Cinta Di SMK

Cinta Di SMK
Disekap


__ADS_3

Mentari mulai bersinar. Ditemani embun pagi yang meneteskan butiran jernih dari dedaunan. Seorang anak berumur 16 tahun mematutkan diri di cermin. Terpantul sosok gadis berparas ayu berbaju butih dengan rok abu abu yang berkalungkan dasi dengan warna yang senada.


Dasi mengikat dileher sebagai bukti. Bahwa ia memiliki cita cita yang kuat. Wajah ayu itu tak pernah terpoles make up seperti teman seusianya. Namun kecantikannya tak pernah mau kalah jika dibandingkan dengan mereka yang ber make up tebal dan bergincu.


"Bu.. Prisha berangkat sekolah dulu ya!" Pamit Prisha pada ibunya.


Memohon restu ibu adalah sesuatu yang wajib dilakukan sebelum ia berangkat sekolah. Ia berharap selalu mendapat keberkahan dan keberuntungan dalam setiap langkahnya.


Tak hanya restu yang didapat, tetapi juga uang saku sebesar 20.000 rupiah. Uang saku yang cukup besar untuk anak seorang petani yang tinggal di Jepara. Bukan tanpa alasan Ratna memberi uang dengan jumlah banyak. Tetapi biaya angkot satu kali jalan adalah 5000 rupiah. Sangat murah jika dibandingkan dengan biaya taksi online di kota-kota besar.


"Ya nduk" kata Ratna yang menghentikan sejenak aktifitas menjahitnya.


Tangan tetulur memberi do'a dan semangat untuk anak semata wayang yang menempuh pendidikan di SMK. Harapannya tak banyak. Ia hanya ingin anaknya menjadi orang yang lebih sukses ketimbang ditinya. Menjadi orang yang bahagia walau tak berkelimang harta.


"Ini tanganmu kenapa?" Tanya Ratna kemudian.


Prisha tau. Seberapa kuat ia menyembunyikan luka ditangannya. Pasti orang tuanya akan mengetahui hal tersebut dan mencari tahu penyebabnya. Mereka memang tak ber uang. Tak bisa berkutik ketika tahu jika yang melakukan penganiyayaan adalah mereka yang punya kuasa. Mereka yang berkelimang harta. Namun setidaknya sebuah perhatian cukup untuk mewakili dan menunjukkan kasih sayang yang tetamat dalam.


"Gak apa-apa buk.. Ada insiden sedikit waktu kemarin MPLS. Tapi ini gak apa-apa kok. Udah diobati." kata Prisha berbohong.


Kebohongan memang bukan sifat yang di benarkan. Tapi untuk menenangkan hati dan tak membuat beban fikiran hal itu tetap dilakukan. Dengan harapan Ratna tak begitu was was melepasnya pergi ke sekolah.


Sopir angkot langganan yang bernama Karnadi itu telah menunggu di tempat biasa mangkal. Bukan tanpa alasan, karna tempat itu adalah tempat ia menjemput rizki. Menanti anak sekolah yang menjadi langganannya tiap hari. Mengantar mereka menuju tempat tujuan dengan sebuah imbalan rupiah yang di harapkan bisa itu menyambung hidup menghidupi anak istri.


Angkot penuh. Berlahan roda 4 itu berputar seiring gas yang ditancapkan sopirnya. Berjalan cepat, namun selalu penuh kehati-hatian. Karna semua tak melulu tentang uang. Ada tanggung jawab yang besar untuk bisa mengantarkan pelanggan dengan selamat.

__ADS_1


"SMK Kusuma kiri ya pak" Kata Prisha mengintruksi. Angkot itu berlahan menepi. Menurunkan para murid yang bersekolah sama dengannya. Tak lupa ia memberikan selembar uang ber gambarkan pahlawan Dr. KH Idham Chalid sebagai balasan atas jasa yang telah diberikan. Tak lupa ucapan terima kasih juga di ucapkan sebagai bentuk penghormatan telah mengantarkan sampai tempat tujuan.


Sekolah begitu ramai. Para siswa siswi berdatangan menggunakan seragam yang sama. Ada sedikit rasa takut di hati Prisha mengingat semua perlakuan buruk dari Elina and the geng. Namun semangat belajar yang tinggi mampu mengikis rasa itu. Mengantikan rasa ketakutan menjadi motivasi diri untuk lebih berjuang hingga menggapai cita yang di inginkan.


"Prisha. Baru dateng ya?"


Kata itu menyambut langkah Prisha yang baru memasuki gerbang. Telinganya sudah familiar dengan suara tersebut. Suara yang terus membuat hari-harinya suram. Suara yang membuat hatinya berdenyut nyeri karna terus mendapat hinaan. Prisha acuh. Mencoba menulikan telinga dan melangkah lebih cepat. Namun langkah itu memelan karna musuh bebuyutannya itu berhasil mensejajarkan langkahnya. Pundaknya dirangkul dengan erat seperti tak mau kehilangan.


"Sombong banget sih gembel ini. Mentang-mentang kemarin ada yang nyelametin." kata Elina memulai aksinya. Namun Prisha tetap diam seribu bahasa. Bukannya mereda. Justru hati Elina semakin dongkol. Ia menyuruh Fita dan Mega menyeretnya menuju gudang sekolah. Elina membuntuti di belakang sambil mengawasi orang-orang agar tak ada yang curiga kepadanya.


Ruang kosong penuh debu dengan peralatan yang sudah tidak terpakai adalah tujuan mereka. Prisha didorong ke dalam ruangan tersebut dengan sekuat tenaga hingga jatuh tersungkur. Tanpa ampun mereka membiarkan Prisha terkunci seorang diri di ruang pengap itu.


"El.. Tolong buka pintunya"


Teriak Prisha dari dalam. Ia menggedor pintu yang sudah tergembok dari luar itu. Air matanya meleleh. Namun ia tetap memohon. Berharap ada sedikit rasa belas kasihan dari mereka yang sudah 3 tahun lebih mengenalnya karna menuntut ilmu di sekolah yang sama.


Teeett.. Teeeet... Teeet..


Bunyi bel 3 kali menandakan pembelajaran sekolah akan segera di mulai. Di awali dengan upacara hari senin di halaman sekolah yang sekaligus digunakan untuk lapangan.


"Han.. Prisha kok belum dateng ya?" Tanya Gita yang tak melihat Prisha ikut berbaris di halaman.


"Telat mungkin" jawab Hani enteng.


Mereka tak tahu jika orang yang mereka bicarakan sekarang sudah berada di lingkungan sekolah. Tubuhnya meringkut memegangi lutut dengan kepala tertunduk. Harapannya hanya satu. Ia ingin selamat dari ruangan penuh debu ini.

__ADS_1


Lagu indonesia raya telah dikumandangkan. Tanda jika upacara itu masih berlangsung. Prisha mulai sadar, jika takdir itu tak akan berubah jika ia tak ber usaha. Air mata yang berderai di pipi ia seka. Ia mulai melihat sekeliling ruangan. Berharap ada celah untuk kabur.


Rupanya Tuhan masih berbaik hati kepadanya. Ia bisa keluar dari gudang itu dengan selamat. Biarlah tanganya terluka karena terkena duri di semak-semak tempat ia melompat dari jendela. Yang penting dihari pertama masuk sekolah ia bisa hadir dan ikut belajar bersama teman-temannya di kelas Tata Busana.


"Prisha.." Pekik Manda terkejut dengan kehadiran Prisha. Seragamnya kotor penuh debu dan ada beberapa duri tanaman liar menempel di roknya. Matanya sembab mengisyaratkan bahwa ia baru selesai menangis.


"Loe dari mana aja Sha. Kok baru dateng? Gak mungkin kan kalau elo terlambat?"


Cecaran pertanyaan dari Gita membuat ia sedikit tersenyum. Ia senang punya teman yang mengkhawatirkannya.


"Ada sedikit insiden tadi Ta. Jadi aku datengnya terlambat." Kata Prisha tanpa mau membebetkan kronologi kejadiannya.


"Yakin terlambat? Kok tadi gak ikut dihukum di depan?" kata Hani penuh curiga. Prisha pun tak bisa berkutik. Ia hanya tersenyum kikuk menanggapi perkataan Hani.


"Udah lah gak usah dibahas. Mending sekarang loe ke kamar mandi bersihin seragam. Sebelum ada guru masuk." Kata Gita berusaha menyudahi berdebatan itu.


Prisha dan Gita melangkah menuju toilet perempuan yang terletak tak jauh dari ruang kelas jurusan tata busana. Sesampai di toilet Gita membantu Prisha membersihkan seragam dengan cara menyikatnya dengan sikat pakaian yang terletak di toilet tersebut.


"Sebenarnya apa yang terjadi Sha?" Tanya Gita hati-hati.


"gak ada apa-apa Ta.. Beneran" Jawab Prisha yang masih sibuk membersihkan seragamnya.


"Yakin? Kalau emang gak ada apa-apa terus kenapa jaruman rumput liar bisa menempel di seragammu? Kalaupun kamu terlambat dan lompat pagar gak mungkin kan ada ini."


Gita bertanya sambil menunjukkan jaruman rumput liar yang baru saja ia cabut. Prisha tak bisa berkutik. Ia bukan pemain drama yang pandai berbohong. Namun ia juga tak mungkin menceritakan semua yang terjadi antara dia dan Elina. Andai sampai Elina tahu pasti akan ada taktik baru untuk mencelakai Prisha.

__ADS_1


~{Harta memang bukan segalanya, tapi semua bisa di dapat dengan harta}~


__ADS_2