
Naga sedang ingin pergi ke toilet. Ia pun melewati sudut ruangan tempat di mana Nana berada. Dan saat Nana berbalik, saat itu juga ia tanpa sengaja menabrak Naga. Sontak minuman yang Nana pegang tumpah mengenai jas Naga. Nana pun segera meminta maaf padanya.
Di lain sisi, Iko melihat pemandangan yang terjadi. Ia pun merasa kesal saat kontak fisik dan mata itu terjadi pada istrinya. Ia ingin mendekati Nana, tapi tim dari mobil box segera mengingatkannya. Iko tidak diperkenankan menghampiri Nana karena khawatir menimbulkan kecurigaan. Iko pun harus bersabar menahan amarahnya.
"Tenang, Iko. Kau harus ingat misi ini. Jangan terbawa emosi."
Pada akhirnya Iko pun membiarkan Nana bersapa sebentar dengan Naga. Sedang ia masih memerhatikannya.
"Sepertinya aku baru melihatmu, Nona?" tanya Naga kepada Nana.
Nana sedikit gugup. "Em, ya. Aku hanya diundang sebagai perwakilan saja, Tuan," jawab Nana yang mencoba relaks.
Nana dan Naga pun bercakap-cakap sebentar. Terlihat kegembiraan di wajah Naga. Nana begitu cantik di pandangan matanya. Rambut pendek sebahu dengan aksesoris jepit permata membuat Nana terlihat memesona.
__ADS_1
Aneh. Kenapa aku merasakan debaran jantung yang tak biasa saat dekat dengannya?
Naga membatin. Ia pun terus memerhatikan Nana. Nana sendiri mulai merasa tidak nyaman saat berada di dekat Naga. Ia kemudian segera berpamitan.
"Em, maaf. Aku ingin pergi sebentar." Nana pun beranjak pergi.
Nana datang menggunakan gaun berwarna biru keungu-unguan. Yang mana keanggunannya membuat Naga kepincut pada pandangan pertama. Nana bak peri di matanya. Terlebih tubuh Nana yang langsing dan tinggi. Nana tipe ideal Naga.
"Target sudah keluar. Ganti."
"Tunggu sebentar. Tim tetap berada di posisi, " sahut Dino dari mobil box yang mengawasi tim operasi kali ini.
Komputer-komputer yang ada di dalam mobil terhubung dengan banyak CCTV di dalam ruangan. Mereka pun memerhatikan setiap titik sebelum melakukan penyerangan. Hingga akhirnya Hanzi naik ke atas panggung pertemuan. Ia pun memulai sambutan.
__ADS_1
"Selamat malam, Dewan Petinggi yang terhormat. Terima kasih telah datang ke pertemuan. Izinkan saya, Hanzi selaku Dewan Perwakilan Rakyat untuk memberi sambutan." Hanzi memulai kata sambutannya. "Saya di sini--"
DOR! DOR! DOR!
Belum sempat Hanzi meneruskan kata-kata sambutannya, tiba-tiba terdengar bunyi tembakan yang menewaskan beberapa pejabat di sana. Sontak keadaan di ruang pertemuan mulai kacau.
"Lindungi, Tuan Hanzi. Cepat!"
Beberapa bodyguard pun segera menarik Hanzi dari atas panggung untuk segera diselamatkan. Tanpa sadar dompetnya terjatuh di atas sana. Tampak para hadirin yang juga ikut berlarian keluar untuk menyelamatkan diri. Ruang pertemuan itu akhirnya kacau sekacau-kacaunya.
Itu dia!
Nana pun segera melihat apa yang terjatuh di atas panggung. Di tengah kekacauan yang terjadi, ia segera berlari cepat ke atas panggung. Ia ingin mengambil apa yang jatuh di sana.
__ADS_1
"Aku dapat!"
Pada akhirnya Nana mendapatkan apa yang ia inginkan. Dompet Hanzi yang terjatuh di atas panggung pertemuan itu ia dapatkan. Nana pun segera keluar ruang pertemuan bersama para hadirin yang berusaha menyelamatkan diri.