
Pengakuan Prisha membuat Hani curiga ada yang sengaja menjahili Prisha.
"Apa jangan-jangan ada yang sengaja usil ngerjain kamu?" Tanya Hani ketika mereka dalam perjalanan menuju gerbang sekolah.
"Bisa jadi. Tapi kita gak bisa nuduh sembarangan tanpa ada bukti. Nanti jatuhnya suudhon."
Sebenarnya Prisha juga mencurigai Elina dan Mega. Pasalnya merekalah yang berdiri disamping tas Prisha waktu ia membagikan nasi kotak. Disamping itu sudah bukan rahasia lagi jika Elina memusuhinya bahkan pernah mengancam ingin membuat Prisha tidak betah belajar di SMK Kusuma. Namun ia diam saja. Hani adalah orang baru dihidup Prisha, mereka kenal belum lama ini. Masih ada kekhawatiran tentang sebuah kepercayaan di hati Prisha. Bisa saja ia tidak percaya dengan apa yang ia ceritakan tentang kejahatan Elina and the geng yang selalu membullynya.
"Gak usah sok sok an deh elo. Kalau ada yang elo curigai mending elo terus terang deh sama gue. Buat jaga jaga biar gak ada kejadian kayak tadi lagi. Gue siap kok jadi pengawal elo" kata Hani.
"Pengawal? Emangnya aku tuan putri kerajaan apa? Sampai harus dikawal segala. Lagian yang udah lewat ya udah. Gak usah diungkit-ungkit. Buat pembelajaran aja. Cuman masalah papan nama dari kardus doang kan. Ntar juga bisa buat lagi dirumah. Kardus bekas masih ada. Tali rafia juga masih. Gampang itu. Ntar kalau sampai rumah aku buat lagi deh biar besok gak dihukum sama kak Rama lagi."
Prisha berkata sambil tersenyum ke arah Hani.
"Terserah elo deh. Yang penting kalau ada apa-apa itu ngomong. Jangan dipendam sendiri. Itu pun kalau loe nganggap gue temen" kata Hani sewot.
" Tuh kan malah nyolot. Iya ya Ntar kalau ada apa-apa aku bilang deh biar dibantuin sama kamu. Makasih ya sudah mau temenan sama aku." Prisha merangkul bahu Hani.
" Ya udah. Gue mau ngambil motor dulu di parkiran. Mau sekalian pulang bareng nggak?" tawar Hani.
"Terima kasih ya tawarannya. Tapi untuk hari ini aku pulangnya naik angkot aja. Ntar malah merepotkan. Rumah kita kan beda arah. Lagian ini kan sudah sore. Kalau kamu nganterin aku pulang dulu yang ada kamu malah kemaleman pulangnya."
Setelah ber say Goodbye mereka pun melangkah menuju tempat tujuan mereka masing-masing.
Hani segera melangkah menuju parkiran untuk mengambil motornya. Sementara Prisha menunggu angkot dipinggir jalan. Tidak lama sebuah angkot yang menuju rumahnya datang. Ia segera melambaikan tangan menyetop angkot itu. Angkot berhenti tepat didepan Prisha. Prisha serta teman-teman yang searah dengannya segera pulang menaiki angkot tersebut. Sedangkan Hani ia pulang menggunakan motor.
...****************...
Hari ke2 MPLS segera dimulai. Prisha semakin waspada dengan Elina dan Mega. Karna hari ini menu makannya biasa , tidak aneh-aneh. Maka Prisha menolak menghandel kontak makan. Mereka membawa perlengkapan MPLS sendiri-sendiri dari rumah. Termasuk makanan.
Untuk menghindari kejahilan Elina dan Mega, sebelum apel dimulai Prisha sengaja menjauh dari grombolan kelompoknya. Ia memilih duduk dipos satpam. Prisha berfikir Elina dan Mega tidak akan berani menjahilinya jika ada Susilo sang satpam sekolah. Ia duduk sambil melamun menatap apa saja yang lewat didepannya. Hingga suara sapaan Susilo memecah lamunan.
__ADS_1
"Pagi pak Andrian" sapa Susilo yang melihat Andrian masuk gerbang sekolah lalu turun dari motornya sambil menuntunnya menuju parkiran.
"Pagi juga pak"
Andrian hanya menjawab seperlunya saja. Ia tetap melangkah masuk. Hingga ia melihat Prisha duduk disamping ruang keamanan. Matanya sedikit melirik Prisha kemudian kembali tertuju pada Susilo.
"Itu siswa baru bapak bawa ke pos kenapa pak. Apa buat masalah?"
Andrian menunjuk kearah Prisha dengan sorot matanya. Dalam hati Prisha begitu kaget dengan ucapan Andrian. Apa tampangnya seperti cabe cabean yang suka membuat ulah. Ia kemudian melihat dirinya sendiri dari atas sampai bawah. Tidak ada yang aneh atau berlebihan. Penampilannya masih sama seperti tadi pagi saat ia mengaca sebelum berangkat. Sama seperti peserta lain yang sedang mengikuti MPLS.
"Siapa pak? Dari tadi saya cuman duduk disini sambil merhatiin anak-anak yang baru datang."
Tanya Susilo penasaran. Ia hendak menghampiri Prisha, namun urung karena ada siswa baru datang dan meminta bantuannya.
Andrian meletakkan motornya didepan pos satpam. Menepikannya. Lalu melangkah menghampiri Prisha. Aroma sabun sisa mandi dan parfum yang menguar menuju indra penciuman Prisha, membuat jantungnya berdetak lebih cepat. Pasalnya ia terlanjur terpesona dengan Andrian dihari pertama MPLS. Prisha yang lugu dan belum pernah jatuh cinta begitu polos. Sehingga didekati begitu saja sudah grogi.
"Kenapa duduk disini? Ada masalah?" Tanya Andrian
"eeem.. Ya sudah. Sekarang mending kamu segera kehalaman. Sebentar lagi apel pagi dimulai. Jangan sampai kamu terlambat dan menjadi bulan-bulanan senior. Bukannya kemarin kamu sudah dihukum sampai pingsan?"
Kata-kata Andrian biasa saja. Bahkan cenderung kasar. Tapi bagi Prisha itu seperti sebuah perhatian yang ditujukan khusus untuknya. Ia segera melangkah menjauh dari pos satpam menuju halaman sekolah dengan sebuah semangat baru.
"Kenapa baru dateng?"
Tanya Hani dengan suara lirih. Hani berada diurutan 2 terbelakang. Sedangkan diujung barisan adalah Prish0a.
"Sengaja. Nongkrong dulu tadi dipos satpam"
jawab Prisha. Mereka segera diam karena kegiatan apel pagi segera di mulai.
"Alhamdulillah ya Han gak kena hukuman"
__ADS_1
Kata Prisha lega.
"Itu sih cuman berlaku buat elo. Kan gue dari kemarin gak dihukum. Gue kan anaknya disiplin" jawab Hani meledek.
"Aku juga orangnya disiplin. Kemarin itu kan cuman kecelakaan aja." Elak Prisha
"ya deh.. Suka suka elo. Yang penting jangan pingsan lagi. Males kalau harus bopong elo ke UKS."
"aman. Hari ini gak akan pingsan lagi. Udah dapet imun Booster." Kata Prisha sambil tersenyum membayangkan wajah Andrian.
Prisha, Hani dan peserta MPLS yang lain melangkah menuju ruang auditorium untuk mendapatkan materi. Sesuai jadwal yang sudah tertulis di buku panduan. Hari kedua ini akan diisi dengan presentasi makalah yang sudah mereka kumpulkan dihari pertama. Namun sebelum itu mereka diperkenalkan dengan semua pengurus OSIS, dan panitia MPLS.
"Han, kelompok kita yang presentasi makalah Elina sama Mega kan?" tanya Prisha memastikan.
"Ya kali. Tadi waktu di briefing sama ketua, gue males dengerin mereka ngomong. Terlalu sombong dan meremehkan orang lain." jawab Hani cuek.
"Acara selanjutnya presentasi makalah. Tidak semua makalah bisa di presentasikan. Kami hanya mengambil 3 makalah yang terbaik dengan judul yang menarik"
Kata host di podium. Ada tiga makalah yang disebut untuk presentasi dan diantara 3 itu ada makalah yang dibuat oleh Prisha.
"Hebat elo Sha. Makalah yang elo buat masuk 3 terbaik."
Hani bertepuk tangan mengakui kecerdasan Prisha. Namun Prisha tak terlihat senang. Ia justru tegang dan murung. Takut kalau-kalau ia disuruh maju presentasi dan akan mempermalukan diri sendiri.
"Aku kan cuman nyusun sama ngedit aja. Pemikirannya kita bareng-bareng" kata Prisha merendah.
"Tetep aja elo hebat. Ya udah sana maju sama Elina. kan elo yang buat."
Hani sedikit menarik Prisha berdiri. Namun yang ditarik kembali duduk. Ia takut tidak bisa berbicara di depan umum. Ditambah lagi ia melihat Andrian melangkah menuju ruang auditorium. Bisa jadi Andrian adalah salah satu juri yang akan menilai presentasi peserta.
~{Terkadang cinta tak hanya membutakan. Tapi sekaligus merusak indra pendengaran. Kata-kata biasa jika itu terucap dari sang pencinta akan terdengar indah seperti syair}~
__ADS_1