
Nana di mana dirimu?
Lantas ia pun segera pergi ke resepsionis gedung ini. Ia ingin menanyakan keberadaan Nana dan kunci apartemen. Iko cepat bertindak untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya. Ia tidak bisa tinggal diam karena Nana adalah wanita yang berharga baginya. Ia khawatir Nana kenapa-napa.
Esok paginya di desa...
"Kenapa aku mual-mual seperti ini ya?"
Mentari baru saja terbit di ufuk timur, tapi Nana sudah harus bolak-balik ke kamar mandi karena rasa mual yang menerjangnya. Tak biasanya ia seperti ini. Pikiran tentang sesuatu itupun terbayang di benaknya. Nana khawatir terjadi sesuatu pada dirinya.
"Apakah aku hamil? Ya Tuhan, aku benar-benar takut jika anak ini bukanlah anak Iko," liriknya sedih. Ia berdiri di dapur sambil memikirkan hal ini.
"Jadi maksudmu anak siapa, Nana?" tanya seseorang dari belakang yang tiba-tiba mengejutkan Nana.
__ADS_1
Astaga!
Saat itu juga jantung Nana berdebar sangat ketakutan. Ia tahu persis suara siapa yang menyapanya. Ia pun membalikkan tubuhnya untuk menghadap sesorang yang tiba-tiba saja sudah masuk ke rumah gubuknya. Dan ternyata memang benarlah apa yang dipikirkannya.
"I-Iko ... kau datang ke sini?"
Nana pun terbata-bata menanyakannya. Keringat dingin mulai bermunculan di dahinya. Seseorang yang memang benar adalah Iko itu pun segera mendekati Nana. Ia mengusap keringat di dahi istrinya.
"Apa yang sedang kau bicarakan? Kita ke dokter saja untuk periksakan kondisi kesehatanmu ya?" Iko menawarkan.
Iko tersenyum. Ia tidak punya pikiran buruk sama sekali kepada istrinya. "Baiklah kalau begitu. Hari ini aku akan mengabarkan sesuatu padamu," kata Iko lagi.
"Mengabarkan sesuatu? Apakah kabar baik?" tanya Nana yang mengalihkan rasa mualnya sendiri.
__ADS_1
Iko mengangguk. "Aku sudah membicarakan hal ini dengan teman-temanku. Dan kami memutuskan untuk pensiun dini dari bidang peretasan. Jadi kita bisa pergi ke luar negeri sekarang. Kita akan memulai kehidupan baru di sana." Iko mengabarkan.
"Sungguh?!!" Saat itu juga Nana senang bukan kepalang.
"Kita pergi sekarang. Semuanya sudah kupersiapkan. Apartemen juga sudah kujual. Sedang gubuk ini akan kuhibahkan kepada panti asuhan. Kau setuju, bukan?" tanya Iko kepada Nana.
Betapa senang hati Nana mendengar kabar yang Iko sampaikan. Akhirnya kehidupan baru itu akan segera dimulai. Iko telah mempersiapkan semuanya. Dan kini tinggal berangkatnya saja.
Ya Tuhan, aku jadi malu. Setelah apa yang kulakukan, KAU masih memberiku kebahagiaan. Terima kasih, Tuhan.
Lantas mereka pun segera pergi meninggalkan gubuk itu. Nana dan Iko akan berangkat sekarang juga. Mereka akan memulai kehidupan baru di sana dengan penuh cinta kasih yang abadi. Mereka memutuskan untuk pindah ke luar negeri.
Sementara itu di markas kepolisian...
__ADS_1
Kenaikan pangkat akhirnya diraih oleh Naga dan Hara atas dedikasinya selama ini. Keduanya pun akan mendapat lingkungan kerja baru di kota yang baru. Mereka dimutasi ke timur negeri ini untuk mengemban tugas dengan pangkat yang lebih tinggi. Dan tentu saja dengan tunjangan dan gaji yang lebih memadai. Tapi ternyata kenaikan pangkat itu tidak menggembirakan hati Naga. Ia tampak diam dan tidak bergairah. Hara pun mendekatinya.
"Kau sedang ada masalah?" tanya Hara kepada Naga.