Cinta Di SMK

Cinta Di SMK
Bab 38


__ADS_3

"Aaaaaaaa" Teriak seorang senior yang melihat Prisha kembali jatuh di dasar jurang. Hani dan Gita semakin panik mengetahui temannya belum bisa naik ke permukaan. Mereka sedih dan takut suatu hal buruk terjadi seperti yang ada di sinetron. Mereka tak bisa memaafkan diri mereka sendiri jika benar hal itu terjadi.


"Kak, gimana ini? Kita lapor aja ke pembina ya" Kata Gita memberi solusi. Menurutnya semakin banyak yang membantu maka peluang ketemunya Prisha semakin banyak.


"Ntar dulu. Mending kita cari dulu. Kalau masih gak ketemu baru lapor. Takutnya nanti malah jadi masalah besar." Jawab Rama menghalangi Gita untuk kembali ke atas mencari pembina yang masih berada di lokasi outbound. Ia tidak mau sampai bertemu dengan Andrian dan mendapat omelan seperti kemarin. Ia masih ingat betapa kejam dan mengerikannya Andrian jika sedang marah.


"Terus gimana ini kak? Temen temen yang lain sudah pada turun. Sementara kita masih belum menemukan Prisha." Kata Gita lagi. Ia begitu panik memikirkan nasib temannya yang tak tahu bagaimana keadaannya.


"Kita cari jalan kebawah aja. Nanti kita cari Prisha bareng-bareng. Aku yakin ada jalan menuju sana. Gak mungkin kan para petani kopi bisa sampai sana kalau gak ada jalannya" Kata salah satu senior memberi solusi. Gita, Hani, Rama dan beberapa taman serta senior yang lain terus berjalan. Hingga akhirnya dari kejauhan terlihat seorang warga yang menyandang ginjar rotan. Dari penampilannya bisa dipastikan bahwa ia adalah salah satu petani yang hendak memetik kopi. Mereka buru buru lari menghampiri petani tersebut.


"Pak, pak tunggu sebentar" teriak Gita berusaha mengejar petani kopi tersebut.


"Ya dek, ada apa?" tanya petani tersebut menghentikan langkahnya. Gita berusaha mengatur nafasnya sambil berjongkok memegangi lututnya. Setelahnya ia berdiri tegak menghadap petani tersebut dengan nafas yang masih ngos ngosan. Sementara teman yang lainnya berjalan cepat menyusul.


"Pak saya mau tanya. Kalau mau turun ke kebun kopi yang di sebelah sana tadi lewat mana ya? Soalnya teman saya ada yang terperosok jatuh di sana" Tanya Gita sambil menunjuk ke arah atas dimana Prisha sengaja di dorong Elina sampai jatuh.


"Lewat sini dek. Mari ikut saya" Jawab petani tersebut ramah. Merekapun berjalan dibelakang petani tersebut dengan tak sabar. Sesampainya di kebun kopi tersebut mereka berpencar mencari keberadaan Prisha di bantu oleh beberapa petani. Mereka berteriak memanggil nama Prisha sambil menyusuri pohon kopi yang berbuah merah itu.


"Ada apa ini kok rame rame?" Tanya salah seorang petani yang sedang memetik kopi.


"Kami sedang mencari teman kami yang jatuh pak" Jawab Rama yang kebetulan berada didekatnya. Sementara yang lain berpencar ke arah yang berbeda.

__ADS_1


"Ooo begitu. Sepertinya disebelah sana tadi ada ramai ramai. Coba kamu lihat." Kata petani tersebut sambil menunjuk kearah beberapa orang yang berkerumun. Rama pun segera menuju gerombolan orang tersebut dengan langkah tergesa. Ia akan berusaha menjadi malaikat penolong Prisha untuk menutupi kesalahannya kemarin. Rama tau Prisha gadis yang sangat polos. Hatinya mudah tersentuh dengan kebaikan dan perhatian dari orang lain. Dengan begitu Rama bisa minta maaf seolah kejadian kemarin hanya sebuah kecelakaan tanpa kesengajaan.


"Permisi buk. Ini ada apa ya kok ramai sekali" Kata Rama yang sudah berada di kerumunan.


"Ooo ini nak, ada orang jatuh. Kayaknya seumuranmu" Jawab wanita tersebut.


"Boleh saya lihat?" Pinta Rama yang langsung dijawab dengan anggukan. Rama dan wanita tersebut menerobos kerumunan dan mendapati Prisha yang terduduk lemas.


"Dek Prisha. Kamu gak kenapa-napa kan?" Tanya Rama sambil memperhatikan tubuh Prisha. Takut jika ada yang luka. Namun sepertinya tidak ada luka serius dibadannya. Semua pakaiannya masih terlihat utuh tanpa ada sobekan.


"Gak kenapa kenapa kak. Cuman lemas saja. Syok banget pas tiba-tiba kainnya putus dan jatuh." Jawab Prisha.


"Syukurlah kalau begitu. Ayo kita balik. Sudah ditunggu yang lain." Rama membantu Prisha berdiri kemudian memapah tubuhnya yang lemah. Tak lupa mereka mengucapkan terima kasih ke para petani kopi yang menemukan Prisha. Setelah sampai ke jalan Rama pun mendudukkan Prisha di pingiran lalu memberi kabar pada temannya bahwa Prisha sudah ketemu. Mereka pun bisa kembali dengan Prisha yang dipapah oleh Gita dan Hani.


...****************...


"Dek. Aku anter pulang aja ya. Kamu masih lemes gini" Tawar Rama ketika mereka sudah berada dihalaman sekolah.


"Makasih kak. Prisha naik angkot aja." Jawab Prisha.


"Mending kamu sama kak Rama aja deh. Aku khawatir kalau nanti kamu kenapa-napa." Usul Gita.

__ADS_1


"Ya Sha. Mending kamu dianterin kak Rama aja deh. Andai aku bawa motor sih aku siap nganter." Sesal Hani. Akhirnya Prisha pun mengalah dan menaiki motor yang di kendarai Rama.


...****************...


Hening. Tak ada percakapan apapun antara Rama dan Prisha di perjalanan. Mereka begitu sibuk dengan fikiran masing masing. Hingga sampailah mereka di halaman rumah Prisha.


"Terima kasih kak sudah nganterin Prisha" kata Prisha. Ia melangkah kedalam rumah tanpa berniat mengajak Rama masuk.


"Prisha pulang" Kata Prisha begitu masuk ke dalam rumah. Ratna yang tadinya duduk di ruang tamu bersama Wijaya dan Andrian buru-buru berdiri menyambut kedatangannya. Ia sedikit berlari ke arah Prisha. Memeluk anak gadisnya lalu memutari badannya memeriksa tubuh anak semata wayangnya itu.


"Syukurlah kamu sampai rumah dengan selamat nak. Ibu khawatir banget sama kamu" kata Ratna yang masih mengandeng pundak putrinya. Ratna mengiring Prisha menuju ruang tamu.


"Pak Andrian. Kok bapak ada di rumah saya?" Kata Prisha yang kaget mendapati Andrian sudah duduk di ruang tamu bersama ayahnya.


"Kenapa gak bisa. Saya sudah beberapa kali datang kesini kan?" Jawab Andrian dengan wajah datarnya.


"Saya dapat kabar dari salah satu senior kalau kamu jatuh ke jurang. Jadi saya buru-buru kesini untuk mastikan." Kata Andrian menjelaskan.


"Apa ada yang sakit? Kalau ada biar saya antar periksa. Saya tidak mau dikemudian hari ada yang menuduh panitia tidak bertanggung jawab dan lalai pada tugasnya." lanjutnya.


"Tidak pak. Saya tidak kenapa-napa. Tadi hanya syok aja jadi lemes. Nanti setelah istirahat juga baikan" Jawab Prisha.

__ADS_1


"Kalau begitu saya izin ke kamar dulu. Mau naruh tas sekaligus membersihkan diri" Pamit Prisha kemudian. Ia melangkahkan kakinya menuju kamar dengan perasaan yang tidak karuan. Di suatu sisi ia begitu bahagia mendapati Andrian yang menghkawatirkan keadaannya. Tapi disisi lain ia juga tau bahwa perhatian Andrian kepadanya bukan murni dari dirinya sendiri melainkan karena merasa bertanggung jawab atas nama pembina.


__ADS_2