
"Menemuinya? Menemui siapa?" tanya Hara segera. Ia duduk di pinggir kasur pembaringan Naga.
"Wanita yang kulihat waktu itu. Dia mirip sekali dengan mendiang pacarku." Naga menjelaskan.
"Apa?!" Seketika itu juga Hara tak percaya. "Hahahaha." Ia kemudian tertawa.
"Hei, jangan mengejekku." Naga pun tak senang dengan sikap Hara.
"Hah, ya, baiklah."
Hara akhirnya diam lalu duduk di kursi yang ada di ruangan. Ia juga meletakkan buah tangan yang dibawanya ke atas meja. Hara kemudian meneguk softdrink yang dibelinya. Ia tampak bersantai sejenak setelah melakukan perjalanan jauh untuk menjenguk Naga.
"Bagaimana penyelidikan di gedung itu? Apakah sudah menemukan siapa pelakunya?" tanya Naga sambil tetap berbaring di kasurnya.
__ADS_1
"Belum. Tapi sepertinya ada kaitannya dengan kasus pembantaian di rumah menteri keuangan waktu itu," terang Hara.
"Aku jadi ragu pada diriku sendiri saat ini. Aku tidak bisa mengamankan keadaan." Naga berkecil hati.
Hara meletakkan kaleng softdrink-nya. "Tidak perlu terlalu menyalahkan diri sendiri. Kejadian itu sepertinya memang sudah direncanakan dari jauh hari. Pihak polisi yang berjaga saja sampai tidak mengenali mana musuh, mana penyusup. Mereka mengenakan atribut yang sama," terang Hara.
"Apakah semua lokasi CCTV sudah dicek?" tanya Naga kembali.
Hara menyilangkan kedua tangannya di dada. "Masih dalam proses. Kejadian sangat kacau waktu itu. Kita membutuhkan waktu beberapa hati untuk melihat siapa saja orang yang terlibat di sana," tutur Hara lagi.
"Kau benar." Hara pun menyetujuinya.
Hara tidak mungkin mengatakan yang sejujurnya siapa dibalik peristiwa kelam yang terjadi di gedung itu. Hara tahu siapa pelakunya. Namun, ia pura-pura tidak tahu saja. Hara menutupinya karena khawatir sang adik ikut menjadi incaran kepolisian dan ia sendiri yang harus mengeksekusinya. Maka dari itu Hara pura-pura tidak tahu saja. Jiwa melindungi adiknya lebih besar dibandingkan tugas yang diembannya.
__ADS_1
Di sisi lain Naga ingin sekali bertemu dengan Nana. Pertemuan yang singkat itu akhirnya menghasilkan sebuah kesimpulan jika Nana mirip sekali dengan mendiang pacarnya. Naga pun ingin bertemu dengan Nana secepatnya. Tapi ia masih tak berdaya. Naga harus memulihkan kondisi tubuhnya terlebih dahulu sebelum kembali bekerja. Agar ia bisa bekerja dengan maksimal seperti sediakala. Malam ini pun menjadi saksi Naga yang merindukan Nana di sana.
Beberapa hari kemudian...
Empat hari berlalu dari operasi hesar yang para hacker dan perampok bertopeng lakukan. Dan kini tampak Nana yang baru saja pulang dari markas besar. Wanita berambut pendek sebahu itu tampak pulang dengan wajah yang lelah. Ia harus bolak-balik secara sembunyi-sembunyi untuk merawat suaminya. Dan saat tiba di apartemennya, saat itu juga Nana terkejut bukan kepalang. Ia melihat Naga tengah berdiri di pintu masuknya.
Dia datang ke sini? Astaga!
Masih teringat jelas siapa pria yang datang. Saat itu juga jantung Nana berdegup kencang. Ia merasa bingung dengan apa yang harus dilakukan. Terlebih Nana belum mengamankan alat perlindungan milik Iko di apartemennya. Nana khawatir Naga adalah mata-mata yang ingin mencari tahu tentang suaminya.
Bagaimana ini? Apakah aku harus lari saja?
Nana pun berniat melarikan diri. Tapi di saat yang bersamaan Naga melihat Nana di sana. Naga pun segera menegur Nana
__ADS_1
"Nona?"
Ia menghampiri Nana segera. Nana pun menelan ludahnya. Mau tak mau Nana harus memainkan perannya agar tidak sampai ketahuan. Nana pun bersikap biasa saja kepada Naga.