Cinta Di SMK

Cinta Di SMK
Bab 41


__ADS_3

Masa awal sekolah sudah dilalui Prisha dengan susah payah. Ia mencoba bertahan dengan bullyan yang dilakukan Elina and the geng. Ia sudah terbiasa dijadikan kurir yang membelikan jajan ketika istirahat. Ia juga terbiasa menjadi tukang angkut tas ketika berangkat dan pulang sekolah. Terkadang ia ingin melawan, tapi perlawanannya justru membuat Elina end the geng semakin tega dan menjadi-jadi.


Tekanan tak hanya datang dari Elina end the geng saja. Teman teman lain sekarang juga memandang remeh Prisha. Mereka mulai mengolok-olok Prisha dan mengatainya maling walau guru BK sudah menyelesaikan masalah itu dan terbukti Prisha tidak bersalah.


Cibiran dan umpatan dari teman sekolahnya sudah tak lagi ia hiraukan. Ia mencoba bertahan dan menganggap semua hinaan itu suatu motifasi untuk dirinya bangkit dari keterpurukan. Ia mulai belajar ilmu bela diri yang dilaksanakan sebagai ekstra kulikuler disekolah. Ia juga mulai belajar mendesain pakaian dari ilmu yang ia pelajari dikelas ditambah dengan pengalamannya bekerja dibutik mama Ammy. Harapannya hanya satu. Ia segera lulus sekolah dan tak pernah bertemu dengan Elina and the geng lagi.


...****************...


Bulan agustus sebentar lagi datang. Para guru melakukan seleksi pasukan pengibar bendera sekolah yang nantinya akan bertugas untuk mengibarkan bendera di lapangan sebak bola yang terletak tak jauh dari sekolah. Semua siswa yang memenuhi kriteria tinggi badan boleh ikut seleksi.


"Sha, ikut seleksi paskibra gak?" Tanya Gita ketika guru mata pelajaran ke dua sudah keluar kelas.


"Kayaknya gak deh. Soalnya aku gak memenuhi syarat. Tinggiku gak sampai 165" jawab Prisha yang masih sibuk memasukkan buku pelajarannya kedalam tas. Tak berselang lama ada yang memanggil dari luar


"Dek Prisha. Sini dong"


Sontak Prisha menoleh dan mendapati Rama sudah berdiri diambang pintu dengan menenteng plastik transparan berisikan buah jambu air berwarna merah.


"Dipanggil kak Rama tuh" Kata Gita sambil menyenggol lengan Prisha sambil tersenyum jail.


"Apaan sih" Jawab Prisha malu-malu.


"Heran deh sama itu orang. Kok ya gak bosen bosen ngedeketin loe. Mana dipepet terus lagi. Bikin ilfil." Kata Hani dengan wajah tak ramah. Sontak ia berdiri dan menghampiri Rama.

__ADS_1


"Eh ada kak Rama. Prishanya masih sibuk. Belum selesai mencatat. Ada apa ya? Biar Hani sampein" Hani menghadang langkah Rama dengan berdiri di pintu kelas sambil menyilangkan kakinya. Ia begitu waspada dengan tinggah Rama yang akhir-akhir ini perhatian dengan Prisha. Ia tak mau temannya yang polos itu dimanfaatkan oleh Rama sehingga muncul masalah baru di hidup Prisha. Sebagai teman dekat Hani cukup tau bahwa Prisha begitu tertekan dengan omongan banyak orang yang selalu meremehkan Prisha.


"Apa sih elo. Gue kan panggilnya Prisha" Rama hendak melangkah masuk namun langkahnya langsung dihadang oleh Hani.


"Stop! Anak kelas lain dilarang masuk" Kata Hani. Ia mendorong Rama keluar.


"Emangnya elo siapa? Berani beraninya buat aturan kayak gitu. Dari dulu gak ada tuh peraturan gak boleh masuk kelas lain" Sewot Rama. Raut Wajahnya sudah mulai tak bersahabat. Ia begitu jengkel karna Hani menghalangi langkahnya untuk mendekati Prisha. Adu mulutpun tak terelakkan lagi. Mereka menjadi tontonan beberapa anak yang masih tinggal dikelas X jurusan tata busana itu. Beberapa murid kelas lain yang lewatpun terlihat memperhatikan mereka. Membuat Rama malu sendiri. Ia pun memilih mengalah dan pergi meninggalkan kelas.


"Ya udah deh. Daripada gue harus ngelawan elo kayak b a n c i, mending gue pergi aja. Nih gue titip buat Prisha" Rama mengulurkan barang bawaannya pada Hani. Lalu melengokkan kepalanya sebentar dan melambaikan tangan pada Prisha.


"Kakak balik dulu ya dek. Daaa" Kata Rama sambil melambaikan tangan ke arah Prisha. Prishapun hanya tersenyum malu. Ia begitu bingung dengan sikap Rama yang begitu baik dan perhatian dengannya. Walaupun Prisha juga masih mengingat kelakuan jahatnya waktu kegiatan luar sekolah dulu.


"Nih. Dari tokoh wayang" Hani menyodorkan plastik yang berisi jambu di meja. Membuat Prisha dan Gita mengernyit heran.


"Ya elah Sha, Sha. Gitu aja gak paham. Rama kan emang tokoh wayang. Gak seru nih diajak bercanda" Sewot Hani karena Prisha tidak memahami candaan garingnya.


"Lagian elo ngajak canda kok Prisha. Dia itu orangnya lempeng. Serius melulu. Gak paham dengan candaan garing mu" seru Gita sambil tertawa.


"Ya udah lah. Ngapain sih bahas gituan. Mending kita makan aja nih jambunya. Segar kan siang-siang panas kayak gini" Prisha mengambil plastik yang berisikan buah jambu air di mejanya. Ia membukanya dan hendak memakan salah satu buah berwarna merah itu. Namun Hani merebutnya. Prishapun sontak menatap teman dekatnya itu dengan tatapan heran.


"Sha, mending kamu nggak usah makan buah ini deh. Takutnya ada jampi-jampinya biar elo kecantol sama si tokoh wayang itu. Bahaya entar urusannya. Elo itu terlalu polos buat diajak pacaran"


"Jahat banget kamu sih Han. Udah gak boleh ikut makan, masih dikatain terlalu polos lagi. Padahal kak Rama ngasih itu kan buat aku. Lagian zaman modern kayak gini mana ada jampi-jampi buat pemikat. Yang bisa memikat itu isi dompet yang tebal" Prisha berbicara sambil mengeluarkan kotak bekal dari laci meja. Ia segera membukanya lalu memakannya dengan lahab. Karena terburu-buru ia pun tersedak

__ADS_1


ehek ehek


"Minum mana minum. Keselek pedes banget nih"


Gita segera mengeluarkan air minum yang ada di tasnya lalu memberikannya kepada Prisha.


"Makanya kalau makan itu pelan-pelan. Nggak bakalan ada yang minta kok. Kita mending makan jambu ini aja. Nanti nasinya dibuat makan kalau istirahat kedua sebelum ekstrakurikuler"


"Tau ah. Ntar aku gak berangkat ekskul. Aku mau kerja" Jawab Prisha sewot membuat kedua temannya terkekeh. Dalam keasyikan mereka bercanda sambil makan tiba-tiba datanglah Elina bersama 2 temannya ke kelas. Mereka tiba-tiba datang menggebrak meja didepan Prisha. Membuat Prisha, Gita dan Hani terlonjak kaget.


Brak.. Bunyi meja yang dipukul keras dengan telapak tangan.


"Eh gembel enak banget elo makan disini. Lupa ya sama tugas elo" Elina marah sambil menunjuk Prisha membuat Hani langsung turun tangan.


"Eh elo wajah pucet. Ngerti adab bertamu gak? Dateng-dateng langsung marah-marah. Dah gitu masuk kelas orang tanpa permisi lagi. Katanya pinter. Calon tenaga medis. Tapi akhlaknya nol besar" sontak kata-kata itu membuat Elina semakin marah


"apa loe bilang? nggak punya akhlak? Loe itu ya nggak punya akhlak. Gue bicaranya sama Prisha elu yang sewot. Dasar Preman. Apa-apa pake kekerasan." Elina tak mau kalah. Ia semakin mengejek Hani membuatnya tak bisa mengontrol emosi. Ia tampar mulut Elina dengan keras.


"Berani beraninya elo nyakitin Elina" Fita maju membela temannya itu. Ia mulai menjambak rambut Hani sampai Hani kesakitan.


"Berani elo sama gue? Lor pikir gue gak bisa bales elo badan triplek" Hani membalas menjambak rambut Fita. Merekapun berduel menyebabkan keributan yang mengundang perhatian banyak orang. Gita dan Prisha mencoba melerai namun justru mereka ikut diserang oleh Elina dan Mega.


Suara riuh dikelas membuat salah satu tenaga keamanan yang sedang berkeliling kelas langsung menghampiri mereka.

__ADS_1


"Ada apa ini ribut-ribut?"


__ADS_2