
Prisha berjalan menuju kelas dengan tertatih. Wajahnya murung. Ia dekap tas yang talinya putus dengan perasaan yang sangat sedih. Belum selesai masalah bon kantin dengan Andrian kemarin, sekarang sudah timbul masalah baru. Jika ia anak orang kaya, maka mudah saja baginya untuk melalui semua ini. Membayar makan 4 orang di kantin sekolah. Membeli tas baru. Tapi dia hanyalah Prisha. Anak petani dan penjahit kampung yang jika menginginkan sesuatu harus menabung sedikit demi sedikit. Sebenarnya tas Prisha memang telah usang, tapi ia masih tetap bertahan. Berharap ada tangan dermawan yang memberikan upah lebih pada jasanya mengantarkan jahitan.
"Prisha. Kok baru dateng? Kamu terlambat ya?" tanya Gita yang melihat wajah murung Prisha. Ia mengira jika Prisha murung karena dapat teguran dari pihak keamanan sekolah.
"Gak kok. Udah dari tadi" Jawab Prisha dengan lesu.
"Syukur deh kalau gitu. Kirain tadi terlambat. Soalnya waktu apel pagi kita clingak clinguk gak nemu loe." Jawab Gita lega.
"Selamat pagi anak anak" sapa seorang guru yang baru saja masuk ke dalam kelas. Suasana kelas yang tadinya ramai dengan suara siswa yang asyik mengobrol kini mendadak sunyi. Semua diam dan setiap mata itu hanya tertuju ke satu titik. Yaitu guru yang mengajar di kelas.
Sepanjang pelajaran Prisha tak bisa konsentrasi belajar. Fikirannya berkelana memikirkan apa yang akan di lakukan Elina end the geng kepada dirinya. Sering kali ia disenggol Gita ketika mendapat teguran atau pertanyaan dadakan dari guru.
Teeetttt.. Teettttt.. Teeetttt
Bel sekolah berbunyi. Tanda jika jam pelajaran telah usai. Mereka bersorak kegirangan karena bisa bernafas lega tanpa tekanan berupa pertanyaan atau latihan soal dari guru. Buku pelajaran segera mereka masukkan ke dalam tas sekolah. Mereka berhamburan keluar untuk sejenak menghirup udara segar. Ada yang sekedar pergi ke toilet. Ada yang ke perpustakaan sekolah, ada juga yang pergi ke kantin sekolah untuk mengisi perut yang kroncongan. Mereka pergi ke tempat yang berbeda namun tujuan mereka tetap sama. Yaitu mengistirahatkan diri dari pelajaran sekolah.
"Ke kantin yuk. Laper nih" Ajak Hani ketika Prisha masih memasukkan bukunya ke dalam tas. Sementara Gita hanya duduk di kursinya sambil memperhatikan Prisha.
"Ayo. Gue juga leper nih. Tadi pagi cuman sarapan roti sama minum teh doang." Jawab Gita
"Elo sih Ta. Berlagak kayak orang luar. Kalau kita belum makan nasi mah tetep namanya belum makan" Hahaha Hani dan Gita tertawa bersama. Menertawai diri mereka sendiri yang selalu kompak jika membahas makanan. Bagi orang desa seperti mereka, makan roti atau makanan ringan memang belum di anggap makan. Sekalipun makanan itu terbuat dari beras seperti arem-arem tetap saja bagi mereka itu belumlah makan.
__ADS_1
Gita dan Hani tertawa bersama. Namun Prisha hanya tersenyum. Membuat teman-temannya khawatir.
"Elo kenapa sih Sha. Dari pagi kayak gak bersemangat. Ngelamun melulu. Ada masalah?" Tanya Gita setelah tawa mereka reda. Gita menggeser kursi yang ia duduki mendekat ke arah Prisha. Ia tepuk punggung temannya itu untuk memberi sebuah kekuatan.
"Gak kenapa-kenapa kok. Cuman laper aja." Bohong Prisha.
"Masak sih? Gak percaya tuh." Jawab Hani ragu.
"Ya udah yuk kekantin bareng bareng" Kata Gita. Ia berdiri dari duduknya dan bersiap menggandeng tangan Prisha. Namun belum sempat Gita meraih tangannya, Prisha sudah berdiri.
"Kalian ke kantin aja duluan. Nanti aku nyusul. Nih aku udah bawa bekal dari rumah. Tapi mau ke toilet bentar" Prisha berdiri melangkah meninggalkan temannya yang masih diliputi tanda tanya. Ia berjalan terburu buru seolah telah kebelet. Namun semua itu hanya dusta. Sebenarnya bekal makannya tak akan bisa lagi dinikmati. Nasinya telah tumpah, bercampur menjadi satu dengan lauk karena insiden lempar lemparan tadi pagi. Namun ia tak mau terlihat lemah di depan teman-temannya. Ia bukanlah orang yang suka di kasihani atau suka meminta simpati orang lain. Ia lebih memilih memendam semuanya sendiri. Menikmati rasa lapar yang mulai melilit perut.
Prisha melangkah keluar kelas. Niatnya ingin istirahat sejenak di perpustakaan. Menghindar dari Elina end the geng. Biarlah setelah ini ia mendapat bullyan yang lebih perih asal jangan menyangkut soal uang. Ia paham Elina menyuruhnya menjadi kurir bukan hanya untuk membelikan makanan di kantin. Nanti ujung ujungnya Prisha disuruh membayar lagi seperti kemarin.
"Loe inget kan persyaratan kita tadi pagi?" tanya Elina dengan bersedekap. Menampakkan sifat angkuh. Prisha tak mau menjawab. Ia tetap diam dengan wajah yang menunduk ketakutan.
"Nih duitnya. Kita minta belikan Bakwan malang sama es" Fita melemparkan 3 lembar uang sepuluh ribuan ke arah Prisha.
"Buruan ambil terus berangkat. Lelet banget sih" Mega mendorong tubuh Prisha hingga ia jatuh tersungkur. Prisha segera memunguti uang yang telah jatuh ke lantai tersebut. Ia simpan uang tersebut kedalam saku seragamnya dan melangkah pergi. Tempat tujuannya adalah abang penjual bakwan malang yang berjualan di luar gerbang sekolah. Antrian panjang membuatnya harus sabar menunggu giliran. Setelah mendapatkan bakwan malang pesanan Elina end the geng, ia pun segera menuju kantin sekolah untuk membeli es.
"Loe udah disini aja Sha" kata Hani yang menemukan Prisha sedang berdiri menunggu es pesanannya.
__ADS_1
"Iya nih. Kalian kok baru kesini" Tanya Prisha dengan suara tergagap. Ia takut Hani dan Gita mencium kebohongannya.
"Kan tadi kita nungguin elo di kelas. Kirain habis dari toilet elo balik dulu ke kelas. Gak taunya langsung kesini." Jawab Gita yang sedang berdiri bersama mereka.
"Maaf ya buat kalian menunggu" Kata Prisha penuh sesal.
"Ya udah gak apa-apa. Yuk kita duduk disana" Gita menunjuk meja kosong yang terletak tak jauh dari mereka.
"Maaf ya. Aku gak bisa ikut makan bareng sama kalian. Soalnya ini aku mau anterin titipan orang dulu." Prisha memperlihatkan beberapa gelas plastik yang berisi es kepada Hani dan Gita. Prisha membayar minuman pesanannya lalu melangkah pergi. Tak lupa ia juga melambaikan tangan ke arah Hani dan Gita dengan penuh senyum palsu.
"Mbak maaf. Ini Elina, Mega sama Fita dimana ya. Kok gak ada di kelas?" Tanya Prisha pada teman sekelas Elina yang duduk di bangku depan. Terlihat gadis seusia Prisha tersebut sedang sibuk membaca buku.
"ada perlu apa ya mencari mereka?" Tanya gadis tersebut.
"Ini mbak, saya mau nganterin titipan mereka" Prisha memperlihatkan 2 kantong kresek yang ada di tangannya. Satu kantong berisi bakwan malang. Dan yang satu lagi berisi es.
"Ooh mereka pergi ke taman" Jawab gadis itu kemudian.
Prisha melangkah menuju taman sekolah. Setelah menemukan Elina ia pun segera mendekat. Mengulurkan plastik yang berisi pesanannya. Tanpa mengucap apapun, Prisha segera membalikkan badannya untuk pergi.
"cuih.. Makanan apaan ini. Pedes banget" Teriak Elina. Prisha hanya bisa berdiri mematung mendengar ocehan Elina. Pasalnya setahu Prisha biasanya Elina suka pedas. Sedangkan tadi ketika ditanya abang yang jualan ia bilang pedasnya sedang. Entah Elina yang bohong atau abang penjualnya yang salah. Yang pasti disini dialah yang salah. Tanpa bisa melakukan pembelaan apa apa.
__ADS_1
"Loe sengaja mau ngracun kita? Ngasih makanan pedes biar kita diare? Gitu?" timpal Mega. Prisha tak bisa berbuat apa apa selain menunduk meminta maaf. Tanpa di duga, Fita mengguyurkan bakwan malang yang baru dibukanya tersebut ke kepala Prisha. Disusul oleh Mega dan Elina yang melakukan hal yang sama.
"Nih loe makan sendiri. Kita gak doyan" Teriak Elina yang terus pergi bersama Mega dan Fita.