
"Dek.. Apa kamu baik-baik saja"
Tanya Andrian kepada Prisha yang masih terkulai lemah di ranjang UKS. Sebagai pembina, Andrian sudah mengawasi jalannya apel pagi. Ia berdiri didepan ruang guru sejak datang. Ia sedikit kecewa melihat tingkah Rama yang membentak-bentak tadi.
"Sudah tidak apa-apa pak. Hanya masih sedikit pusing"
Jawab Prisha yang mencuri atensi dari Andrian. Matanya sedikit membola mendengar jawaban Prisha. Pasalnya ia dipanggil dengan sebutan pak bukan kak seperti yang biasa dilakukan oleh siswa.
"Kalau begitu kamu istirahat dulu disini. Nanti kalau sudah mulai materi, baru menyusul ke ruang auditorium" kata Andrian dengan wajah datar.
"Dan untuk kamu silahkan bergabung lagi dengan panitia lain ke halaman"
pintanya pada panitia perempuan yang menunggui Prisha tadi.
"Sekalian panggilkan Rama kesini. Katakan kalau saya mau bicara. Saya tunggu"
imbuh Andrian yang hanya dijawab anggukan.
Andrian melangkah menuju kursi yang terletak di ruang perawatan. Ia duduk dengan punggung bersandar dikursi sambil menatap ke arah luar. Sikapnya dingin tapi penuh perhatian membuat Prisha begitu penasaran dan mencuri pandang pada sosok pria berkemeja putih didepannya.
Suasana UKS begitu sepi. Karna hanya ada dia dan Andrian di sana. Entah kenapa dari sekian banyak siswa yang dijemur didepan hanya Prisha yang pingsan. Ia merasa malu karena terlihat begitu lemah didepan banyak orang.
Tak tak tak
Suara langkah kaki datang ke arah ruang kesehatan sekolah. Pintu ruangan terbuka memperlihatkan sosok Rama. Andrian berdiri dari duduknya. Kemudian Rama membungkuk memberi hormat.
"Ada apa kak, kata teman saya kakak memanggil saya kesini?"
Tanya Rama pura-pura tak tahu.
"Tidak usah basa-basi. Kamu tentu tahu alasan saya panggil kamu kesini." Jawab Andrian
__ADS_1
"Dari awal saya sudah peringatkan kalau jangan sampai ada kekerasan saat pelaksanaan MPLS. MPLS itu kegiatan pengenalan sekolah, bukan kegiatan uji nyali. Jadi harus dilaksanakan secara menyenangkan agar peserta nyaman. Tapi saya lihat tadi pagi kamu bentak-bentak peserta dan menjemurnya di depan. Sampai ada yang pingsan. Dan entah kebetulan apa lagi ini. Peserta yang pingsan adalah orang yang sama dengan yang kamu kerjain saat mendaftar sekolah. Saya tidak tahu dengan masalah yang terjadi diantara kalian. Tapi pesan saya jangan sekali-kali kamu menyalah gunakan jabatan hanya untuk menuruti ego saja. Saya bicara seperti ini karna saya perduli dengan kamu. Saya bisa saja memarahimu didepan peserta. Tapi saya tidak mau. Saya lebih suka menasehatimu secara baik-baik disini. Hanya didepan orang yang sudah kamu bentak-bentak tadi. Kenapa begitu? Karena saya tahu jika saya memarahimu didepan umum maka kamu akan malu." Terang Andrian.
"Saya minta maaf kak. Saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi"
Rama masih menunduk tidak berani memandang Andrian. Sikap Andrian yang dingin membuat lawan bicaranya diam tak berkutik.
"Kamu fikir saya percaya janji kamu? Waktu pendaftaran kamu sudah mengatakan hal yang sama kepada saya. Tapi apa kamu melakukannya? Tidak. Kamu justru mengulangi kesalahan yang sama pada orang yang sama pula. Saya ragu apakah kamu ini lelaki atau tidak. Karna yang namanya lelaki sejati jika berjanji pasti akan selalu ditepati."
Kata-kata terakhir Andrian sungguh tajam. Seolah ia mengganggap Rama "banci". Namun Rama tak berani membantah apapun. Ia masih menundukkan kepala.
"Maaf kak"
Hanya kata itu yang terucap dari bibir Rama lagi dan lagi. Entah kemana lenyapnya Rama yang tadi pagi membentak peserta di halaman sekolah. Sekarang yang ada tinggallah Rama yang seperti kucing ketahuan mencuri ikan oleh tuannya. Hanya diam. Diam dan diam seribu bahasa.
"Meminta maaflah kepada dia. Karna dia yang kamu sakiti."
Andrian menatap ke arah Prisha. Prisha yang tadinya menatap kearah mereka berdua seketika mengalihkan pandangan.
Kata Rama yang kini menghadap Prisha.
"Ya kak tidak apa-apa" jawab Prisha kemudian.
"Ya sudah itu saja yang mau saya katakan. Silahkan kamu lanjutkan kegiatan lagi. Ingat. MPLS itu kegiatan pengenalan lingkungan sekolah. Bukan uji nyali. Jadi buat peserta se nyaman mungkin."
Pesan Andrian kepada Rama yang langsung dijawab dengan anggukan.
Kepergian Rama membuat suasana ruang kesehatan sekolah menjadi sepi lagi. Andrian mendekat ke arah brangkar yang dijadikan tempat tidur Prisha.
"Dek saya tinggal dulu ke kantor. Masih ada beberapa pekerjaan yang belum selesai. Nanti kalau butuh minum silahkan ambil ke ruang guru atau TU. Jika nanti merasa pusing lagi ambil saja minyak angin di kotak P3K. Jika butuh bantuan bisa panggil saya. Saya di ruang sebelah. Nanti kalau sudah merasa baikan silahkan bergabung dengan peserta lain di ruang auditorium."
Andrian berkata dengan lembut. Kemudian tersenyum tipis dan melangkah menjauh keluar ruangan.
__ADS_1
Kepergian Andrian membuat Prisha bisa bernafas dengan lega. Namun tak dapat dibohongi kalau jantungnya berdetak dengan cepat. Deg deg deg.. Ada perasaan berbeda dihatinya. Masih sangat dangkal jika disebut dengan cinta. Tapi sungguh ia terpesona kepada sosok Andrian yang mengayomi. Terlebih Andrian dan Prisha belum saling mengenal.
Prisha masih berbaring diruang kesehatan sekolah. Ia sedikit menerka-nerka tentang percakapan Andrian dengan Rama tadi. Jika benar yang dikatakan Andrian, berarti Andrian sudah memperhatikannya sejak awal mendaftar ke sekolah ini. Ada sebuah tanda tanya besar dikepalanya tentang maksud perkataan Andrian yang mengatakan Rama dan dia ada masalah pribadi. Namun Prisha tak berani bertanya. Jangankan terlibat masalah, kenal dengan Rama saja tidak.
Disisi lain Prisha merasa bahagia bercampur haru mengguncah di dada. Belum pernah ada orang yang membelanya seperti yang Andrian lakukan padanya. Terkesan berlebihan memang. Tapi matanya sudah terlanjur terpesona pada sosok berkemeja putih itu. Wajahnya yang tampan. Sikap dinginnya. Caranya mengayomi Prisha. Sungguh bagi Prisha Andrian adalah malaikat berkemeja putih. Disaat semua orang memandang rendah dirinya. Membully dirinya dengan perkataan yang menyakitkan. Prisha begitu mengidolakannya dan ingin mendapatkan lelaki seperti itu dimasa depan.
...****************...
Hari pertama MPLS diisi dengan pengenalan sekolah itu sendiri. Latar belakang berdiri, visi misi hingga pengenalan para petinggi sekolah sekaligus tenaga pengajar. Tenaga pengajar tidak dihadirkan di ruang tersebut karena terlalu banyak. Namun hanya ada kepala sekolah yang mewakili hadir sekaligus memberi ucapan selamat datang kepada siswa baru. Kendati demikian para siswa cukup bisa mengenal guru mereka lewat foto yang ditampilkan di monitor.
Terik mentari yang menyengat kulit sedikit berkurang menandakan waktu sudah sore. Para siswa baru dikumpulkan kembali di halaman sekolah untuk melaksanakan apel penutup. Tidak ada bentakan lagi seperti tadi pagi. Semuanya damai membuat para peserta MPLS bernafas lega.
"Sha.. Maaf ya tadi pagi waktu kamu pingsan aku gak nemenin kamu ke ruang kesehatan"
Kata Hani yang berjalan bersisihan dengan Prisha menuju gerbang sekolah.
"Gak apa-apa Han. Lagian kalau kamu ikut ke UKS ntar malah bikin panitia tambah marah. Kita gak bikin salah aja dimarahin apalagi bikin salah kayak aku tadi pagi. Emang ya peserta selalu salah dimata panitia" jawab Prisha
"Ya iya lah. Namanya juga panitia. Kayak gak tau undang undang kepanitiaan saja. Poin 1 panitia tidak pernah melakukan kesalahan. Poin 2 jika panitia melakukan kesalahan maka kembali ke poin 1."
Hahaha tawa Hani dan Prisha bersamaan. Mereka teringat kelakuan panitia tadi pagi yang seolah mereka sengaja mencari cara agar bisa menghukum peserta.
"Lagian elo Sha. Ngapain gak bawa papan nama. Itu kan buat tanda pengenal." Tanya Hani kemudian.
"Aku itu bukannya sengaja gak bawa papan nama Han. Aku udah buat dari sore. Bahkan aku ingat kalau tadi pagi aku bawa. Cuman belum aku pakai. Seingat aku terakhir aku taruh diatas tas terus aku tinggalin bagi nasi kotak ke temen-temen. Begitu apel di mulai aku cari udah gak ada." Jelas Prisha
"Masak sih.. Kamu lupa kali" tanta Hani meragu.
"Nggak Han. Aku ingat betul kok tadi aku bawa" jawab Prisha meyakinkan.
"Apa jangan-jangan ada yang sengaja usil ngerjain kamu?"
__ADS_1