CINTA DAN KRIMINAL

CINTA DAN KRIMINAL
Menyelesaikan Sengketa


__ADS_3

Bram, Odi dan Hans adalah sekelompok perampok bertopeng yang belum tertangkap sampai saat ini. Namun, saat tidak bekerja, mereka hidup sebagaimana mestinya. Berjalan-berjalan santai tanpa takut ada yang mengintai. Karena saat menjalankan misi dan di luar, mereka sangatlah berbeda. Sehingga tidak ada yang tahu jika sebenarnya mereka adalah perampok bertopeng yang mengincar rumah-rumah pejabat negara. Ciri-ciri mereka tidak ada yang mengetahuinya.


"Ayo, bangun. Kalian tidak apa-apa?" Odi membangunkan kedua anak kecil yang dilempari tomat busuk itu.


"Terima kasih, Paman." Anak kecil itupun berterima kasih.


"Kenapa kalian mencuri? Di mana kedua orang tua kalian?" tanya Odi ke anak-anak kecil itu.


"Kami tidak punya orang tua, Paman. Kami kelaparan sehingga nekat mencuri. Sudah dua hari ini kami belum juga makan sesuap nasi. Kami sangat lapar," terang salah satu anak kecil tersebut.


Saat mendengarnya, saat itu juga hati kecil Odi sakit sendiri. Ia merasa tak tega dengan anak-anak yang kelaparan di hadapannya. Ia lantas memberikan sejumlah uang kepada anak-anak kecil tersebut.

__ADS_1


"Ini, seratus dolar. Pergunakan dengan sebaiknya. Dan jangan mencuri lagi. Kalian bisa dihakimi massa nanti. Kalian bisa dibunuh mereka."


Odi memeringatkan anak-anak kecil itu. Ia tampak berlembut hati kepada anak-anak pencuri sayuran itu. Odi bermurah hati.


"Berapa kerugian kau derita, Tuan?" tanya Bram kepada pedagang sayur dengan nada sedikit kesal.


Bapak pedagang itu sedikit ragu untuk menjawabnya. "Hanya satu dolar." Ia menjelaskannya.


Pedagang sayur itu mengangguk. Hans pun merasa kesal setelah mengetahui jumlah kerugian yang diderita si pedagang.


"Hanya karena satu dolar kau melempari mereka dengan tomat busuk?!" Hans tak percaya.

__ADS_1


Pedagang sayur itu menunduk.


"Sudah, Hans. Jangan buang-buang waktu." Bram mengeluarkan sejumlah uang dari dompetnya. "Ini sepuluh dolar. Sudah kuganti sepuluh kali lipat kerugianmu. Ada baiknya setelah ini kau berbagi agar daganganmu tidak dicuri terus. Jangan terlalu pelit dengan harta, karena itu akan menimbulkan bala."


Bram pun memberi tahu sebelum mengajak Hans dan Obi pergi dari hadapan pedagang sayur itu. Mereka kemudian menyelesaikan perkara yang terjadi di pasar. Di tengah ramainya orang-orang yang hanya bisa menontonnya saja. Pedagang sayur itu pun tampak tersadar dari kesalahannya. Ia merasa malu terhadap keadaan sekitar.


Siapa mereka? Kenapa mau menolong orang lain di tengah kehidupan yang individualis ini?


Sang pedagang pun tampak memerhatikan ketiganya yang pergi. Baik Hans, Bram dan Odi segera menuju ke parkiran pasar lalu masuk ke dalam mobil mereka. Mereka meninggalkan pasar setelah membeli berbagai macam perhiasan emas. Tak lain tak bukan untuk keluarga mereka sendiri.


Kepedulian itu tidak memandang latar belakang ataupun gelarnya. Selama rasa iba masih ada di hati, selama itu juga hati masih hidup. Sekalipun penjahat, jika masih mempunyai rasa iba, maka hatinya masih hidup. Ia akan memilih-milih target sasarannya yang mana benar-benar merugikan negara. Bukan asal tembak saja tanpa tahu duduk permasalahannya. Mereka tahu mana yang sebaiknya harus dilakukan.

__ADS_1


Menjelang siang ini menjadi saksi jika latar belakang tidak menjamin kebaikan hati seseorang. Menjelang siang ini juga mengajarkan kepada masyarakat agar tidak terlalu pelit terhadap harta. Baik sang pedagang sayur maupun pengunjung pasar yang melihatnya tampak mengambil hikmah dari apa yang terjadi. Jika harta itu tidak selamanya dan harus dibagi. Hans, Bram dan Odi pun mampu menyadarkan mereka tanpa perlu menunjukkan identitas aslinya. Ketiganya telah berhasil merubah mindset yang ada.


__ADS_2