CINTA DAN KRIMINAL

CINTA DAN KRIMINAL
Informasi


__ADS_3

"Ada apa?" tanya Oda segera.


"Tuan, akan ada pertemuan besar di salah satu gedung yang ada di ibu kota. Saya dengar di sana cukup aman untuk menjual tepung sagu kita. Apakah Tuan tidak berminat untuk ke sana?" tanya Judika kepada bosnya.


Oda tampak memikirkan hal ini. "Apakah sistem keamanannya bisa dipercaya?" tanya Oda lagi. Ia tampak tertarik untuk ikut hadir di pertemuan itu.


"Saya rasa demikian, Tuan. Kabarnya sepuluh batalyon akan dikerahkan untuk menjaga keamanan pertemuan. Tapi kami tidak tahu yang sebenarnya. Bisa saja itu hanya akal-akalan untuk menarik simpatik orang luar. Bukankah negeri ini terlalu banyak memainkan drama?" Anak buah Oda, Deki ikut bicara.


Oda tertawa. "Hahaha. Ya. Mereka saling berebut kekuasaan untuk kepentingan sendiri. Tanpa menyadari bahaya yang mengancam generasi selanjutnya. Aku akan memikirkan hal ini. Tapi pastikan acara berlangsung aman. Aku akan mempersiapkan diri," tutur Oda lalu beranjak keluar dari ruangan.


"Baik, Tuan." Kedua anak buahnya pun menuruti.


Pertemuan besar tinggal menghitung hari. Masing-masing dari tim pun sudah memulai persiapan dengan maksimal. Lantas siapakah tim yang akan memenangkan peperangan? Apakah tim perampok bertopeng akan berhasil menjatuhkan pejabat tinggi yang melakukan penyelewengan?

__ADS_1


Rapat terakhir di markas para hacker.


Hari semakin berlalu dan mendekati operasi besar. Tampak di markas para hacker diadakan rapat terakhir sebelum menyingsing hari besar itu. Kedua kelompok itu bertemu dan mendiskusikan hal-hal apa saja yang harus dilakukan. Nana juga berada di sana. Ia tampak mendengarkannya. Ia mendampingi Iko yang akan ikut dalam operasi besar. Begitu juga dengan dirinya yang sudah siap untuk menjadi mata-mata.


"Baiklah kita semua telah berkumpul. Tiga hari lagi kita akan melakukan operasi besar.


Aku harap kalian dapat menempati posisi masing-masing." Afgan menuturkan.


Baik Iko, Deni maupun Ifdan mengangguk.


Dino yang berada di sana mengangguk. Ia menyetujui kerja sama kali ini.


"Jadi Deni dan Ifdan tidak ikut turun ke pertemuan nanti?" tanya Bram kepada Afgan.

__ADS_1


"Tidak. Kita membutuhkan dua orang untuk tetap menjaga keamanan secara komputerisasi. Dan satu pengawas keadaan. Kita tidak bisa bergerak tanpa operator yang mengarahkan," sahut Afgan.


"Baiklah." Bram pun menyetujui.


"Untuk sniper aku minta dua orang bertugas di luar dan di dalam ruangan. Aku pikir Odi dan satu temannya dapat menjalankan misi ini." Afgan menimpali.


"Kau tenang saja. Biar aku yang menyelinap di dalam ruangan," sahut Esa, teman Odi dengan yakin.


"Bagaimana dengan Odi sendiri, apa kau setuju berjaga di luar ruangan?" tanya Afgan kembali. Odi pun hanya mengangguk, mengiyakan.


"Iko, bagaimana menurutmu?" Afgan beralih ke Iko.


"Untuk mata-mata, aku rasa Nana dan aku sudah cukup untuk ikut masuk ke dalam ruang pertemuan sebagai pengalihan." Iko menjelaskan status dirinya. Tampak kelompok perampok bertopeng yang mengiyakannya.

__ADS_1


"Kami setuju. Pengalihan memang tidak cukup hanya satu orang." Mereka menyetujuinya.


Mereka pun akhirnya menyepakati posisi masing-masing. Iko kemudian melanjutkan perkataannya. "Untuk tim penyerang, ada kelima teman-temanku yang akan ikut membantu. Semoga ini cukup," ucap Iko lagi.


__ADS_2