CINTA DAN KRIMINAL

CINTA DAN KRIMINAL
Rapat Akhir


__ADS_3

Iko kemudian memperkenalkan teman-teman organisasinya. Saat itu juga kekuatan untuk penyerangan semakin bertambah.


"Itu bagus. Lalu apa tugasku dan Bram sendiri?"


Tampak Hans yang menyerahkan strategi ini kepada para hacker. Sedang dirinya hanya menyetujui atau tidaknya saja. Karena kerja sama ini tentu dilakukan atas persetujuan semua pihak. Jika ada yang kurang berkenan maka akan segera memberitahukannya.


"Tugas kalian adalah sebagai sisi pertahanan di saat para polisi berusaha mengejar kami semua.


Karena aku yakin kalian lebih terampil dibandingkan kami," jawab Iko.


"Ya, ya, baiklah. Aku mengerti," sahut Bram menerima tugasnya.


"Tapi kudengar acara inti operasi ini berada di jam-jam akhir. Kita tetap harus masuk sejak awal atau tidak? Agar tidak menimbulkan kecurigaan nantinya." Deni menanyakan.

__ADS_1


"Ya. Aku juga sudah mendengar akan hal itu. Strategi tetap dijalankan sejak awal. Aku minta kalian bersabar sampai menunggu acara inti dimulai. Saat itu kita bergerak dengan cepat." Hans menambahkan.


Kesemua orang yang berkumpul itupun mengangguk. Mereka akhirnya setuju untuk menjalankan operasi besar ini bersama. Mereka juga mempersiapkan segala sesuatunya dalam waktu cepat. Mereka akan segera berlaga di pertemuan besar yang tidak akan lama lagi. Lalu, apa yang akan terjadi nanti?


Sementara itu di markas kepolisian.


Menjelang pertemuan antar pejabat tinggi negara, Hara tampak banyak merenung di ruangannya. Ia seperti memendam kerisauan yang tidak tahu apa. Tapi Naga yang satu tim dengannya menyadari hal itu. Naga pun mencoba menanyakannya kepada Hara. Siang ini ia duduk di dalam ruangan temannya.


Polisi berkemeja putih, berompi anti peluru itu segera menjawabnya. "Aku rasa aku serba salah menjelang pertemuan ini," jawab Hara kepada Naga.


"Kenapa?" tanya Naga segera.


Hara menggerak-gerakan jari tangannya di sisi kursi. "Entahlah. Ada sesuatu yang aku khawatirkan namun tidak bisa kukatakan," terang Hara.

__ADS_1


"Apakah berkenaan dengan mafia narkoba yang diduga menyelundupkan barangnya?" tanya Naga lagi.


Hara menggelengkan kepalanya. Ia tampak sungkan untuk berterus terang. Sedang Naga tahu jika ia tidak bisa memaksa Hara untuk mengatakannya.


"Baiklah, baiklah. Mari kita cari udara segar terlebih dahulu. Kau sepertinya membutuhkan liburan, Hara." Naga pun mengajak Hara untuk keluar ruangan. Ia ingin Hara relaks sejenak.


Ada sesuatu yang sedang Hara pikirkan saat ini. Yang mana berkaitan dengan adiknya sendiri. Hara pun teringat dengan kenangan waktu itu. Yang mana adiknya baru saja lulus SMA, tapi ia menolak mentah-mentah keinginan ayahnya.


"Aku tidak mau menjadi polisi. Cukup ayah dan kakak saja. Polisi itu pencitraan semua. Lebih baik aku jadi perampok sehingga tidak tanggung-tanggung melakukan kejahatan. Depan belakang sama saja. Tidak seperti polisi yang suka menutupi aibnya!"


Masih teringat jelas perkataan sang adik waktu itu. Hara pun jadi khawatir adiknya berada dalam kawanan penjahat yang akan melakukan penyerangan nanti. Sebagai seorang polisi tentunya tidak boleh pilih kasih dalam menindak setiap kejahatan. Tapi bagaimana jika itu adalah adiknya sendiri? Mampukah Hara menerapkan peraturan?


Dia sudah lama tidak pulang ke rumah. Entah di mana dia sekarang. Tapi aku harap dia tidak berulah. Semoga kau baik-baik saja di sana, Hans. Aku harap kita tidak pernah bertemu dalam suatu pertemuan.

__ADS_1


__ADS_2