CINTA DAN KRIMINAL

CINTA DAN KRIMINAL
Takut


__ADS_3

Setengah jam kemudian...


Pertemuan Nana dan Naga akhirnya tidak bisa terelakan. Dan karena ingin menjaga semuanya, Nana menawarkan mengobrol di restoran yang ada di bawah apartemen. Naga pun menyetujuinya. Ia kemudian ke restoran bawah bersama Nana. Dan akhirnya terjadilah percakapan di antara mereka.


"Em, maaf. Aku terpaksa ke apartemenmu karena ada hal yang ingin kutanyakan," kata Naga ke Nana, yang mana membuat debaran jantung di dada Nana melaju cepat. Ia khawatir penyamarannya akan terbongkar.


Nana diam dan hanya mengangguk saja.


"Em, begini. Waktu itu aku melihatmu masuk ke dalam mobil box sebuah makanan cepat saji. Aku jadi heran kenapa kau masuk ke sana. Dan setelah kucari tahu, kau memang menyewa mobil itu atas namamu. Kalau boleh tahu, kenapa kau datang ke acara pertemuan dengan menggunakan mobil itu?" tanya Naga segera yang membuat jantung Nana semakin berdebar kencang seketika.


Nana menarik napas dalam-dalam. Ia berusaha bersikap netral agar tidak ketahuan. Sementara itu Naga masih menunggunya bicara.

__ADS_1


"Aku tidak punya mobil pribadi dan hanya punya uang untuk menyewa mobil itu. Jadi aku datang ke pertemuan dengan menggunakan mobil itu saja. Mungkin Anda merasa sedikit aneh, Tuan. Tapi sungguh aku ingin datang ke acara karena sudah menjadi impianku sejak lama. Aku ingin berada di antara kalangan pejabat negeri ini." Nana menuturkan.


Tampak Naga yang menelaah jawaban Nana. "Aku pun tahu alamat apartemenmu dari daftar penyewa mobil itu. Apakah kau tinggal sendiri di apartemen?" tanya Naga lagi. Sontak Nana menelan ludahnya. Ia tahu jika sedang diselidiki.


"Em, Tuan. Apakah Anda mencurigaiku? Aku rasa apa yang Anda tanyakan seolah-olah menyudutkanku. Seakan memintaku untuk mengakui apa yang tidak pernah aku lakukan." Nana tidak habis pikir.


Saat mendengarnya, saat itu juga Naga tertawa. "Em, maaf. Mungkin aku terbiasa mencecar penjahat jadi intonasi bicaranya seperti ini." Naga meminta maaf. Ia kemudian menjulurkan tangannya kepada Nana. "Aku Naga, Naga Sakti. Aku seorang intel di kepolisian negeri ini. Senang bertemu denganmu." Naga mengajak Nana berjabat tangan.


"Em, sepertinya aku masih banyak kerjaan, Tuan. Bisakah kita bertemu di lain hari? Tugasku sangat menumpuk dan harus segera disetorkan." Nana ingin mengakhiri pertemuannya.


Naga melihat ke luar restoran yang mana tiba-tiba rintik hujan mulai turun. "Di luar masih gerimis, Nona. Sebaiknya tunggu hujannya reda saja," pinta Naga yang khawatir Nana kebasahan.

__ADS_1


"Em, aku bisa lewat pinggir terasnya, Tuan." Nana melihat jam di tangannya. "Sudah pukul sebelas siang. Aku permisi ya." Nana pun lekas-lekas berpamitan kepada Naga. Saat itu juga Naga hanya bisa mengiyakannya saja.


Dia seperti ingin menghindariku.


Naga pun merasa jika Nana ingin menghindarinya. Ia jadi berkecil hati dengan sikapnya sendiri. Yang mana membuat Nana merasa tidak nyaman. Naga pun melihat Nana yang segera pergi meninggalkannya. Ia hanya bisa diam saat Nana menolak kehadirannya. Naga kecewa.


Kamera CCTV yang ada di gedung pertemuan ternyata melihat Nana masuk ke dalam mobil box saat peristiwa itu terjadi. Yang mana Naga segera mencari tahu pemilik dari mobil tersebut. Alhasil didapatkan informasi jika Nana lah yang menyewanya. Yang mana sewa mobil tersebut membutuhkan identitas tempat tinggal yang sekarang. Alhasil Naga pun akhirnya mengetahui di mana Nana tinggal. Tapi ia belum tahu Nana tinggal di apartemen bersama siapa. Nana masih menutupi jati dirinya.


Terlepas dari itu, kekhawatiran di dalam hati Nana semakin bertambah besar. Ia khawatir penyamarannya akan diketahui pihak kepolisian. Dan tentu saja akan banyak pihak terkait yang menjadi sasaran. Nana pun segera kembali ke apartemennya untuk menghubungi Iko segera. Ia ingin pindah tempat tinggal saja.


Lantas apakah Naga akan terus mengejar Nana? Lalu apakah Nana akan menceritakan jika dia sudah menikah dengan seorang pria?

__ADS_1


__ADS_2