
"Ah, iya." Naga pun tertawa. "Maaf aku tidak tahu jika kau sedang ingin pergi." Naga pun meminta maaf kepada Nana. "Em, kalau begitu bolehkah aku mengantarkannya?" Naga menawarkan diri.
Saat itu juga detak jantung Nana tidak stabil. Ia khawatir jika ini hanyalah akal-akalan Naga untuk menguak tragedi yang terjadi waktu itu. Nana pun sebisa mungkin bersikap biasa saja agar tidak menimbulkan kecurigaan. Ia mencoba bersikap senatural mungkin agar gerak-geriknya tidak terbaca oleh Naga.
Dia datang lagi. Sebenarnya ada tujuan apa dia ke sini?
Nana pun bertanya-tanya di dalam hatinya. Ia merasa risih dan juga kikuk dengan kehadiran Naga. Tapi mau tak mau ia harus bersandiwara untuk menutupi semuanya. Nana ingin menjaga rahasia.
Satu jam kemudian...
Awan putih berarak menjadi saksi Nana yang baru saja selesai berbelanja di toserba. Tampak Naga yang menunggu di teras toserba tersebut sambil meminum es kapucino yang dipesannya. Naga pun segera menghampiri Nana selepas keluar dari toserba.
__ADS_1
"Nona, kau sudah selesai? Boleh kubawakan?" Kembali Naga menawarkan diri kepada Nana.
"Em, Tuan. Terima kasih. Aku rasa cukup sampai di sini saja." Nana merasa risih dengan kehadiran Naga.
"Kau tidak ingin kuantar pulang?" Naga mulai kecewa.
Nana tersenyum. "Terima kasih banyak atas tawarannya, Tuan. Tapi pekerjaan rumahku sangat banyak. Aku juga tidak ingin merepotkanmu. Sampai nanti." Nana pun segera berpamitan.
Saat Nana berbicara seperti itu, saat itu juga Naga merasakan sakit hati atas penolakan Nana. Ia tak mengerti mengapa Nana selalu saja menolaknya. Pada akhirnya usaha Naga yang menunggu Nana pun harus sia-sia. Ia tidak bisa berbicara lebih dekat lagi kepada Nana. Naga pun harus pulang dengan menanggung kecewa. Jabatan dan pangkat yang ia miliki ternyata tidak mampu menarik hati Nana.
"Sayang, kau baik-baik saja?" Iko yang baru saja mandi itu pun terheran dengan sikap Nana.
__ADS_1
"Sayang, kita harus segera pergi dari tempat ini. Intel kepolisian itu datang lagi. Dia mengikutiku!" Nana menjelaskan.
Saat itu juga Iko segera melihat ke luar jendela. Yang mana di bawah gedung apartemen tidak jauh toserba itu berada. Iko pun memerhatikan siapa saja yang ada di sana.
Apakah pria yang kulihat malam itu yang datang menemui Nana?
Iko pun bertanya-tanya. Ia kemudian mengambil keputusan. "Baik. Nanti akan kubicarakan apartemen ini kepada pihak gedung. Aku akan menjualnya." Iko pun berjanji kepada Nana.
Nana akhirnya bisa bernapas lega setelah Iko mengambil keputusan. Iko pun segera menelepon manajer gedung apartemen untuk membicarakan transaksi penjualannya. Iko akan segera pergi dari apartemen ini lalu membeli apartemen yang baru. Ia tidak ingin istrinya dilanda kekhawatiran yang terus-menerus. Tapi, apakah Naga tidak akan mencarinya? Sedang ia tertarik pada Nana.
Malam harinya, di vila pantai...
__ADS_1
Ifdan tampak mencium kening Sarah sebelum berpamitan pergi. Tampak raut wajah Sarah yang sedih kala akan ditinggalkan Ifdan. Ifdan pun berpesan padanya.
"Mungkin aku akan kembali pada esok hari. Untuk sementara tunggulah aku di sini." Ifdan berpesan kepada Sarah.