CINTA DAN KRIMINAL

CINTA DAN KRIMINAL
Berita


__ADS_3

"Ini gratis. Aku harap senjata ini tidak akan menjadi boomerang untuk kita," tutur Bram kepada Afgan.


"Kalian bisa percaya pada kami. Bukankah kita sudah terikat satu sama lain?" Afgan menimpali.


"Baiklah. Operasi akan dilakukan beberapa hari lagi. Berita di televisi juga telah mengabarkan jika sudah melakukan persiapan untuk menyambut petinggi negara yang datang. Aku harap kita bisa bekerja maksimal." Hans mengungkapkan.


Afgan mengangguk. "Kami akan memberikan yang terbaik untuk operasi ini." Afgan meyakinkan.


"Terima kasih." Hans pun mengajak Afgan berjabat tangan.


Keduanya berjabat tangan dan saling menepuk pundak masing-masing. Tak dapat dipungkiri jika operasi besar itu akan segera dilakukan merera. Mereka pun terus mempersiapkan semuanya agar sempurna. Tak lain tak bukan agar operasi berjalan lancar tanpa kendala. Tapi apakah kenyataan di lapangan semudah teorinya?


Sore harinya...


Deni baru saja terbangun setelah transaksi yang dilakukan semalam. Dan kini ia tampak berjalan-jalan keluar dari markas sebentar. Deni ingin menghirup udara sebentar. Yang mana telah lama tidak ia rasakan. Ia pun akhirnya memutuskan untuk pergi ke sebuah kedai. Deni ingin memuaskan perutnya yang keroncongan.

__ADS_1


Beberapa hari ini kami sibuk sekali. Transaksi semalam juga begitu sedikit uang yang diambil. Ketua meminta proses peretasan cepat diakhiri. Dan akhirnya hanya rasa kantuk yang kudapatkan sekarang. Karena sisanya belajar meretas data negara dengan aman. Hoaaamm. Perutku lapar.


Dengan berjalan kaki, Deni akhirnya sampai di kedai yang dituju. Sedang kendaraan yang ia bawa, diparkirkan sedikit jauh. Deni pun memasuki kedai lalu segera memesan makanan. Tak lama ia pun melihat beberapa orang datang dan memasuki kedai tersebut. Duduk tak jauh dari Deni berada. Mereka pun mulai bicara.


"Kudengar pimpinan dewan menerima kerja sama dengan seseorang," ucap pria berbaju putih.


"Aku juga mendengar kabar itu," sahut pria berbaju kuning.


"Kalian sudah tahu siapa sebenarnya yang bekerja sama dengan dewan pimpinan?" tanya pria berbaju hijau.


"Apa?!" Tampak kedua temannya terbelalak seketika.


"Aku tidak tahu kabar ini benar atau tidak. Aku ragu untuk memastikannya. Tapi yang jelas kita hanya bisa diam saja. Lagipula tidak ada yang bisa kita lakukan." Pria berbaju putih tampak pesimis.


Deni pun semakin penasaran dengan apa yang dibicarakan ketiga orang tersebut. Namun, tak lama pelayan datang membawakan pesanannya.

__ADS_1


"Silakan, Tuan," ucap pelayan kedai sambil menyajikan pesanan Deni.


Deni tersenyum lalu pelayan itu pun pergi. Ia kemudian segera menyantap pesanannya sambil mendengarkan pembicaraan ketiga orang tersebut.


"Polisi bea cukai katanya tidak dapat bertindak apa-apa karena barang datangnya dari jalur pelabuhan. Apa iya pelabuhan kita tidak mempunyai sistem keamanan?" tanya pria berbaju kuning.


"Hah, mereka juga pasti disumpel mulutnya," pikir pria berbaju hijau.


"Bagaimana mungkin seorang polisi dapat menutupi transakasi itu sedang transaksi itu begitu membahayakan generasi selanjutnya?" tanya pria berbaju kuning.


"Jika uang dapat berbuat segalanya, maka tak tampak lagi baik-buruknya," timpal pria berbaju putih.


"Jadi bagaimana dengan narkobanya?" tanya pria berbaju kuning lagi.


"Mungkin saja narkoba itu telah tersebar ke seluruh pejabat sekarang. Entahlah lebih baik kita tidak memikirkannya." Pria berbaju hijau tampak ragu untuk meneruskan pembicaraannya.

__ADS_1


__ADS_2