
Beberapa jam kemudian di markas para hacker...
"Ada apa kau menyuruhku datang ke markas, Den? Bukankah tugas kita sudah selesai semalam?" tanya Iko kepada Deni.
"Dengarkan aku dulu," pinta Deni ke Iko.
Tampak keadaan markas yang sepi malam ini. Hanya ada Deni dan Iko di sana. Sedang Ifdan dan Afgan sedang pergi ke luar. Deni pun tampak segera menceritakan apa yang ia dengar. Tampak Iko yang terkejut mendengarnya.
"Kau yakin, Den?" tanya Iko memastikan.
Deni mengangguk. "Telah ada kerja sama antara pimpinan dewan dan juga jaringan internasional dalam memasukkan tepung sagu ke negeri ini. Tidak ingat kah kau bagaimana efek yang ditimbulkannya? Teman kita sendiri mengalami OD karena hal itu." Deni mengingatkan akan teman seperjuangan Iko yang harus merenggang nyawa karena overdosis obat-obatan terlarang.
__ADS_1
"Lalu apa rencanamu?" tanya Iko segera.
"Aku ingin ikut terjun ke lapangan. Pastinya orang itu juga datang di pertemuan. Aku ingin membalaskan dendam," tutur Deni.
"Tidak. Kau tidak boleh ikut ke sana. Area sangat berbahaya untuk yang belum berpengalaman. Aku sudah meminta teman-teman organisasi untuk ikut andil ke pertemuan. Kau di sini saja bersama yang lainnya, membantu kami operasi di lapangan," pinta Iko.
Saat itu juga Deni jadi berpikir tentang kata-kata Iko. "Apakah ini berarti kau akan ikut turun ke lapangan?" tanya Deni kemudian.
Iko menggelengkan kepalanya. "Aku belum tahu. Sampai saat ini juga aku belum bilang kepada Nana tentang operasi besar yang sebentar lagi akan dilakukan. Aku cemas. Aku khawatir." Iko mengungkapkan kegelisahan yang ada di hatinya.
Iko terdiam. Ia menarik napas dalam-dalam. Ada kekhawatiran yang besar pada hatinya. Deni pun menyadari. Ia kemudian mengajak Iko untuk minum bersama.
__ADS_1
"Baiklah. Kita minum sebentar. Mungkin bisa sedikit meredakan rasa cemasmu. Aku juga akan memberi tahumu bagaimana cara untuk mengatakannya kepada Nana." Deni berjanji.
Di malam yang semakin larut ini akhirnya kedua sahabat seprofesi itu berbincang sebentar. Deni pun mengajarkan kepada Iko bagaimana cara mengatakannya kepada Nana. Tentang meminta bantuan Nana untuk ikut serta ke pertemuan. Iko pun mendengarkannya.
Tak lama lagi operasi besar akan dilakukan. Iko pun harus segera menanyakan kepastian tentang keikutsertaan Nana. Tapi, apakah Nana mau ikut membantunya? Mereka baru saja menjadi pengantin baru. Haruskah terlibat dengan operasi besar seperti ini?
Pukul dua dini hari...
Iko pulang ke apartemennya dan disambut hangat oleh Nana. Kehidupan pasca pernikahan sungguh berbeda mereka rasakan. Iko jadi lebih jarang pulang ke rumah. Nana pun jadi bertanya-tanya tentang apa yang Iko lakukan di luar sana. Dan pada akhirnya Iko pun menceritakan apa alasannya.
"Jadi akan ada operasi besar tak lama lagi?" tanya Nana kepada Iko. Wanita berdaster biru itu tampak menanyakannya.
__ADS_1
Iko mengangguk. "Akhir-akhir ini aku memang sibuk bolak-balik ke markas dan juga ke tempat organisasi yang dulu. Aku harus memikirkan hal ini matang-matang." Iko mengungkapkan alasannya.
Nana jadi prihatin. "Apakah ada sesuatu yang bisa kubantu agar beban di pundakmu sedikit berkurang?" tanya Nana. Ia ternyata menawarkan bantuan kepada suaminya.