
"Aku tidak boleh ikut?" tanya gadis bermata lentik itu.
Ifdan tersenyum. "Aku akan bekerja malam ini. Jadi turuti saja permintaanku, Gadis. Aku tidak akan meninggalkanmu. Aku pergi untuk kembali." Ifdan meyakinkan.
Sarah tersenyum. Ia kemudian memeluk Ifdan. "Aku tunggu kau di sini." Sarah berharap kepada Ifdan.
Ifdan mengangguk. Ia pun mengusap rambut Sarah yang panjang. Ia memeluk erat seseorang yang sudah dikenalnya lama. Bahkan mereka pernah satu sekolah bersama. Ya, Ifdan dan Sarah merupakan teman satu SMA. Mereka menjalin kisah kasih di sekolah hingga kesibukan memisahkan mereka. Dan akhirnya benang takdir kembali mempertemukan mereka ke jenjang yang lebih serius lagi.
Lain Ifdan dan Sarah, lain pula dengan Nana di apartemennya. Ia baru saja mengantarkan Iko berangkat ke markas para hacker. Transaksi itu akan kembali dilakukan malam ini. Nana pun segera menutup pintu selepas mengantarkan Iko. Yang mana tak lama bel apartemennya berbunyi kembali.
Nana sendirian di apartemen. Di tengah hujan yang semakin lama semakin lebat ini, ia mencoba memasak air untuk menyeduh teh. Tapi, baru saja menghidupkan kompor, suara bel apartemen itu terdengar. Nana pun mematikan kompor kembali lalu menuju pintu untuk melihat siapa yang datang.
Mungkinkah ada barang yang ketinggalan?
__ADS_1
Mau tak mau Nana tertuju pada Iko yang kembali pulang karena ada barang yang ketinggalan. Ia pun lekas membuka pintu dengan semburat senyum dari wajahnya. Namun, saat membuka pintu, saat itu juga jantungnya berdegup kencang. Ternyata bukanlah Iko yang kembali pulang. Melainkan...
"Selamat malam, Nona Nana."
Ialah Naga yang kembali datang ke apartemen Nana malam ini. Sontak Nana pun tidak punya persiapan untuk menerima kedatangan Naga.
"Anda ...?" Nana terlihat gugup sekali.
Nana menelan ludahnya. Ia bingung harus bagaimana.
"Sebentar saja. Lagipula aku tidak akan berbuat macam-macam di sini." Naga meyakinkan Nana.
Nana merasa bingung jika ingin menolak kehadiran Naga lagi. Ia berpikir pasti Naga akan mencurigainya jika selalu menolak kehadirannya. Pada akhirnya Nana pun mempersilakan Naga untuk masuk ke apartemennya. Naga pun tersenyum seraya berjalan masuk ke apartemen Nana. Tanpa menyadari apa yang akan terjadi selanjutnya.
__ADS_1
Naga duduk di sofa tamu apartemen Nana. "Kau tinggal sendiri di sini?" tanya Naga kepada Nana.
Saat mendengar pertanyaan Naga, saat itu juga Nana menjadi panik. Ia bingung harus berkata jujur atau bohong kepada Naga. Karena pastinya jika jujur, Naga akan mengorek informasi tentang peristiwa di malam itu. Nana akhirnya mengalihkan perhatian Naga.
"Em, sebentar. Aku buatkan minuman dulu."
Nana pun berpamitan membuatkan minuman untuk Naga. Naga yang notabene seorang polisi pun merasa tingkah laku Nana seperti tidak umumnya. Gerak-gerik Nana seperti ingin menghindari pertanyaan darinya.
Sebenarnya apa yang dia sembunyikan? Kenapa mencurigakan sekali?
Naga pun mulai curiga kepada Nana. Tapi ia belum dapat membuktikan apa-apa. Petir yang menyambar seolah menjadi saksi dirinya yang memerhatikan sikap Nana. Sedang Nana mulai gelisah dengan keberadaan Naga di apartemennya. Sampai-sampai ia tanpa sengaja menjatuhkan gelas tehnya.
"Aw!"
__ADS_1