Cinta Di SMK

Cinta Di SMK
Bab 39


__ADS_3

Langit mulai berwarna kemerahan menandakan waktu senja. Suara tilawah terdengar dari toa masjid yang menandakan akan segera masuk waktu sholat. Bocah bocah kecil memakai celana pendek dengan sarung diselempangkan di pundak mulai berlarian menuju masjid. Peci hitam bertengger di kepala menutupi rambut hasil cukuran orang tua mereka sendiri. Mereka terlihat begitu ceria tanpa memikirkan apapun. Berjalan sambil bercanda dan sesekali tertawa renyah.


Wajah ceria seperti itulah yang kini dirindukan Prisha. Ia begitu terbebani dengan masa remajanya yang kurang baik. Menjadi korban bully teman teman sekolah membuat suasana hatinya buruk setiap kali ingin berangkat ke sekolah. Hatinya sedih. Takut jika tiba-tiba saja Elina membuat kekacauan atau bahkan mencelakai dirinya seperti waktu pulang outbound. Ia ingin melawan tapi tak pernah punya kekuatan. Ia ingin memberontak tapi takut akan semakin banyak teman yang menolak kehadirannya. Sempat berfikir untuk berhenti sekolah dan memilih ikut kursus tapi takut mengecewakan orang tua. Hanya dia harapan satu satunya yang dimiliki orang tuanya. Ia anak tunggal. Jika bukan ia yang berjuang mengangkat derajat keluarga lalu siapa lagi. Orang tuanya sudah tidak produktif untuk menciptakan terobosan yang bisa memperbaiki perekonomian keluarga.


Tok


Tok


Tok


Pintu kamar Prisha diketuk dari luar. Lalu terdengar suara Ratna

__ADS_1


"Sha. Bangun nduk. Udah mau magrib. Gak baik magrib magrib tidur"


"Ya buk. Prisha udah bangun dari tadi. Tapi masih pengen istirahat dikamar" Jawab Prisha yang masih asyik menikmati langit senja lewat jendela kamar.


"Ibuk masuk ya" Izin Ratna. Pintu terbuka, Ratna masuk dengan membawakan segelas jahe hangat yang masih mengepulkan uap tipis.


"Anak perawan kok magrib magrib malah ngelamun di jendela. Awas nanti kesambet. Magrib itu waktunya para jin dan mahluk mahluk halus keluar. Buruan jendelanya di tutup." Kata Ratna yang melihat Prisha masih duduk termenung di jendela kamar. Jendela kamar Prisha memang rendah jadi ia akan dengan mudah nongkrong di atasnya.


"Ini ibu bawain jahe susu. Diminum biar badannya anget" Ratna mengulurkan jahe yang dibawanya pada Prisha. Prisha segera menerimanya lalu meminumnya sambil duduk diatas ranjang dengan kasur kapuk yang mulai mengeras.


"Terima kasih buk."

__ADS_1


"Sebenernya ceritanya gimana sih kok kamu bisa sampai jatuh ke jurang nduk?" tanya Ratna sambil memperhatikan anak gadisnya. Prisha sedikit waspada dengan pertanyaan ibunya. Apa ibunya benar benar bertanya karna memang tak tahu apa-apa, ataukah hanya memastikan saja setelah diberi tahu Andrian.


"Bukannya tadi ibuk sudah dikasih tahu pak Andrian?" Tanya Prisha balik. Ia takut salah jawab yang akan berujung pada kekhawatiran ibunya.


"Ia memang sudah sih. Tapi tadi nak Andrian cuman cerita kalau kamu jatuh aja. Gak nyeritain detailnya. Wong katanya dia gak ada di lokasi kok" Jawab Ratna menjelaskan.


"Ooo gitu. Prisha cuman kepleset aja buk. Jatuh ke kebun kopi. Terus ditolongin bapak-bapak yang lagi metik kopi" jawab Prisha sambil menghirup aroma jahe yang wangi.


"Ada yang sakit gak?" Tanya Ratna kemudian.


"Gak ada buk. Prisha gak kenapa-napa. Cuman tubuhnya agak sakit dikit. Mungkin kecapekan." Jawab Prisha.

__ADS_1


"Ya sudah. Nanti habis magrib ibu anter ke tukang urut" Tawar Ratna yang dijawab anggukan.


__ADS_2