CINTA DAN KRIMINAL

CINTA DAN KRIMINAL
Keinginan


__ADS_3

Pada akhirnya mereka segera membeberkan bukti yang didapat. Mereka juga telah berhasil menguras rekening Hanzi dan beberapa penjabat lain yang pernah melakukan transaksi dengan Hanzi langsung. Misi akhirnya berhasil dengan maksimal. Tapi semuanya belum usai. Masih ada beberapa hal yang harus mereka lakukan untuk mencegah dampak yang terjadi selanjutnya.


"Aku rasa kau jangan pulang dulu ke apartemenmu, Iko. Aku khawatir ada kamera di kereta bawah tanah yang mengenali wajahmu." Afgan berpesan.


"Aku setuju." Deni juga meminta Iko untuk bersembunyi lebih dahulu.


Iko mengerti. Tak lama berita tentang operasi mereka pun muncul di layar TV. Tampak mereka yang mendengarkannya pagi ini.


Siaran langsung dari Convention Centre...


"Selamat pagi, Pemirsa. Pagi ini akan kami kabarkan sebuah kabar duka yang datang dari negeri ini." Pembaca berita mengawali perkataannya.


"Sepuluh pejabat tinggi dinyatakan meninggal dunia setelah menghadiri pertemuan penting dengan para pejabat dari negara lainnya. Kejadian ini masih dalam proses penyelidikan polisi dan belum diketahui penyebabnya pasti. Namun, praduga sementara pihak kepolisian mengaitkan hal ini ada hubungannya dengan pembantaian yang terjadi di rumah menteri keuangan waktu itu. Tapi baru hanya sebatas asumsi semata. Belum mendapatkan bukti yang nyata," kata pembaca berita lagi.

__ADS_1


Afgan berdiri dari duduknya. "Sepuluh dari lima belas target sudah lenyap. Aku rasa ini pencapaian yang luar biasa." Afgan merasa bangga.


"Ya, aku juga sangat berterima kasih atas kerja sama kalian. Kalian sungguh luar biasa." Bram menimpali.


"Jadi berapa total uang yang kita dapat?" tanya Odi kemudian.


"Lima juta dolar. Aku rasa kita bisa membaginya secara rata," terang Deni.


Hans tampak keberatan. "Aku sudah babak belur seperti ini. Itu tidak adil jika kita mendapat bagian yang sama rata!" Hans tidak terima.


"Aku tidak masalah," jawab Odi.


"Aku juga." Bram menimpali.

__ADS_1


"Bagaimana yang lainnya?" tanya Afgan segera.


Tampak satu per satu dari mereka pun menyetujuinya.


"Baiklah. Kesepakatan telah diraih. Kita bagi sesuai proxy dan tingkat luka yang dialami. Kami akan segera menransfernya esok hari. Karena kalau hari ini khawatir menuai kecurigaan di pihak perbankan." Afgan mengambil keputusan.


Mereka semua yang terlibat dalam operasi tampak menyetujui pembagian harta rampasan yang berhasil mereka dapatkan. Mereka pun akhirnya merayakan keberhasilan ini dengan meneguk beberapa botol minuman. Tampak Nana yang tidak ikut serta di sana karena harus merawat Iko yang luka-luka. Ia pun tampak bersedih hati melihat suaminya yang harus menanggung luka.


"Aku akan menemanimu di sini sampai esok hari. Untuk sementara jangan pulang dulu ke apartemen. Aku khawatir ada yang membuntuti atau mencari tahu." Nana berkata kepada Iko sambil mengompres luka lebam di leher Iko.


"Ya, Sayang." Iko pun tampak menurutinya.


Sebagai seorang istri, tentunya Nana begitu mengkhawatirkan keadaan suaminya. Ia pun ingin bicara terus terang apa yang dilakukan oleh suaminya itu salah. Tapi Nana belum mempunyai keberanian untuk mengatakannya. Ia masih harus menunggu waktu yang tepat untuk bicara. Tak lain agar Iko tidak tersinggung dengan perkataannya. Nana mencoba mengerti keadaan suaminya.

__ADS_1


Lain Nana, lain juga dengan Naga. Tampak Naga yang mendapat beberapa jahitan di tubuhnya setelah bertarung dengan Esa dan kawan-kawannya. Dan kini salah satu personil dari intel kepolisian itu tampak dirawat di rumah sakit milik tentara. Hara pun datang menjenguknya. Ia turut prihatin dengan apa yang terjadi pada Naga. Namun, Naga malah seperti tidak menghiraukannya. Ia malah memikirkan seseorang di sana.


"Aku ingin sekali menemuinya sekarang," terang Naga ke Hara.


__ADS_2