Cinta Di SMK

Cinta Di SMK
Menghadap guru BP


__ADS_3

Mata pelajaran pertama masih berlangsung ketika Andrian masuk ke ruang kelas yang Prisha huni. Mendadak jantung Prisha berdetak lebih cepat. Entah karna begitu cintanya ia kepada Andrian, atau karna ia takut dengan kejadian di malam terakhir kegiatan MPLS itu. Yang jelas sekarang otak Prisha ngeblank. Tak bisa memikirkan apapun.


Pagi tadi Elina and the geng menyeret Prisha menuju gudang sekolah untuk mengancam Prisha agar tak mengatakan apa-apa yang kiranya akan memberatkan posisi Elina. Prisha disekap digudang yang pengap. Tujuannya hanya satu, ia tak ingin melihat Prisha sekolah di SMK Kusuma. Andai masih bertahan ia berjanji akan terus menindas Prisha hingga Prisha benar-benar menyerah.


Namun ancaman itu hanya berlaku untuk Prisha. Sedangkan Andrian, Hani dan Gita mereka pasti dengan berani mengungkapkan kebenarannya untuk memberi effek jera pada Elina. Dan Prisha harus bisa menghandle mereka. Entah bagaimanapun caranya.


"Selamat siang bu. Maaf mengganggu jam belajarnya sebentar. Saya diutus untuk memanggil Prisha, Hani dan Gita untuk menghadap guru BP sekarang." Kata Andrian kepada Maulin yang sedang mengajar mata pelajaran Matematika itu.


"Baik pak. Silahkan disampaikan saja. Tapi maaf kalau boleh saya tau mereka melakukan kesalahan apa ya?" Kata Maulin penasaran.


"Maaf bukannya mau ikut campur. Tapi sebagai wali kelas, saya hanya ingin menjaga siswa saya agar tidak melakukan pelanggaran" Kata Maulin menjelaskan.


"Tidak ada apa-apa bu. Saya ngerti. Tapi mereka tidak melakukan apa-apa. Hanya jadi saksi saja." Jawab Andrian menjelaskan. Kemudian Prisha, Hani dan Gita segera di panggil untuk mengikuti Andrian menuju ruang BP.


Elina and the geng begitu gusar ketika Andrian memanggilnya untuk menemui guru BP. Namun ia berusaha menutupi kepanikan yang ada dengan senyuman. Mereka yakin Prisha tak akan berani mengatakan yang sebenarnya setelah kejadian penyekapan itu. Ia juga mengancam kalau sampai teman-teman Prisha mengatakan yang sejujurnya maka ia akan menyiksa Prisha dengan hal yang lebih mengerikan lagi.


Jarak ruang kelas dengan kantor tak begitu jauh. Membuat Prisha berfikir keras bagaimana caranya untuk membuat Andrian dan teman-temannya tutup mulut. Setelah cukup dekat dengan ruangan yang dituju Prisha pun menghentikan langkahnya.


"Kenapa berhenti Sha?" tanya Gita yang sebelumnya berjalan beriringan.


"Aku takut Ta" akui Prisha


"Gak apa-apa. Tenang. Rileks. Nanti kalau di tanya jawab jujur aja. Aku sama Hani siap mendampingi." Kata Gita berusaha menenangkan.

__ADS_1


"Kenapa kalian berhenti disitu? Masuk" Perintah Andrian yang menoleh karena tak mendapati mereka dibelakangnya.


"Baik pak" jawab mereka kompak.


Ruang guru BP memang tak luas. Namun masih bisa digunakan untuk menghirup udara dengan leluasa bagi manusia normal. Tidak seperti yang dirasakan Prisha saat ini. Ruangan itu layaknya liang lahat yang menggapit tubuhnya dengan tanah. Membuat dadanya begitu sesak untuk sekedar menghirup udara.


Dalam ruangan itu Prisha memanglah korban. Namun justru ia lah yang terlihat ketakutan. Wajahnya pucat. Tangannya berkeringat dingin. Tubuhnya bergetar. Siapapun yang melihat dan tak tahu kejadian sebenarnya pasti mengira kalau Prisha adalah tersangkanya.


Berbanding terbalik dengan Prisha, Elina justru terlihat santai. Ia tersenyum sinis kepada Prisha tanda bahwa ia tak gentar sedikitpun dihadapan guru BP. Wajah angkuhnya menatap Prisha tajam seolah memberi peringatan bahwa disini ia lah yang berkuasa.


Pertanyaan demi pertanyaan dijawab Elina dengan santai. Seolah ia tak pernah melakukan kesalahan. Jangankan menyesal, merasa bersalah pun tak ia tunjukkan. Justru ia mengarang cerita seolah tak pernah terjadi penindasan.


Bukannya menyangkal, Prisha justru membenarkan semua karangan Elina. Membuat Hani, Gita dan Andrian geleng-geleng kepala. Mereka kecewa dengan sikap Prisha yang tak bisa tegas. Padahal mereka siap membela Prisha. Tapi yang ingin dibela justru berkhianat membela pada pihak lain.


Gita dan Hani keluar dari ruang BP terlebih dahulu dengan wajah masam. Kekecewaan kepada Prisha tak bisa di sembunyikan. Sedangkan Elina keluar dengan penuh kemenanangan sambil mengacungkan jempol kearah Prisha.


Langkah kaki Prisha harus terhenti ketika ia dihadang oleh Andrian.


"Berhenti" Kata Andrian dengan wajah datarnya.


Prisha pura-pura tersenyum menyembunyikan perasaan sedihnya. Andrian menatapnya lekat. Ada amarah yang ia tahan dibalik sikap cueknya.


"Kenapa nangis? Harusnya kamu senang karna justru perkataan kamu yang lebih dipertimbangkan." Kata Andrian ketus.

__ADS_1


"Maaf pak" kata Prishabdengan wajah tertunduk.


"Ayo ikut saya ke ruangan TU. Ada yang harus kita bicarakan."


Tanpa menunggu jawaban Prisha Andrian telah melangkah terlebih dahulu menuju ruangan TU. Prisha tak bisa berbuat apa-apa kecuali mengikutinya dengan takdzim.


"Duduk" perintah Andrian.


Prisha pun segera duduk didepan meja yang bersebrangan dengan Andrian.


"Sebenarnya ada apa ini? Kenapa kamu mengatakan kalau kejadian kemarin itu cuman kecelakaan. Kenapa kamu mengatakan kalau tangan kamu tidak sengaja terkena lilin. Jelas guru BP percaya melihat luka kamu yang tinggal sedikit karna kejadian itu sudah 2 hari yang lalu. Andai aku tahu kejadiannya kayak gini lebih baik malam itu aku gak ngobatin luka di tanganmu." Kata Andrian masih dengan nada datar.


"Maaf pak" Jawab Prisha dengan wajah menunduk.


"Kamu tahu kenapa teman-teman kamu ninggalin kamu begitu aja? Mereka itu kecewa sama kamu Sha. Mereka sudah siap membelamu tapi kamu menyerah gitu aja. Kalau kamu tetap seperti ini, yang ada Elina dan teman-temannya itu semakin semena-mena menindasmu." Andrian menarik nafas sejenak untuk menjeda ucapannya.


"Sekarang aku tanya sekali lagi sama kamu. Sebenarnya ada apa antara kamu dengan anak jurusan keperawatan itu? Apa kamu di ancam agar mereka tak kena sanksi?" Tanya Andrian kemudian.


Detik selanjutnya Prisha menagis sesenggukan. Tangisnya yang tadi dibendung, kini telah keluar membanjiri pipinya. Ia menangis lagi. Tak perduli jika Andrian menatapnya dengan mata yang kurang bersahabat. Andrian hanya diam. Membiarkan Prisha menangis sepuas hatinya. Kemudian tangannya mengambil tisu di meja lalu menyodorkan kepada Prisha.


"Ini tisu, untuk mengusap air mata dan ingusmu itu. Udah gede kok mewek melulu".


Prisha menerima selembar tisu itu lalu menggunakannya. Setelahnya ia membuangnya di tong sampah yang terletak di samping meja.

__ADS_1


"Kalau mau nangis, nagis aja sepuasnya. Tapi setelah ini tolong bicara jujur. Saya bisa saja mengawasi gerak gerik kamu lewat CCTV. Tapi saya masih ingin melihat kejujuran kamu. Saya bicara seperti ini bukan untuk menekan kamu. Tapi semua ini saya lakukan semata-mata karna saya perduli sama kamu."


Prisha masih duduk dalam tangisnya. Sementara Andrian duduk di sebrangnya sambil menatap wajah cantik yang penuh air mata itu. Hingga semakin lama tangisan itu mereda berganti sebuah senggukan saja.


__ADS_2