
Sinar matahari yang terik tak membuat semangat Ammy dan Prisha melemah sedikitpun. Mereka berjalan menyusuri toko toko yang menjual berbagai macam pakaian. Mereka tak berbelok sedikitpun. Karena tujuan mereka adalah toko kain langganan Ammy.
"Kalau kamu belanja kain biasanya dimana Sha?" Tanya Ammy yang berjalan bersisihan dengan Prisha.
"Di pasar deket rumah bu" Jawab Prisha
"Mahal dong harganya. Enakan belanja disini aja. Lebih murah. Jadi untungnya lumayan" Kata Ammy yang merekomendasikan untuk berbelanja disalah satu pasar grosiran terbesar di Kudus itu. Ammy juga menjelaskan jika tak semua blog dan toko harganya miring. Ia pun mengajaknya ke sebuah toko langganannya.
"Bu Ammy monggo bu. Mau cari kain apa" Tanya penjualnya ramah. Ammy pun menyebutkan jenis kain yang ingin di belinya dan memilih warnanya. Kemudian penjual kain itu pun dengan cekatan mengambilkannya. Meletakkannya didepan mereka.
"Ini orang saya bu. Namanya Prisha. Lain kali kalau kesini tanpa saya dikasihnya harga langganan. Jangan harga pasaran lho" Pesan Ammy pada si penjual begitu membayar belanjaannya. Ia perkenalkan Prisha kepada penjual yang sudah menjadi langganannya selama bertahun tahun dengan harapan suatu saat jika Prisha belanja sendiri tidak tertipu dengan penawaran harga yang tinggi. Memang begitulah cara penjual pasar berdagang. Ia akan mematok harga tinggi pada pembeli yang tak mereka kenal.
"Ini belanjaannya gimana bu?" Tanya Prisha yang melihat belanjaan Ammy yang begitu banyak. Ia tak mungkin kuat untuk membawanya sendiri.
"Nanti saya suruh pak manol yang biasa angkat belanjaan ke mobil. Sekarang kita ke toko alat alat jahit dulu ya. Kita beli resliting, kancing dan beberapa pemanis buat finishing baju" Ajak Ammy. Prisha membuntuti kemana saja Ammy belanja layaknya seorang anak kecil yang sedang ikut ibunya belanja. Sesekali Ammy juga meminta pendapatnya tentang barang yang ia beli. Sampai menjelang sore, acara belanja mereka baru selesai.
"Kita mampir cari makan dulu ya Sha." Kata Ammy setelah mereka mengendarai mobil keluar dari parkiran pasar.
"Ya bu. Saya ngikut saja." Jawab Prisha
"Ngomong ngomong kenapa kita belanjanya berdua saja bu?"
"Maaf, maksud saya kenapa ibu gak bawa supir biar sekalian bisa angkatin belanjaan ibu?" Tanya Prisha hati-hati. Ia tak mau menyinggung perasaan bosnya itu. Rasanya begitu aneh bagi Prisha mendapati Ammy yang seorang perempuan menyetir sendiri ke luar kota. Sedangkan jika mau ia pasti mampu kalau hanya sekedar menggaji seorang supir.
__ADS_1
"Saya itu udah biasa nyetir sendiri dari dulu. Jadi kebiasaan itu kebawa sampai sekarang. Disamping itu saya juga gak mau terlalu merepotkan supir yang sekaligus merangkap keamanan dirumah. Tau sendiri kan kalau perempuan sudah belanja suka kalap. Takutnya udah selesai jam kerjanya dia masih nemenin kita. Kan kasian keluarganya. Waktunya jadi terpotong. Yah walaupun sebenarnya kalau lewat jam kerja saya kasih tip buat uang lembur sih." Jelas Ammy yang masih konsentrasi menatap jalanan yang cukup ramai.
"Saya itu dulu berasal dari keluarga gak mampu. Waktu saya menikahpun suami saya hanya seorang guru honorer. Sedangkan saya cuman ibu rumah tangga biasa. Tapi saya punya keahlian menjahit. Awalnya saya hanya penjahit kampung yang menerima order dari tetangga sekitar. Kalau di sekolah suami ada seragam guru atau siswa, saya tanpa gengsi mengambil pekerjaan itu." Ammy bercerita banyak tentang masa lalunya yang tak jauh beda dengan Prisha. Hanya saja Ammy tak pernah mendapatkan perlakuan buruk dari teman-temannya. Justru sebaliknya ia memiliki banyak teman yang sangat menyayanginya. Hingga sampai ia lulus sekolah dan menikah pun teman-temannya selalu mensupport keputusannya. Bahkan mereka ikut andil dalam membantu mengembangkan usaha jahit yang Ammy kelola.
Mobil membelok pada sebuah restoran dengan baliho warna hijau yang terkenal dengan ayam dan bebek bakarnya. Tempatnya yang luas dengan kursi dan meja yang berjajar nyatanya masih penuh dengan orang. Mereka dengan setia menikmati menu masakan yang tak pernah berubah dari waktu ke waktu. Mungkin diluar sana banyak restoran yang menawarkan berbagai varian menu baru seperti hotplate dan makanan ala ala korea. Namun bagi Ammy dan Prisha menu bebek bakar dengan sambal hijau dan lalapan daun pepaya jauh lebih nikmat dibanding menu baru tersebut.
"Di enakin makannya Sha. Gak usah malu-malu" Kata Ammy. Mereka duduk berhadapan menikmati makanannya ditemani langit sore yang mulai petang.
"Zaman saya masih merintis usaha saya sudah sering mampir kesini. Harganya yang merakyat dengan menu yang lezat membuat saya ketagihan. Terutama pada lalapan daun pepayanya yang gak pahit itu. Saya sampai bingung kira-kira bagaimana cara memasaknya sehingga gak terasa pahitnya" Ammy bercerita banyak kepada Prisha. Berharap bisa menghilangkan rasa canggung Prisha. Ammy tak mau memperlakukan Prisha seperti kariawati dan bosnya. Ia ingin kenal akrab dengan Prisha agar ketika bekerja bisa memberikan rasa nyaman. Namun Prisha tetap saja membangun pembatas yang membuat jarak diantara mereka.
"Mas Rian telphon. Saya angkat sebentar ya" Kata Ammy menjeda ceritanya.
"Hallo mas. Ada apa?" Tanya Ammy to the point.
"Mama posisi dimana sekarang?" Tanya Andrian dari sebrang. Prisha berusaha cuek tak mau mendengar pembicaraan Andrian dengan ibunya. Namun karena panggilan di loudspeaker Prisha pun masih mendengar suara tersebut sambil mengunyah makanannya.
"Syukurlah kalau begitu" Terdengar helaaan nafas lega dari sebrang.
"Mama tolong jemput Rian ke kampus ya. Motor Rian mogok. Mau dibawa ke bengkel malah hujan deres. Gak bawa jas hujan lagi" Jelas Andrian.
"Ok. Terus motornya gimana?" Tanya Ammy kemudian.
"Nanti Rian titipin sama pak satpam aja ma. Besok biar Rian ambil. Sekalian ada bimbingan skripsi juga" Kaya Andrian menjelaskan. Setelahnya panggilan telephon dimatikan.
__ADS_1
Ammy berkali kali meminta maaf kepada Prisha karena telah menggagu waktu liburnya hingga malam menjelang. Ia meminta Prisha menghubungi ibunya agar tak khawatir. Setelah makanan dan minuman milik mereka habis, Ammy segera menuju meja kasir untuk membayar. Setelahnya mereka masuk kedalam mobil dengan sedikit berlari karena hujan mulai turun.
Ammy melajukan mobilnya kembali menuju kampus tempat Andrian kuliah. Sesampainya di depan kampus Ammy pun segera menelphon Andrian memintanya segera keluar gerbang. Setelah menunggu beberapa lama Andrian pun keluar bersama seorang lelaki berseragam satpam. Terlihat Andrian memberikan lembaran uang kepada lelaki tersebut namun lelaki tersebut menolaknya. Hingga kemudian Andrian memasukkannya kedalam saku baju yang lelaki itu pakai lalu berlari masuk kedalam mobil.
"Kenapa duduk di belakang sih mas? Kan mama kayak jadi sopir" Kata Ammy begitu melihat anak lelakinya duduk di jok belakang bersama Prisha.
"Udah terlanjur dibelakang ma. Masak ya harus pindah ke depan. Ntar jadi basah dong Rian." Rengek Andrian manja. Membuat Prisha senyum senyum sendiri dibuatnya. Lelaki yang terkenal cuek disekolah ternyata begitu manja jika bersama ibunya. Rian yang merasa ditertawaipun memandang tajam ke arah Prisha.
"Ngapain senyum senyum lihat saya?"
"Gak apa-apa pak. Cuman seneng aja ketemu bapak disini" jawab Prisha asal namun membuat salah faham orang seisi mobil.
"Cie ada yang seneng bisa kangen kangenan nih" Ledek Ammy membuat Prisha tertunduk malu.
"Iya dong Ma. Rian kan emang ngangenin. Sehari gak ketemu pasti terasa seperti seabad" Jawab Andrian dengan PDnya.
"Ma.. Biar kangen kangenannya lama kita mampir bioskop yuk. Mumpung masih di Kudus. Jepara kan gak punya bioskop." Usul Andrian.
"Boleh. Tapi mama gak mau ikut nonton. Mama mau shoping aja" Andrian setuju dengan usul Ammy namun Prisha keberatan. Ia tak mau jika hanya berduaan saja dengan Andrian. Ia khawatir akan ada teror dan fitnahan baru ketika bersama Andrian. Bahkan saking takutnya ketika berjalan Prisha memilih berjalan disamping mama Ammy. Tak mau dekat dekat dengan Andrian. Selama ia belum menemukan siapa pelaku teror itu ia harus tetap waspada.
"Kenapa menghindar terus?" Tanya Andrian ketika mereka ditinggal Ammy ke toilet.
"Takut ada yang nyebar foto kita lagi" Jawab Prisha sambil clingukan ke kanan kiri mencari orang yang mencurigakan.
__ADS_1
"Emangnya kamu artis?" Kata Andrian sambil tetap memperhatikan gerak gerik Prisha.
"Gak akan ada paparazi yang ngikutin kita sampai sini. Tenang aja. Lebih baik sekarang kita masuk. Biar nanti mama nyusul." Ajak Andrian. Merekapun masuk kedalam bioskop berdua. Menikmati film yang sebenarnya sudah lama ingin Prisha tonton. Film tentang perjuangan seorang istri yang ditolak oleh suaminya sendiri dimalam pertama.