CINTA DAN KRIMINAL

CINTA DAN KRIMINAL
Kota Baru


__ADS_3

Naga menggelengkan kepalanya. "Tidak. Hanya sedang kecewa saja," terang Naga sambil duduk di pelataran teras markas kepolisian. Semilir angin pagi ini pun menjadi saksi pelantikan yang baru saja dilakukan.


Hara menatap kekejauhan. "Apakah karena wanita itu?" duga Hara kepada Naga.


Naga tersentak. Ia tak menyangka jika Hara tahu apa yang ada di pikirannya. "Mungkin. Tapi aku tidak mau memikirkannya." Naga berusaha tak peduli.


Hara tersenyum. Ia menepuk pundak temannya. "Jangan pernah mencoba untuk melupakan sesuatu. Karena semakin melupakannya, kau akan semakin ingat. Teruslah beraktivitas seperti biasanya. Maka keadaan akan kembali normal dengan sendirinya." Hara memberi saran.


Naga menelan ludahnya. Ia tidak mungkin menceritakan kejadian yang sebenarnya kepada Hara. Karena bagaimanapun hal itu sangat terlarang, apalagi bagi intern kepolisian.


"Kau ingin minum? Kita dapat waktu libur tiga hari sebelum berangkat ke timur negeri ini. Mungkin bisa merelaksasikan pikiran dari hal yang tidak menyenangkan." Hara kembali memberikan saran.

__ADS_1


Naga mengangguk. Ia tidak mempunyai alasan untuk menolaknya. Hatinya sedang kecewa karena cinta. Ia pun segera pergi dari pelataran teras markas kepolisian bersama Hara. Ia ingin merelaksasikan pikirannya.


Baru kali ini Naga jatuh cinta. Baru kali ini juga ia menanggung rasa sakit akan kekecewaan yang begitu besar. Tak dapat Naga pungkiri jika ia tertarik pada Nana. Tak dapat ia bohongi jika telah jatuh hati. Gadis desa yang kini berubah menjadi wanita cantik dan anggun itu mencuri perhatiannya. Naga pun jatuh cinta pada pandangan pertama. Tapi sayang, takdir berkata lain untuknya.


Kini Naga hanya bisa menyesali apa yang terjadi. Perasaan bersalah bercampur kecewa yang teramat sangat itu menggerogoti hatinya. Ia pun memutuskan untuk menenangkan pikirannya dengan minum bersama Hara. Walau ia tahu hal itu sangat tidak boleh dilakukannya. Tapi hati itu sudah sakit dan harus segera diobati. Naga membutuhkan waktu sejenak untuk melupakan semuanya.


Malam harinya...


Hunian baru menjadi saksi kedatangan Iko dan Nana di Kota Jenewa, Swiss. Sebuah apartemen dengan luas 10x15 meter itu cukup sebagai tempat tinggal mereka yang baru. Dan kini keduanya baru saja sampai setelah melakukan perjalanan jauh. Tampak Nana yang kelelahan dan bersandar di pundak Iko. Iko pun segera merangkul istrinya. Mereka duduk di sofa apartemen bersama.


Nana mendongakkan kepalanya melihat wajah Iko. "Tentu saja tidak asal bersamamu." Nana pun tersenyum senang kepada suaminya.

__ADS_1


Iko mengecup kening Nana. "Tetaplah bersamaku sampai akhir hayat memisahkan kita," pinta Iko kepada Nana.


Nana mengangguk. Ia mencium pipi suaminya.


"Semoga kota ini bisa menjadi titik awal bagi perubahan hidup yang lebih baik lagi. Dan semoga si kecil juga dapat segera hadir." Iko mengusap perut Nana.


Iko ....


Saat mendengarnya, saat itu juga Nana bersedih. Ia merasa bersalah kala teringat dengan apa yang terjadi. Nana pun memeluk Iko untuk mengalihkan pikirannya sendiri. Ia mencoba melupakan apa yang terjadi. Karena hari ini kehidupan yang baru akan dimulai oleh mereka. Nana pun mencoba melupakan hal yang terjadi sebelumnya.


Nana akan fokus hanya kepada Iko saja. Berharap semesta merestui jalan hidup mereka, dan memaafkan apa yang pernah Nana lakukan sebelumnya. Nana berharap itu semua. Malam ini pun menjadi saksi keduanya yang beristirahat segera.

__ADS_1


.........


...Tamat...


__ADS_2