CINTA DAN KRIMINAL

CINTA DAN KRIMINAL
Mengejar Target Utama


__ADS_3

"Kau tidak apa-apa, Bram?" tanya Esa kepada Bram setelah masuk ke dalam mobil.


"Hm, ya. Aku tidak apa-apa. Hanya sedikit memar di bagian wajah saja." Bram menjawabnya.


"Baguslah. Kudengar tidak ada korban di pihak kita. Kita segera meluncur ke titik pertemuan bersama yang lainnya."


Esa terus melajukan mobilnya. Sementara di kursi belakang mobil tampak Bram dan teman-teman operasinya yang sedang meneguk sebotol air mineral untuk melepas dahaga sehabis menjalankan misi. Bram pun teringat dengan pertarungannya bersama Hara tadi. Ia tidak akan pernah melupakannya.


Bram pindah ke kursi depan. "Bagaimana keadaan Hans?" Bram menanyakan adik dari Hara.


"Dia bersama Iko masuk ke kereta bawah tanah." Esa menerangkan.


"Aku rasa kita harus menyusulnya." Bram mengatakan.


"Afgan dan Odi sudah mengambil alih. Kita percayakan saja pada mereka. Saat ini kita hanya harus ke titik pertemuan, sesuai instruksi yang diberikan." Esa mengabarkan.


"Baiklah."

__ADS_1


Bram memgangguk. Ia kemudian menuruti instruksi yang telah diberikan. Malam ini menjadi saksi akan dirinya yang bertemu dengan kawan lama. Bram pun tidak akan melupakannya.


Sementara itu...


"Anda tidak apa-apa, Letnan?" tanya seorang polisi yang menemukan Hara lecet dan lebam di bagian wajahnya.


"Aku tak apa-apa. Segera evakuasi korban saja!" pinta Hara segera.


"Baik, Letnan!"


Tak dapat dipungkiri dalam suatu ruang lingkup kehidupan pasti ada pahlawan dan penjahatnya. Begitu juga di kubu pemerintahan, ada tim penyerang dan ada tim bertahan untuk menduduki kursi kekuasaan. Layaknya Yin dan Yang, saling melengkapi dan tidak bisa terpisahkan. Begitulah Tuhan menciptakan segala sesuatunya berpasangan.


Dalam kehidupan juga pasti banyak selisih paham dan perbedaan pandangan. Banyak lakon yang memanfaatkan keadaan hanya untuk memenuhi hasrat pribadi. Tanpa peduli dengan efek apa yang akan ditimbulkan. Tinggal bagaimana manusia itu sendiri yang memilah dan memilihnya. Mau jadi apa dan dibawa ke mana masa depannya.


Di kereta bawah tanah...


"Kau mau lari ke mana, Tuan Hanzi!" Iko geram melihat Hanzi di hadapannya.

__ADS_1


Hanzi merasa cemas. Ia khawatir Iko adalah kawanan perampok yang menghabisi menteri keuangan kemarin. Ia kemudian menyuruh kedua pengawalnya untuk menghabisi Iko dan Hans yang sudah berada di kereta bawah tanah. Kedua pengawal Hanzi pun mulai menyerang Iko dan Hans bersamaan. Adu fisik tak terelakan. Yang mana hal itu dimanfaatkan oleh Hanzi untuk melarikan diri.


"Iko, jangan biarkan dia lari!" Hans mengingatkan agar Iko tidak sampai melepaskan Hanzi.


Iko mengerti. Ia kemudian mencoba mengejar Hanzi. Tapi kedua pengawal Hanzi seakan tidak tinggal diam. Mereka menghalang-halangi Iko untuk mengejar Hanzi.


Sialan!


Iko pun merasa kesal. Ia segera melawan dengan membabi buta untuk mengalahkan kedua pengawal Hanzi. Namun, tak lama Iko melihat Hanzi mengarahkan pistol ke arahnya. Iko pun menyadari jika Hanzi berniat untuk menembaknya.


"Hans! Tiarap!"


Dan benar saja, teryata Hanzi menembakkan pelurunya ke arah Iko dan Hans. Sontak Hans tidak sempat lagi untuk tiarap. Ia kemudian memutar tubuh salah satu pengawal Hanzi untuk menjadi tameng tubuhnya. Dan akhirnya Hanzi pun membunuh pengawalnya sendiri.


Ini kesempatanku!


Satu pengawal Hanzi telah tewas, tinggal satu lagi. "Hans, aku serahkan padamu!"

__ADS_1


__ADS_2