
"Lalu apa yang akan kalian lakukan di sana?" tanya Afgan lagi.
"Tentu saja kami akan menghabisi pejabat negara yang menjual tambang emas milik negeri ini ke pihak asing. Juga beserta antek-anteknya," tutur Hans lagi.
"Baiklah. Tapi bukannya pihak mereka menggunakan sistem pengamanan yang berlapis? Setahuku untuk urusan data, mereka menggunakan cyber dari luar. Kami membutuhkan beberapa orang tambahan untuk mengacak sistem keamanan mereka. Tentunya yang ahli dalam bidang ini." Iko ikut bicara.
"Itu benar. Di saat satu orang membuka jaringan, satu orang harus dengan cepat mengacak sistem keamanan agar posisi kita tidak sampai terlacak. Sedang di saat yang bersamaan satu orang yang lain harus segera mencari data yang dimaksud. Masalahnya, kadang hanya memiliki satu pengacak sistem bisa membuat kami kewalahan. Kami khawatir saat itu diserang hingga terjadi pemblokiran jalan. Jadi setidaknya kami membutuhkan satu orang tambahan untuk mengacak sistemnya. Sehingga jika satu diserang, satunya lagi bisa bertahan. Itu lebih aman." Afgan memaparkan.
"Baiklah. Aku setuju. Tapi kami sendiri tidak mempunyai link untuk menemukan orang tersebut. Jadi kalian bisa mengaturnya sendiri, tentunya dengan imbalan yang lebih besar. Aku harap diskusi malam ini bisa menghasilkan keputusan yang benar." Bram menambahkan.
__ADS_1
"Baiklah. Aku setuju." Iko pun menyanggupi.
"Bagaimana kau, Deni? Ifdan?" tanya Afgan ke kedua temannya.
"Aku ikut saja." Mereka pun tampak setuju.
Pada akhirnya kesepakatan itu diraih. Kedua kelompok penjahat itu bersatu padu untuk meruntuhkan pejabat yang korup. Sebagian bertindak langsung di lapangan, sebagian yang lain beraksi di balik layar. Namun, apakah kenyataan akan semudah teorinya? Sedang kebanyakan praktik itu sangat sulit dilakukan. Mampukah Iko dan teman-temannya meretas jaringan pengamanan negara?
Perjanjian kerja sama telah disepakati. Kini tampak keadaan markas sudah sepi. Hujan pun tiba-tiba mengguyur hutan di luar. Sesaat setelah kelompok perampok bertopeng meninggalkan markas besar. Dan kini baik Iko, Deni maupun Ifdan dan Afgan tampak melakukan rapat sebentar. Di tengah hujan yang turun semakin lebat.
__ADS_1
"Kita membutuhkan seorang wanita untuk membantu menjalankan operasi ini. Jadi aku minta kau mengizinkan istrimu untuk ikut serta, Iko, " kata Afgan kepada Iko.
"Apa?!" Seketika itu juga Iko terkejut.
"Kita tidak punya pilihan lain. Operasi ini akan sangat fatal jika terjadi kesalahan sekecil apapun. Jika kita menyewa wanita dari luar untuk ikut operasi ini, aku khawatir wanita itu berkhianat lalu membocorkan operasi ini kepada pejabat tinggi negara. Maka bisa dipastikan kita akan mati di dalam penjara." Afgan menerangkan.
Iko pun terus berpikir. Deni kemudian mendekati Iko.
"Kita membutuhkan seseorang untuk memperlancar aksi mereka di lapangan. Tidak mungkin mereka bisa sampai mengenai sasaran jika tidak ada mata-mata di pertemuan itu. Dan aku rasa istrimu lah yang paling cocok untuk mengambil alih peran ini. Dia pasti tahu apa yang harus dilakukan tanpa perlu membuka jati dirinya di hadapan hadirin pertemuan. Karena jika orang luar, itu sangat berisiko tinggi." Deni memaparkan.
__ADS_1
Perampok bertopeng merencanakan pembunuhan terhadap pejabat tinggi negara yang menjual tambang emas ke pihak asing. Mereka juga akan memberi pelajaran kepada pejabat yang mengorupsi uang pajak rakyatnya. Mereka tidak akan diam saja saat penyelewengan demi penyelewengan terjadi. Mereka akan menuntut keadilan dengan caranya sendiri. Tentunya dengan membasmi tikus-tikus pemerintahan demi kemakmuran negeri. Mereka berani menanggung semua risikonya. Tak lain tak bukan untuk kesejahteraan bersama.