Cinta Di SMK

Cinta Di SMK
Bab 32


__ADS_3

Hari minggu adalah hari yang paling membahagiakan bagi Prisha. Bukan karna bisa bermalas malasan seperti yang digadang gadang anak sekolah seusia dia. Tetapi karena ia merasa lega bisa hidup tenang tanpa gangguan dari Elina yang tingkahnya menyebalkan itu.


Rutinitas pagi Prisha tetap sama. Hanya saja kali ini ia ingin sekali liburan ke sawah. Ya, sawah. Tempat wisata alam yang menyegarkan mata dan tak perlu mengeluarkan biaya. Tidak akan ada penunggu wisata yang meminta bayaran tiket masuk di sana. Tidak ada penjual makanan, minuman ataupun jajan. Semua gratis. Cukup membawa diri dengan memakai caping agar tak terlalu silau jika terkena sinar matahari. Tak perlu sunblok atau tabir surya untuk melindungi kulit dari sengatan matahari. Cukup memakai pakaian panjang yang sudah lusuh dengan sebutan telesan. Tak akan ada yang memikirkan kulit gosong disini. Karena bagi mereka kecantikan seorang gadis desa itu bukan soal kulit yang putih cerah. Tapi cantik itu ketika anak gadis dengan lugunya mau membantu orang tua di sawah.


"Buk. Hari ini Prisha gak bantu ibu jahit dulu ya" Kata Prisha ketika mereka sedang sarapan.


"Ya nduk. Gak apa-apa. Di enakin liburnya. Mumpung hari minggu" Jawab Ratna sambil mencocolkan daun bayam rebus kedalam sambal terasi.


"Ya buk" Jawab Prisha.


"Memangnya kamu mau liburan kemana nduk? Tumben pakai acara liburan segala" Ratna berbicara sambil mengunyah nasi yang diberi lalapan pete.


"Mau liburan ke sawah buk" Jawab Prisha


"Pak. Prisha hari ini ikut bapak ke sawah ya. Pengen liburan sambil makan jagung bakar" Kata Prisha kemudian. Keinginan yang sangat sederhana bagi anak remaja yang umumnya senang jika liburan di pantai atau sekedar nongkrong di kafe. Bahkan akhir-akhir ini mereka rela mengantri panjang hanya demi mengobati rasa penasaran mereka mencoba es krim yang sedang viral itu. Tapi jangankan ikut mengantri. Melirikpun ia tak mau. Ia lebih suka membeli es tung yang dijajakan keliling kampung.


"Liburan kok ke sawah" cibir Ratna


"Emang kenapa kalau ke sawah buk? Ibuk gak tau ya kalau bule bule yang tinggi putih itu di Bali suka liburan ke sawah. Padahal ke sawah di sana bayar lho buk." Jawab Prisha membela diri


"Ya ya. Nanti ikut saja ke sawah. Bapak malah seneng kalau ada temannya di sawah. Ada yang di ajak ngobrol" Kata Wijaya menengahi berdebatan ibu anak itu.


"Kalau gitu ibu ambilin pepaya samping gubuk ya pak. Sekalian sama tebu. Kayaknya enak di makan siang-siang pas cuaca panas gini" Kata Ratna memesan yang langsung di iyakan oleh Wijaya. Mereka melanjutkan sarapan pagi mereka dengan menu sederhana yang penuh kenikmatan itu.

__ADS_1


...****************...


Sawah di desa yang Prisha tinggali berbentuk undak undakan dengan tanaman padi yang hijau. Di pematang sawah ditanami kajang panjang yang tumbuh merambat pada lanjaran yang telah di sediakan. Ada juga yang menanaminya dengan jagung, kedelai, kacang hijau atau tanaman lainnya. Ditengah sawah terdapat gubuk yang disampingnya ada tanaman pepaya yang menjulang. Ada juga tebu yang bisa digunakan untuk mengobati dahaga.


Prisha melangkah melalui jalan setapak menuju sawah milik tetangga yang di garap oleh Wijaya. Ia buntuti bapaknya yang menuju kalen. Sebuah parit dengan air yang terus mengalir yang berasal dari sungai terdekat. Tempat itulah yang setiap hari digunakan penduduk desa untuk mengairi sawah mereka.


"Pak. Boleh Prisha cerita" Kata Prisha yang sudah duduk di gubuk bersama Wijaya. Hari sudah cukup terik. Prisha yang tadinya menyiangi rumput yang tumbuh diantara tanaman padi sambil menunggu air mengairi seluruh area persawahan sudah merasa lelah. Ia pun ber istirahat di gubuk sambil membuat jagung bakar.


"Boleh. Mau cerita apa? Bapak siap mendengarkan" jawab Wijaya sambil sesekali membalik jagung yang di letakkan diatas bara.


"Kemarin Prisha di fitnah teman Prisha. Prisha dituduh mengambil HPnya. Tapi Prisha berani bersumpah kalau Prisha gak melakukannya pak. Bapak percaya kan sama Prisha?" Kata Prisha berusaha terbuka.


"Iya nduk. Bapak percaya. Bapak yakin anak bapak gak mungkin melakukan hal itu. Kita memang miskin harta tapi tidak miskin ahlak. Biarlah mereka memfitnah kamu seperti itu. Tapi Tuhan tak pernah tidur. Dari atas sana Tuhan sudah melihat siapa yang sebenarnya melakukannya. Akan ada masanya pelakunya mendapat karma atas apa yang ia perbuat. Ibarat kita menaman pasti akan memetik hasilnya." Prisha hanya bisa duduk menatap Wijaya dengan perasaan haru.


"Gak apa-apa. Kalau bapak di suruh dateng pasti bapak dateng. Sekuat tenaga bapak akan bela putri bapak. Karna bapak yakin kamu tidak bersalah. Bahkan seandainya putri bapak di suruh keluar dari sekolah. Maka bapak akan carikan sekolah lain. Kamu tenang aja ya. Bapak akan jadi tameng penjagamu. Yang penting kamu giat belajar. Semangat sekolah untuk wujudin mimpimu " Mendadak cuaca yang panas menjadi sejuk seketika. Tutur kata Wijaya bagaikan setitik air hujan di kemarau panjang. Hati Prisha yang tadinya sedih dan meragu sekarang sedikit lega. Begitu bahagia ketika ada orang yang masih mempercayainya bahkan tetap memberikan kasih sayang yang melimpah.


...****************...


"Kok baru pulang nduk. HP kamu dari tadi bunyi terus lho" Sapaan Ratna menyambut kepulangan Prisha disiang yang terik.


"Ya bu. Tadi nemenin bapak nyabutin rumput. Sekalian nunggu air. Memang siapa yang telpon?" Tanya Prisha kemudian


"Ibu lihat tadi kayaknya yang telpon bu Ammy. Terus yang satunya gak ada namanya. Coba kamu cek dulu" Kata Ratna yang sibuk menata makan siang di dapur.

__ADS_1


"Nanti saja bu. Prisha mau mandi dulu. Udah gatel semua" Prisha melangkah menuju kamar mandi. Membasuh tubuhnya dibawah kran kemudian setelah mandi mencuci pakaian yang ia pakai dari sawah. Ia keluar kamar mandi dengan memakai handuk dan menenteng ember berisi cucian.


"Sha. Udah gede kok keluar kamar mandi gak pakai baju" Tegur Ratna yang melihat anak semata wayangnya meletakkan ember di pintu belakang dengan hanya memakai handuk.


"Maaf bu. Tadi Prisha lupa bawa baju ganti" Prisha buru buru berlari ke kamar mengenakan pakaian. setelahnya ia kembali ke ruang jahit ibunya untuk melihat handphon yang sudah ia tinggal sedari pagi.


"Hallo bu Ammy. Maaf ada apa ya bu tadi telphon Prisha? Maaf tadi HP Prisha dirumah, Prisha tinggal kesawah membantu bapak." Kata Prisha begitu ia melakukan telpon balik kebada Ammy. Ada 3 panggilan tak terjawab dari Ammy ketika ia pergi tadi.


"Gak apa Sha. Sekarang kamu masih sibuk gak?" Tanya Ammy dari sebrang telepon.


"Sudah tidak bu" Jawab Prisha sambil berjalan menuju meja makan menyusul ibu dan bapaknya.


"Bisa gak bantu mama belanja bahan. Soalnya mas Rian kuliah. Mbak yang biasanya saya ajak belanja lagi gak enak badan." Kata Ammy menjelaskan.


"Bisa bu. Dengan senang hati" Jawab Prisha yang sudah duduk di kursi makan. Ia mencomot tempe goreng buatan ibunya lalu memakannya sambil tetap melakukan panggilan.


"Ya sudah kalau gitu saya langsung jemput kamu ya. Tolong sherlock."


"Ya bu"


Prisha mematikan panggilannya lalu mengirim lokasi kepada Ammy lewat pesan chat. Setelah itu ia membuka aplikasi berkirim pesan dan menemukan pesan dari nomor tak dikenal.


[Sombong banget. Ditelfon gak diangkat. Awas aja besok]

__ADS_1


__ADS_2