
" Kruk...kruk...kruk..." Lagi dan lagi perut Alifa yang tidak pernah tahan jika terlambat makan langsung menyanyikan suara indah dan membuat Fardan tersenyum kecil mendengarnya .
" Aish...kebiasaan nih perut , lapar dikit udah bernyanyi ria , bikin malu aja..." Batin Alifa .
" Sepertinya istriku sedang kelaparan ya ." Goda fardan .
" Mg...nggak kok ."
" Yakin..." Tanya Fardan . Dengan cepat Alifa menganggukkan kepalanya .
Namun dengan cepat pula perut Alifa kembali berbunyi .
" Sepertinya perut mu lebih jujur dari mulutmu ."Ucap Fardan sembari melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya .
" Dan ini memang sudah saatnya makan siang , ayo... " Ajak Fardan sembari menarik lembut pergelangan tangan Alifa
" Kita mau kemana ?."
"Ke dapur ." Jawab Fardan .
" Mau ngapain ?." Tanya Alifa polos .
" Mau tidur... " Jawab Fardan asal . Dan kini dia sudah mulai merasa kesal dengan istri bawel nya .
" Tidur kok di dapur sih Kak , seharusnya kan di kamar ."
" Astagfirullah Alifa , kalau ke dapur tuh pastinya mau masak bukan mau tidur ." Ucap Fardan kesal .
" Tapi kan Kak Fardan sendiri tadi yang bilang kalau Kak Fardan mau tidur di dapur ."
" Udah , mendingan kamu duduk manis aja disini dan jangan banyak tanya , soalnya ocehan kamu itu bikin aku pusing ."
" Aha...ha...ha... Emang enak aku bikin Kak Fardan kesal ." Alifa tertawa dalam hati . Dia memang sengaja bersikap bodoh untuk membuat suaminya merasa kesal .
" Tapi bukannya tadi Kak Fardan bilang ada Art juga disini ."
" Memang ada tapi besok ."
"Kok gitu ."
" Karena Kevin masih belum mencarikan aku pelayan yang tepat dan yang terpenting sudah tidak muda lagi ."
"Ooo..." Alifa hanya berOria
" Ya sudah aku mau masak dulu ."
" Aku bantuin ya Kak..."
"Gak usah , biar aku masak sendiri aja ."
" Gak bisa , pokoknya aku akan bantuin Kak Fardan masak ti...tik ."
" Hadeh... Gadis ini benar-benar keras kepala , jadi percuma saja jika aku melarangnya ." Batin Fardan .
Dengan berat hati Fardan mengijinkan Alifa membantunya memasak .
__ADS_1
Setengah jam kemudian masakan mereka sudah tertata rapi di meja makan .
Alifa yang sudah tidak sabar untuk mencicipi makanan yang terlihat menggugah selera itu ,dengan cepat dia menuangkan makanan ke piringnya , hingga dia lupa untuk mengambilkan makanan untuk suaminya .
" Apa makanan bisa membuatmu lupa kalau kamu sudah memiliki suami ." Sindir Fardan , dan hal itu membuat Alifa mengurungkan niatnya untuk memasukkan suapan pertamanya dan menaruh kembali sendoknya .
Karena dia sudah mulai sadar akan kesalahannya .
" Mana mungkin aku melupakan suami tampanku ." Ucap Alifa sembari mengambil piring Fardan dan menuangkan makanan di piring suaminya itu .
" Dasar suami manja ..." Batin Alifa .
" Selamat makan suamiku..." Ucap Alifa sambil tersenyum manis namun dengan senyum yang di paksakan .
" Terima kasih , tapi lain kali tidak usah senyum kalau tidak ikhlas ."
" Sepertinya kau sangat mengenalku Kak , hingga aku memaksakan senyumku saja , kamu mengetahuinya ." Batin Alifa .
Selesai makan Fardan langsung berlalu pergi begitu saja tanpa mengeluarkan satu patah kata pun .
Berbeda dengan Alifa yang kini tengah sibuk membereskan meja dan mencuci piring kotor bekas mereka makan .
Setelah itu Alifa bergegas pergi ke kamarya .
Sesampainya di kamar dia tidak mendapati suaminya berada di sana .
" Kemana dia..." Batin Alifa .
Dia pun mencari Fardan ke kamar mandi namun tidak di temuinya , Alifa pun membuka pintu menuju balkon , dengan berharap suaminya tengah ada di sana ,
Alifa menghembuskan nafasnya dengan kasar sambil membatin " Kemana perginya pemuda nyebelin itu ." Alifa ingin membalikkan badannya , namun dia urungkan karena dia melihat seseorang tengah duduk di sebuah taman yang indah yang berada di belakang rumahnya dan kebetulan balkon kamarnya mengarah ke taman indah itu .
" Pantesan aku cari-cari gak ketemu juga , ternyata dia ada di sana ." Ucap Alifa .
Tanpa berpikir panjang dia pun bergegas pergi ke taman itu .
Sesampainya di taman , Alifa sangat terpukau saat melihat banyak bunga mawar putih bertebaran di taman itu .
Ya... karena memang sejak kecil Alifa sangat menyukai bunga mawar putih .
" Owh...ya ampun.... indah sekali bunga ini , kenapa bisa ada bunga kesukaanku di sini ." Ucap Alifa dengan senyum yang terus mengembang dari bibir mungilnya namun sexi .
" Tentu saja ada ,karena aku sendiri yang menanamnya dan merawatnya untukmu ." Ucap Fardan yang duduk tak jauh dari tempat Alifa berdiri .
Alifa membalikkan badannya dan berjalan menghampiri Fardan .
" Benarkah ."Tanya Alifa tak percaya bahwa suaminya telah melakukan itu untuk Alifa .
Fardan hanya menganggukkan kepalanya .
" Duduklah ...." Ucap Fardan sembari tersenyum .
" Terima kasih..." Karena terlalu senang reflek saja Alifa memeluk Fardan dari samping dan...
Cup
__ADS_1
Tanpa sadar Alifa mendaratkan ciuman di pipi mulus suaminya .
Dan tentu saja hal itu membuat Fardan terkejut , namun tak bisa di pungkiri bahwa saat ini hatinya merasa berbunga-bunga karena mendapatkan ciuman dari istri yang diam-diam dia cintai selama ini .
"Ini bukan mimpi kan..., tpi jika ini bukan mimpi , aku mohon tolong jangan bangunkan aku ." Batin Fardan .
"Astagfirullah... Apa yang aku lakukan ." Batin Alifa saat dia sudah menyadari apa yang sudah di lakukan nya terhadap suami tampan nya .
Dengan cepat Alifa melepaskan pelukannya , kini dia benar-benar merasa malu dengan tingkahnya sendiri .
Wajah gugup terlihat jelas dari keduanya , namun Fardan dengan cepat menutupi kegugupan nya dengan memasang wajah datarnya .
" Kamu pintar sekali ya mengambil kesempatan dalam kesempitan ." Ucap Fardan sambil menatap wajah istrinya yang kini sudah memerah bak kepiting rebus karena menahan malu .
Namun itu tak berlangsung lama , karena kini wajahnya telihat kesal akibat ucapan suaminya yang memiliki kepedean tingkat dewa .
" Apa kamu bilang , aku mengambil kesempatan dalam kesempitan..., hei... seharusnya aku yang mengatakan itu terhadapmu ."
" Benarkah... tapi bukankah kamu yang menciumku , tanpa aku suruh dan tanpa aku minta bahkan kamu terlihat sangat semangat untuk menciumku tadi ." Goda Fardan .
"Bodoh...kenapa aku bisa melakukan hal sekonyol ini sih... ." Batin Alifa .
" A...aku tadi itu hanya karena terlalu senang saja ,maka dari itu refleks saja aku menciummu , ah... sudahlah lupakan saja ."
" Percuma aku berdebat dengan nya , karena disini memang aku salah ." Batin Alifa
" Bagaimana aku bisa melupakan momen langka ini , ini akan menjadi momen terindah dalam hidupku ." Batin Fardan .
" Sedikit ada kemajuan , ya... meskipun dengan tidak kesengajaan ."Fardan kembali membatin .
-
-
-
-
-
**Hai semua...
author minta maaf ea...
karena author baru bisa up
soalnya author baru aja sembuh dari sakit .
tapi alhadulillah sekarang udah mendingan .
Dan author harap dukungan dari kalian
dengan like vote dan kasih komentar .
biar author makin semangat nih... nulisnya .
__ADS_1
see you...😉😉😉**