
Tujuan organisasi perampok bertopeng sangat jelas. Memusnahkan hama negara dan berbagi hasil rampokan menjadi tujuan utama mereka saat ini. Mereka tidak tega melihat ibu-ibu yang kelaparan hanya karena berbagai sesuap nasi dengan anaknya. Mereka juga tidak tega melihat anak jalanan yang semakin maraknya. Sedang para pejabat negara berfoya-foya memakai uang rakyatnya. Mereka tidak bisa membiarkan itu semua.
"Aku tidak yakin senjata sebanyak ini bisa kita letakan di gudang persenjataan organisasi, Bram." Hans melihat begitu banyak senjata yang berhasil mereka ambil.
"Ya, aku juga begitu. Tapi setengah dari senjata ini bisa kita taruh di gudang bawah tanah. Sepertinya bisa untuk persediaan selama dua tahun ke depan." Bram berpikir demikian.
"Lalu bagaimana dengan para hacker? Apa mereka kita beri senjata juga nanti?" tanya Hans.
"Tentu saja. Mereka adalah saudara kita sekarang. Mereka juga harus mempunyai senjata pelindung. Aku rasa pelatihan tiga tahun pertama yang mereka jalani, mampu membuat mereka menggunakan senjata dengan baik," pikir Bram.
"Kalau begitu kita tinggal mempersiapkan diri saja. Satu minggu lagi pertemuan para pejabat tinggi akan diselenggarakan. Aku harap akan berhasil maksimal." Hans penuh harap.
__ADS_1
"Aku yakin kita bisa membalaskan dendam para leluhur kepada mereka." Bram mengajak Hans berjotos tangan.
Hans dan Bram merupakan anggota awal kelompok bertopeng yang sudah menjalani didikan militer sejak remaja. Keduanya telah berusia kepala tiga yang merupakan orang paling disegani dalam kelompok mereka. Katakanlah tanpa Bram dan Hans, organisasi perampok bertopeng itu tidak akan pernah ada. Maka dari itu mereka yang mengatur semuanya. Sedang Odi dan yang lainnya hanya menunggu perintah. Pemikir ada pada Bram dan Hans.
Kali ini mereka akan menyiapkan diri sebelum melakukan operasi besar. Mereka pun memulai latihan fisik dengan berlari kencang di treadmill ataupun mengangkat besi puluhan kilo beratnya. Semua itu agar tubuh mereka lincah saat beroperasi. Karena mereka akan menyelinap di tengah pengamanan yang ketat. Lalu akankah misi mereka berhasil? Bagaimana dengan semua pihak yang terlibat?
Sementara itu di perbatasan kota...
"Aku tidak habis pikir siapa dalang dari semua ini. Tidak mungkin hal ini dilakukan secara sendiri ataupun pribadi. Pastinya berkelompok yang sudah lama terjun di bidang ini. Mereka sangat berpengalaman sampai tidak meninggalkan jejak sama sekali. Tapi..."
"Lapor, Letnan! Ada seseorang yang ingin bertemu dengan Anda." Tiba-tiba salah satu polisi berpangkat rendah menghampiri Naga yang sedang mengecek lokasi kejadian perkara.
__ADS_1
"Siapa?" tanya Naga segera.
"Sepertinya utusan dari negeri seberang," tutur polisi tersebut. Naga pun segera menemui siapa yang dimaksud.
"Senang berjumpa denganmu, Letnan," ucap seseorang yang menyalami Naga.
"Siapa kau dan ada perlu apa ke sini?" tanya Naga segera.
"Aku Andra, utusan negeri tetangga. Aku diperintahkan untuk menyerahkan dokumen ini kepada Anda," ucapnya sambil menyerahkan dokumen kepada Naga.
"Baik. Terima kasih." Naga pun menerimanya.
__ADS_1
Selepas memberikan dokumen tersebut, utusan itupun segera berpamitan lalu pergi meninggalkan Naga yang sedang mengecek TKP. Sementara Naga sendiri segera menyimpan dokumen yang diterimanya. Ia belum sempat membacanya.