CINTA DAN KRIMINAL

CINTA DAN KRIMINAL
Perampok Bertopeng


__ADS_3

Beberapa hari kemudian...


Malam yang dingin menyelimuti sebuah rumah yang ada di pinggiran kota. Awan mendung memenuhi langit yang gelap gulita. Hujan lebat pun turun membasahi setiap permukaan tanah. Tampak sekelompok manusia berpakaian hitam dan bertopeng menyelusuri kediaman yang ada di sana. Sebuah rumah milik salah satu pejabat negeri ini. Mereka menyelinap di antara para penjaga yang ada. Mereka bergerak cepat di tengah derasnya suara hujan.


Salah satu dari mereka kemudian menembakkan peluru ke arah penjaga-penjaga di sana. Namun, peluru itu tidak menimbulkan suara, karena memakai peredam tingkat tinggi. Yang mana akibat terkena tembakan darinya, lawan akan cepat mati. Suasana mencekam pun menyelimuti rumah pejabat negara tersebut. Sekelompok manusia berpakaian hitam segera masuk. Mencari target sasarannya.


"Cepat-cepat!"


Pemimpin dari mereka pun memberi tanda agar segera bergerak cepat. Mereka kemudian menelusuri setiap isi rumah dan mengambil harta bendanya. Hingga akhirnya eksekusi menjadi penuntas kedatangan mereka.


Beberapa menit kemudian...


Sirene mobil polisi terdengar saat salah satu korban menelepon nomor polisi dari ponselnya. Namun, tak lama kemudian korban tersebut meninggal di tempat. Menyebabkan para perampok yang datang gelagapan.

__ADS_1


"Ayo cepat! Kita tinggalkan tempat ini!"


Pria-pria bertopeng itu segera melarikan diri dari kediaman sang pejabat negara. Polisi pun memberi peringatan keras kepada mereka. Namun, mereka terburu lari dengan menggunakan rencana darurat. Alhasil para perampok itu tidak tertangkap. Sedang anak sang pejabat tampak meraung-raung, menangis kencang melihat kedua orang tuanya berlumuran darah.


"Ayah ... Ibu ...."


Tragis dan sadis. Itulah yang terjadi ketika uang sudah membutakan mata hati. Hujan yang turun pun menjadi saksi akan anak-anak yang kehilangan orang tuanya. Mereka tak bersalah tapi harus menanggung derita.


"Kalian tidak apa-apa?" tanya seorang polisi yang mendekati mereka.


Sementara itu...


"Hah, hampir saja."

__ADS_1


Satu per satu dari perampok itu melepas topengnya saat sudah masuk ke dalam mobil yang menunggu mereka. Terlihat beberapa pria berusia sekitar 30-40 tahun duduk bersama di dalam mobil sambil memegang senjata masing-masing.


"Malam ini usaha kita berhasil. Mari rayakan keberhasilan kita," ucap salah satu dari mereka sambil tertawa.


"Kau jangan terlalu senang dulu, Kai. Tugas kita masih banyak," sahut pria yang lain.


"Hah. Aku harap kita bisa segera menikmati hasil rampokan ini," tutur yang lainnya.


Mereka adalah sekelompok perampok bertopeng yang seringkali mengincar rumah pejabat negara yang korup. Meraka amat tidak suka jika ada pejabat negara mengorupsi uang rakyatnya. Karena itulah mereka bertindak cepat dengan masuk ke rumah lalu membunuh pejabat negara tersebut. Tak lain tak bukan untuk menuntut keadilan. Karena mereka mencintai perdamaian.


"Hei, Di. Kenapa kau tidak mengeksekusi anak-anak itu juga?" tanya salah satu dari mereka kepada yang lebih muda.


Pria itu menjawab sambil memegang senjata laras panjangnya. "Aku teringat masa kecilku. Aku tidak tega membunuh mereka. Anak-anak itu tidak bersalah. Mereka masih belum tahu apa-apa. Mereka juga masa depan negeri kita," jawabnya tanpa ragu.

__ADS_1


Sontak sekelompok perampok bertopeng itu pun saling melirik satu sama lain.


__ADS_2