
Di lain tempat...
Dua orang berompi anti peluru terlihat sedang melihat email masuk di laptopnya. Keduanya berada di depan meja kerja sambil membaca isi dari email itu. Ialah Hara dan Naga yang tampak sedang memerhatikan laporan terkini. Keduanya begitu antusias dalam membaca.
"Bank Nusantara melaporkan telah terjadi pencurian saldo rekeningnya. Dan ini sudah yang ke dua kalinya." Naga tak percaya dengan isi email yang dibacanya.
Hara beranjak pergi. Ia menuju meja teh yang ada di sana. "Biarkan saja. Jumlah yang terambil juga sedikit." Hara membuat secangkir kopi pagi ini.
"Tapi ini tidak bisa dibiarkan. Sebagai alat negara kita tidak boleh tinggal diam, Hara." Naga menekankan ucapannya.
Hara menghirup aroma kopi yang baru saja ia buat. "Ke mana tim IT mereka? Mengapa tidak bisa melindungi saldo rekeningnya sendiri?" Hara menanyakannya.
Naga tertegun. Ia tampak memikirkan ucapan Hara.
__ADS_1
Naga dan Hara adalah intel di bawah naungan kepolisian negara. Keduanya bekerja di balik layar untuk menemukan siapa pelaku dari tindak kejahatan. Tapi mereka juga tak jarang terjun langsung ke lapangan. Semua itu sesuai dengan pesanan. Dan orang-orang yang mempekerjakan mereka bukanlah orang sembarangan. Hanya pejabat tinggi yang banyak uang saja yang bisa memakai jasa mereka.
"Aku masih menunggu pembobolan rekening selanjutnya. Kenapa tidak bank negara saja yang mereka kuras uangnya?" Hara bertanya sendiri.
"Mungkin mereka memang mengincar bank kecil." Naga menuturkan.
Hara kemudian duduk di hadapan Naga. "Bank kecil juga pasti mempunyai tim pelindung sendiri. Sehingga rasanya tidak mungkin bisa kebobolan. Terkecuali tim pelindung itu bekerja sama dengan pihak luar. Data bisa dengan mudah diretas." Hara memaparkan.
Naga tertegun.
Naga jadi mengerti.
"Jadi ada baiknya kita bekerja sesuai pesanan saja. Jangan ikut campur yang bukan ranah urusan karena hal itu hanya akan sia-sia." Hara memberi saran.
__ADS_1
Hara lebih senior dari Naga. Keduanya sudah bekerja sama selama kurang lebih tiga tahun terakhir ini. Dan Hara hanya menerima kasus yang berat-berat saja. Dengan imbalan yang lebih besar tentunya. Ia malas menerima kasus kecil dengan imbalan yang sedikit. Hara merasa hal itu hanya membuang-buang waktunya. Berbeda dengan Naga yang antusias menanggapi segala kasus. Namun, walaupun mereka berbeda pandangan, mereka tetap aset kepolisian yang berharga.
Malam harinya di apartemen Iko...
Malam ini Iko akan beraksi lagi. Tampak dirinya yang tengah bersiap-siap untuk pergi ke markas hacker tersembunyi. Nana pun melihat apa saja yang Iko masukkan ke dalam tasnya. Masker anti racun udara, pistol enam peluru dan beberapa granat mati. Nana pun jadi seram sendiri.
"Ini semua alat pelindungmu?" tanya Nana tak percaya.
Iko mengangguk. "Aku akan pulang besok pagi, atau juga bisa menjelang sore. Siapapun yang datang tolong jangan dibukakan pintu. Waspadalah." Iko berpesan. Nana pun segera mengiyakan.
Atmosfer sekitar terasa mencekam manakala pesan itu diucapkan Iko. Nana pun merasa kurang nyaman dengan keadaan. Tapi mau tak mau ia harus menerimanya. Tak lain tak bukan karena sudah terikat oleh Iko. Iko sudah mengikatnya semalam.
"Aku berangkat."
__ADS_1