontak Hara pun tak percaya. Ia menghentikan aktivitasnya yang sedang membuat laporan.
"Benar. Dokumen dari kepolisian negeri tetangga mendeteksi jika negeri ini akan kemasukan puluhan kilogram shabu-shabu. Mereka tidak sempat menangkap karena sudah memasuki wilayah perairan kita." Naga menjelaskan.
__ADS_1
"Mengapa tidak langsung saja memberitahukannya kepada pemimpin negeri ini?" Hara pun jadi bingung sendiri.
"Tidak bisa, Hara. Belum ada bukti konkrit untuk melaporkannya. Mereka masih menduga karena terlambat melihatnya. Jalur perairan yang dipakai menggunakan jalur pasar gelap. Aku curiga ada pejabat yang bermain dalam hal ini." Naga menduganya.
Hara menarik napas dalam-dalam. "Jika di pihak atas saja sudah melakukan penyelewengan, bagaimana dengan rakyatnya?" Hara berbicara sendiri.
"Saat ini tim kepolisian sedang menginvestigasi kabar burung tersebut. Dan belum ada kejelasan sampai sekarang. Apakah kita harus menyamar untuk membuktikannya sendiri?" tanya Naga kepada seniornya.
"Kalau begitu kita akan terlambat menangkap penjahatnya kalau menunggu surat perintah itu." Naga tampak kesal sendiri.
"Begitulah, Naga. Kita tidak mempunyai wewenang tanpa surat tugas dari atasan. Masalahnya yang aku takutkan..."
"Takutkan?" Naga menunggu.
__ADS_1
"Ada pihak atasan yang juga bermain dalam hal ini," kata Hara yang membuat Naga terkejut seketika.
"Astaga ...." Naga pun mengusap kepalanya.
Hara menggelengkan kepalanya. "Kita tunggu saja sampai sore ini. Semoga surat tugas itu akan kita dapatkan segera." Hara berharap.
Naga mengangguk. Ia juga mempunyai harapan yang sama dengan Hara. Tapi ia tahu jika tidak bisa bertindak tanpa surat tugas dari atasan. Area pekerjaannya terbatasi oleh perintah. Maka dari itu mereka juga tidak berani melampaui batasannya. Mereka hanya bisa menunggu surat perintah itu dikeluarkan untuk menyelidiki hal yang sebenarnya.
Lantas apakah transaksi puluhan kilogram tepung sagu itu mampu terungkap? Dan apakah perampok bertopeng juga berhasil mengetahuinya?
Di markas para hacker...
Bram dan Hans datang ke markas para hacker pagi ini. Mereka memberikan senjata kepada pihak hacker untuk melindungi diri dari bahaya. Afgan dan Ifdan pun menerimanya. Tampak puluhan senjata diterima pagi ini.
__ADS_1