
Sore harinya di markas Oda...
Kabar tentang kematian Hanzi tentu saja membuat Oda kalang kabut sendiri. Bagaimana tidak, penyelundupan tepung sagunya harus terhenti manakala tidak ada lagi pejabat tinggi yang dapat memberi keamanan untuk terus mendistribusikan sabu-sabu itu. Dan tentu saja hal ini membuat Oda murka dan menderita kerugian yang besar. Ia pun tampak marah tak terkendali.
"Sial! Bagaimana bisa Hanzi terbunuh?! Bagaimana dengan jalannya distribusi sabu milikku? Bisa-bisa aku tertangkap kali ini."
Di sebuah ruangan yang minim pencahayaan, Oda marah-marah sendiri. Ia tak menyangka jika pelindung dari semua pendistribusian sabunya akan mati. Tak ayal Oda pun harus berpikir ulang untuk meneruskan penyelundupan barang haramnya. Ia juga tidak ingin mengambil risiko dengan tetap meneruskan pendistribusiannya. Oda tidak ingin tertangkap karena ia akan semakin menderita kerugian yang sangat besar.
"Tuan."
Tak lama seorang anak buahnya datang. Ialah Judika yang merupakan salah satu anak buah kepercayaan Oda.
"Bagaimana? Apakah ada kabar baik untuk tetap mendistribusikan barang kita?" tanya Oda segera.
Judika menggelengkan kepalanya. "Maaf, Tuan. Pendistribusian harus dihentikan karena tidak semua pejabat tinggi bermain dalam hal ini. Jika kita tetap memaksakan, maka pihak-pihak lain akan memanfaatkan situasi untuk menyerang balik. Jadi saran saya hentikan dulu sementara." Judika menuturkan.
__ADS_1
"Apakah tetap aman jika berada di negeri ini? Atau kita harus ke luar negeri untuk menghilangkan jejak?" tanya Oda segera.
Judika mengangguk. "Ada baiknya kita pergi ke tempat terpencil agar tidak diketahui keberadaannya. Mungkin tuan berminat untuk pergi ke timur negeri ini. Di sana lebih minim keamanan." Judika menerangkan.
Oda menggelengkan kepalanya. "Tidak. Aku keluar negeri saja untuk sementara. Tolong siapkan semuanya dan minta para anggota untuk terus berjaga." Oda meminta.
Judika membungkuk. "Baik, Tuan." Ia pun memenuhi permintaan Oda.
Oda akhirnya memutuskan pergi ke luar negeri untuk menghindari pencarian polisi. Ia khawatir ada seseorang yang mencari tahu siapa dalang dibalik penyelundupan puluhan killgram sabu. Satu-satunya tempat untuk terbebas dari pencarian adalah berada di luar wilayah negeri ini. Oda pun segera mempersiapkan keberangkatannya. Ia tidak ingin mengambil risiko tinggi.
"Maaf harus menunggu lama." Seseorang itu datang dengan mengenakan masker dan juga topi yang sampai menutupi matanya. Ia duduk di sebelah Hara.
"Tak apa. Bagaimana kabarmu?" Hara menanyakan kabar seseorang itu.
"Kabarku baik. Tapi tidak dengan situasi di sekelilingku," jawabnya.
__ADS_1
"Apakah terjadi kekecauan?" tanya Hara lagi.
"Ya. Kami saling mencurigai saat ini atas tewasnya Hanzi kemarin," terang seseorang itu.
"Lalu apa ada tindakan selanjutnya?" tanya Hara kembali.
Seseorang itu menghela napasnya. "Entahlah. Tapi mungkin saja dia akan lari ke luar negeri. Biasanya dia melakukan itu," kata seseorang itu lagi.
"Apa kau butuh bantuan dariku?" Hara kembali bertanya.
"Sebenarnya ini kesempatan baik bagiku untuk membunuhnya karena dia sedang berada sendirian di markas. Tapi aku tidak dapat melakukannya karena jika pulang sendiri pasti yang lain akan mencurigaiku," ungkap seseorang itu.
"Kalau begitu berikan saja alamatnya kepadaku. Biar tim kepolisian yang bertindak," sahut Hara segera.
Seseorang itu tampak menggelengkan kepalanya. "Maaf, aku tidak bisa. Bukan tak percaya denganmu. Aku hanya takut mereka yang datang bukanlah polisi sepertimu. Aku khawatir mereka malah akan memanfaatkan situasi untuk menguras semua barang yang ada di sana. Dan malah barang haram itu akan mereka ambil dan pakai sendiri. Aku khawatir timmu bertindak tidak amanah." Seseorang itu menolak membeberkan lokasi bosnya saat ini.
__ADS_1