
Ditengah keputus asaan Prisha yang kehabisan tenaga untuk berteriak dan melawan Rama. Tiba-tiba saja ada orang datang dari arah bawah jalan. Mungkin orang tersebut mendengar teriakan Prisha dan kemudian sedikit berlari kearah Prisha dan Rama.
"Hooi. Apa yang mau loe lakuin?" Teriak orang tersebut yang membuat Rama melepaskan Prisha begitu saja.
"Kak Andrian" Kata Rama terkejut. Ia mencoba mengambil nafas dalam dan membuangnya untuk menenangkan diri agar tak terlihat gugup. Setelahnya ia berfikir keras bagaimana caranya ia menyangkal perbuatannya agar tak jadi pihak yang bersalah. Menurut Rama dengan gosip yang menyebar disekolah saat ini akan sangat mudah menjatuhkan Prisha. Membuat Prisha seolah-olah menjadi tersangka dan dia hanya korbannya. Ia sedikit tersenyum ketika membayangkan hal itu. Melihat Prisha semakin dicemooh teman temannya. Dan lebih parahnya lagi Prisha bisa diskors atau bahkan di keluarkan dari sekolah mengingat banyaknya kasus yang menimpanya.
"Ya. Aku Andrian. Kenapa kaget begitu? Gak nyangka bakal ada orang lewat?" Andrian berdiri didepan gardu dengan ransel di punggungnya. Tatapannya tajam ke arah Rama menyiratkan sebuah amarah.
"Apa yang mau kamu lakukan ke Prisha sampai dia menangis dan berteriak teriak seperti itu?" Tanya Andrian. Prisha berdiri dibelakang Andrian dengan tubuh yang masih gemetar dan air mata yang mengalir. Ia tak bisa membayangkan kejadian buruk apa yang akan menimpanya jika tak ada Andrian yang mempergokinya. Sekuat apa ia melawan tetap saja tenaga Rama lebih kuat dari dirinya. Detik ini yang ia rasakan adalah rasa kecewa. Tadinya ia anggap Rama itu baik, tapi ternyata ia begitu kejam kepadanya. Prisha berjanji setelah ini ia akan ikut eksul bela diri seperti yang Hani katakan agar ia bisa melindungi dirinya sendiri dari kejahatan orang orang di sekitarnya. Termasuk dari kejahatan orang bermuka dua seperti Rama.
Rama berusaha setenang mungkin menghadapi pertanyaan Andrian. Namun dari mimik wajahnya sudah bisa ditebak bahwa ada sebuah kebohongan yang tersirat.
"Gak ngapa-ngapain kak. Kakak salah faham. Aku gak ngelakuin apa apa ke Prisha. Justru dia yang menggodaku. Tau sendiri kan dia anaknya seperti apa" Elak Rama yang memutar balikkan fakta.
"Kamu fikir saya percaya?" Jawab Andrian yang masih menatap tajam ke wajah Rama.
"Kalau Prisha memang seperti yang kamu katakan pasti dia gak akan teriak teriak" Lanjut Andrian.
"Sekarang kamu pergi dari sini sebelum saya aduin ke pihak sekolah. Dan ingat kalau sampe kejadian ini bocor atau saya denger gosip tentang Prisha yang gak gak. Saya gak segan segan bongkar kelakuan bejat kamu." Ancam Andrian. Jika sudah seperti ini tidak ada jalan lain bagi Rama selain mengalah. Ia segera pergi dari gardu tersebut dengan perasaan kesal.
__ADS_1
"Apa kamu baik baik saja?" Tanya Andrian pada Prisha. Ia memutar badannya menghadap Prisha.
"Ini minum dulu biar lebih tenang" Andrian menyodorkan air mineral yang ia ambil dari ranselnya.
"Terima kasih pak" Prisha menerima minuman itu dengan tangan yang bergetar.
...****************...
Pagi hari truk yang akan mengantarkan kepulangan peserta sudah siap. Mereka berbondong bondong turun dari puncak sambil membawa barang bawaan mereka. Raut wajah bahagia begitu terpancar nyata dari sorot mata mereka yang sehangat mentari pagi. Senyum lebar mengiringi perjalanan yang mereka rasa lebih pendek dari waktu keberangkatan.
"Seneng banget ya bisa liburan bareng bareng kayak gini. Tempatnya sejuk, jauh dari kebisingan kota dan yang lebih mengagumkan itu suara suara hewannya. Indah bagai alunan melodi. Ada alam alas, tonggeret, jangkrik. Kalau di kota mah mana ada tonggeret bunyi. Yang ada bunyi profil tuh dari gudang kayu sebelah" Kata Gita yang berjalan beriringan dengan Hani dan Prisha. Mereka bak sejoli yang tak bisa dipisahkan.
"Toloong" Teriak Prisha yang berusaha berpegangan pada pohon kopi milik petani. Jalanan di tempat tersebut memang sempit. Disebelah kanan tanah yang tinggi sementara di sebelah kiri jurang. Entah bagaimana caranya mobil mobil bisa lewat tempat ini jika berpapasan.
"Prisha.." Toleh Hani dan Gita begitu mendengar suara Prisha. Mereka buru buru menuju sumber suara. Melongokkan kepalanya kebawah dan melihat Prisha bergelantungan.
"Toloong.. Tolongin aku.. Aku mau jatuh" Teriak Prisha lagi.
"Lihat tuh temen elo mau kejebur ke jurang. Katanya bodyguard. Masak jagain gitu aja gak bisa. Huuu" Ledek Elina yang ada di belakang mereka.
__ADS_1
"Ooo jadi elo yang dorong Prisha kejurang? Sini elo gue ceburin kejurang juga. Biar jadi makanan harimau" Hani tak terima dengan perlakuan Elina. Ia maju mendekati Elina dan menarik tali hoodie yang dikenakan Elina. Adegan jambak menjambak, tarik menarik pun tak terelakan lagi. Fita dan Mega tak membela atau memisah. Justru mereka seperti suporter yang menyaksikan sebuah laga. Sedangkan Gita sibuk sendiri memikirkan cara menarik Prisha kembali keatas. Tak ada yang bisa memisah bertarungan sengit antara Elina dan Hani. Hingga Rama bersama salah seorang panitia memergoki dan memisah mereka.
"Apa sih yang kalian perebutkan sampai sampai bertengkar di jalanan kayak gini. Ini kita di desa orang lho. Membawa almamater sekolah kita. Tapi sikap kalian bukan mencerminkan sikap seorang pelajar." Tegur salah satu panitia.
"Ini kak Elina sengaja jatuhin Prisha ke....." Belum selesai Gita berbicara sudah terdengar lagi suara Prisha meminta tolong.
"Ya ampun Prisha. Maaf" Kata Hani kemudian. Ia mengulurkan tangannya ke arah Prisha bermaksud mengangkatnya. Namun tangannya tak bisa menggapainya.
"Kak tolongin Prisha terperosok di bawah" Kata Gita menjelaskan pada senior tersebut. Rama dan temannya dengan cekatan segera melihat ke arah Prisha. Kemudian melepas syal yang ia kenakan lalu mengulurkannya kebawah. Namun jaraknya yang cukup dalam membuat syal itu hanya mengantung tak sampai.
"Ram, lepasin jaket elo. Kita satuin biar nyampe" pinta panitia tersebut. Rama yang masih gondok dengan kejadian kemarin enggan melepas jaketnya.
"Ayo Ram, buruan. Itu nyawa orang lho yang di bawah. Kalau sampai ada apa-apa kita sebagai panitia yang disalahin." Gerutu senior tersebut. Ia menarik paksa jaket yang Rama gunakan. Setelah berhasil lepas ia menalinya dan mengulurkan kembali ke arah Prisha.
"Ok. Kalian semua nanti bantu saya narik temen kalian ya." pinta senior tersebut.
"Ih.. Ogah. Biar masuk jurang aja sekalian. Kita mau balik" Jawab Elina dengan angkuh. Elina, Fita dan Mega berlalu pergi meninggalkan mereka.
"Ayo raih talinya" Teriak senior tersebut. Tangan Prisha mulai memegang tali yang diulurkan. kemudian mereka menariknya. Namun belum sampai atas syal yang digunakan tercantol dan sobek.
__ADS_1
"Aaaaaaaa" Mereka kompak berteriak.