CINTA DAN KRIMINAL

CINTA DAN KRIMINAL
Sudut Pandang


__ADS_3

Sudah menjadi rahasia umum jika pejabat hanya manis di bibir saat akan melakukan pemilihan saja. Sedang saat sudah menjabat, dia akan lupa segalanya. Bahkan dengan janjinya sendiri yang diucapkan di hadapan para pendukungnya. Harta, tahta dan jabatan itu membutakan semua. Lantas apakah kedua kelompok itu bisa bekerja sama dalam melenyapkan mereka?


Esok harinya...


Pagi-pagi markas besar kepolisian mendapat surat perintah untuk mengamankan pertemuan yang dihadiri para pejabat tinggi negara. Termasuk Naga dan Hara yang diminta ikut serta. Tampak keduanya membaca surat tugas bersama. Yang mana diharuskan untuk datang sebelum waktunya. Hara pun jadi malas menanggapinya.


"Mereka yang melakukan pertemuan, kita yang disuruh berjaga." Hara menggerutu sendiri.


Naga melipat kembali surat tugas mereka. "Itu sudah kewajiban kita sebagai alat negara," terang Naga.


Hara mengembuskan napasnya. "Ya, ya, ya. Tapi kalau boleh memilih, aku ingin jadi rakyat biasa saja." Hara menuturkan.


"Kenapa? Bukannya banyak masyarakat yang ingin jadi polisi?" tanya Naga.

__ADS_1


Hara duduk di sofa ruangan. Ia melipat kedua tangannya di dada. "Mereka tidak tahu saja sistem senioritas di kepolisian. Atasan itu tidak pernah salah. Dan atasan bisa mengkambinghitamkan anak buahnya. Tak jarang banyak terjadi korban di tingkat rendah." Hara menuturkan pemikirannya.


"Kau terlalu banyak menonton film, Hara." Naga merasa Hara terlalu mendramatisir keadaan.


"Hei, aku lebih senior satu tingkat di atasmu. Jadi jangan mendahuluiku." Hara tampak kesal. Ia tak terima dijawab Naga.


"Hah, ya. Baiklah." Naga pun pasrah saat Hara berkata seperti itu.


"Kenapa?" Naga pun menoleh ke Hara yang duduk di sofa.


"Pertemuan para pejabat tinggi ini pasti dimanfaatkan oleh pihak yang berlawanan untuk menyerang. Mereka tidak akan segan membunuh lawan untuk mencapai kursi kekuasaan." Hara mengungkapkan pemikirannya.


"Kau terlalu jauh menilai pemerintahan, Hara." Naga tampak tidak setuju dengan pendapat Hara.

__ADS_1


"Ya, terserah saja. Tapi apapun bentuknya pasti ada maksud tersembunyi dibalik itu semua. Seperti juga pertemuan ini. Pasti ada transaksi di dalamnya. Dan sebagai alat negara diminta mengamankan tanpa dipikirkan bagaimana nasibnya. Kita disuruh berjaga, kalau ada apa-apa kita pertama yang terkena." Hara terus bicara.


Naga diam. Ia tampak membenarkan ucapkan Hara.


Bukan menjadi sebuah rahasia lagi jika di sistem pemerintahan banyak permainan yang tidak diketahui oleh rakyatnya. Tapi aku ingin semuanya baik-baik saja sebagai alat negara yang mengabdikan diri. Walaupun nyatanya itu sangat berisiko tinggi. Setidaknya aku telah melaksanakan tugasku walaupun harus mengalami sesuatu. Tapi semoga saja pertemuan nanti bisa terkendali. Sehingga acara berjalan lancar tanpa kendala. Hanya hal itu yang kuharapkan nanti.


"Ya, Pak. Baik." Tampak Hara yang baru saja menerima telepon. "Hei, ada telepon dari Dirut."


Tiba-tiba saja Hara memberitahukan Naga ada telepon untuknya. Lamunan Naga pun terpecah karena telepon itu. Ia lantas segera menerima telepon dari Dirut kepolisiannya.


"Halo?"


Dan pada akhirnya perbincangan menjelang siang ini harus usai. Naga harus kembali bekerja di divisi kepolisian. Tentunya bersama Hara yang ikut serta sebagai seniornya. Mereka pun bersiap-siap untuk menerima tugas selanjutnya. Sebagai abdi negara, mereka akan menjalankan tugasnya.

__ADS_1


__ADS_2