
"Selamat siang buk. Maaf saya baru datang." Kata Prisha setelah memasuki butik milik Ammy yang terletak disamping rumah. Butik tersebut terletak tak jauh dari sekolah SMK Kusuma. Oleh karena itu Prisha memilih berjalan kaki untuk menghemat biaya. Sebenarnya ia bisa saja meminta Hani atau Gita untuk mengantarkannya. Namun ia tak mau merepotkan orang lain.
"Prisha. Selamat datang di butik mama Ammy" Sapa Ammy ramah.
"Sana ganti baju dulu. Setelah itu bantu pasang payet." Lanjut Ammy.
"Terima kasih bu. Biar Prisha langsung bantuin ibu saja" Jawab Prisha rikuh.
"Udah. Sana ganti baju dulu." kata Ammy tak mau dibantah.
"Maaf bu. Tapi saya gak bawa baju ganti. Karena saya fikir gak apa-apa bekerja memakai baju ini. Toh saya kerjanya juga cuman sampai jam 4 sore saja" jawab Prisha berterus terang.
"Ya ampun Sha. Kenapa gak bilang dari tadi sih. Kalau gitu biar saya telepon Rian dulu. Biar diambilin baju mbaknya dirumah. Maaf ya saya belum sempet buatin kamu seragam." Ammy segera meraih handphonnya. Menekan nomor Andrian dan mulai melakukan panggilan.
"Hallo mas. Kamu dimana sekarang?" Tanya Ammy to the point.
"Dirumah Ma. Ini lagi makan"Jawab Andrian dari seberang telepon sambil mengunyah makanan.
"Makan terus. Tapi gak bisa gemuk." cibir Ammy yang tak ditanggapi oleh Andrian. Terdengar denting sendok yang beradu dengan piring menandakan bahwa Andrian masih sibuk dengan makanannya.
"Mas.. Nanti kalau habis makan tolong bawain baju ganti buat Prisha ke butik ya. Ambilin baju mbak Dilla dikamar. Kayaknya ukuran tubuhnya sama." Kata Ammy.
"Bentar" Ammy menjeda bicaranya dengan Andrian.
"Sha. Kamu sudah makan belum?" Tanya Ammy kepada Prisha sambil menjauhkan telepon genggamnya.
"Sudah bu" Jawab Prisha bohong. Nyatanya perutnya belum kemasukan apapun selain sarapan tadi pagi. Bekal yang seharusnya ia gunakan makan siang saat jam istirahat nyatanya masih utuh. Bukan tak nafsu tetapi memang sudah tak layak konsumsi karena tragedi lempar lemparan yang di lakukan Elina and the geng.
"Sudah kan tadi jam 9an waktu istirahat. Sekarang pasti belum makan kan?" Kata Ammy. Ammy kemudian mendekatkan handphonnya kembali ke telinganya. Melanjutkan percakapannya dengan Andrian yang belum selesai.
"Mas.. Mas.. Sekalin bawain makan siang juga ya" Kata Ammy kemudian.
"Mama ini ribet banget sih jadi orang. Prishanya suruh kesini aja kenapa? Deket juga kan" Jawab Andrian dari sebrang telepon dengan nada kesal.
__ADS_1
"Iya juga ya. Ya udah kalau gitu biar Prisha kesitu aja" Tanpa mengucapkan apapun Andrian langsung menutup sambungan teleponnya. Membuat Ammy menggerutu sebal.
"Dasar anak nakal. Main tutup telepon seenaknya aja"
"Sha.. Kamu kerumah mama dulu ya. Ganti baju sekalian makan siang. Tenang aja dirumah ada mbok yang biasa bantu-bantu di rumah kok. Jadi gak berduaan sama Rian" Perintah Ammy. Prisha melangkah keluar butik menuju rumah Andrian yang terlebih dulu menaruh tasnya diruang pegawai.
"Permisi" ucap Prisha begitu sampai di depan pintu rumah Andrian. Tak berapa lama, Andrian keluar dengan memakai kaos oblong dan celana pendek dibawah lulut.
"Masuk" Kata Andrian dengan wajah cueknya.
"Maaf pak. Saya kesini disuruh ibu Ammy untuk meminjam baju milik mbaknya pak Andrian" Jawab Prisha yang masih mematung disamping pintu dengan wajah tertunduk.
"Udah tau. Tadi mama udah bilang. Terus ngapain kamu berdiri aja disitu? Kan saya sudah bilang masuk"
Prisha melangkah masuk rumah tersebut untuk yang kedua kalinya. Membuntuti Andrian yang berjalan menuju ruang makan.
"Sana makan dulu. Biar aku cariin bajunya." Andrian melangkah menuju lantai dua rumahnya. Sedangkan Prisha duduk sendiri di meja makan. Ia segera mengisi piring yang ada di hadapannya dengan nasi dan menyiramnya dengan sayur asem daging. Kemudian ia meraih kerupuk yang ada dalam toples.
"Eh ada tamu" Kata pembantu di rumah tersebut.
"Dia temennya Rian yang kemarin mbok. Dia sekarang bantu mama di butik. Tolong buatin minum dingin ya mbok" Kata Andrian yang baru saja turun dari tangga.
"Ooo nggeh mas. Mbok permisi kebelakang dulu"
Sejenak Prisha tertegun dengan ucapan Andrian. Andrian yang dikenalnya cuek dilingkungan sekolah ternyata begitu hangat jika dirumah. Bahkan meminta dibuatkan minum saja ia awali dengan kata minta tolong. Bukan asal memerintah.
"Kenapa bengong? Lanjutin makannya" Kata Andrian yang melihat Prisha hanya memandanginya saja tanpa memperdulikan makanan yang ada di piringnya.
"Ooh iya pak. Mari pak silahkan makan" Kata Prisha kikuk. Ia begitu salah tingkah ketahuan memandangi Andrian.
"Yang punya rumah itu saya. Kenapa jadi kamu yang mempersilahkan" Andrian duduk di kursi makan disebrang Prisha. Sedangkan pakaian yang baru ia ambil, ia letakkan di kursi sampingnya.
"Gak usah malu malu. Di enakin aja makannya." Kata Andrian yang hanya dijawab dengan anggukan.
__ADS_1
Setelah makan dan menghabiskan es jeruk yang dibuatkan simbok. Prisha pun bergegas kekamar mandi untuk mengganti seragamnya dengan pakaian yang dipilihkan Andrian.
"Pak. Saya pamit dulu. Mau kembali ke butik. Terima kasih makan siangnya"
"Heem" Andrian hanya berdehem sambil sibuk memainkan handphon ditanganya. Prisha melangkah dari rumah tersebut dengan bahagia. Ia bersyukur bisa mengisi perutnya dengan lauk daging yang bagi keluarganya hidangan langka. Biasanya orang tuanya hanya memasak daging saat idul adha ketika mendapatkan bagian daging kurban.
"Sudah balik Sha" Tanya Ammy setibanya di butik.
"Iya bu. Terima kasih makan siangnya." Kata Prisha sambil membungkukkan badannya.
"Ya sama-sama. Ayo saya kenalkan sama teman kerjamu. Nanti kamu ikut jahit juga sekalian finishing." Ammy mengandengnya ke sebuah ruangan kerja. Ada beberapa mesin jahit, obras juga beberapa manekin. Terlihat juga beberapa gulung kain yang berjajar rapi di ruang tersebut. Ammy memperkenalkannya pada dua orang wanita yang sedang sibuk membuat gaun. Sejenak merekapun menghentikan aktifitasnya hanya untuk sekedar menyapa Prisha. Ramah. Kata itulah yang ada pada benak Prisha ketika bertemu dan berbincang dengan mereka. Prisha diarahkan untuk membantu memasang payet pada gaun yang sudah di pasang di manekin. Dengan senang hati iapun melaksanakannya dengan masih di awasi oleh Ammy.
Pintu terbuka menandakan ada seseorang masuk. Ammy pun segera keluar menuju galeri untuk menyambut tamu tersebut.
"Selamat datang di butik mama Ammy" Kata Ammy ramah.
"Mas Rian. Ngapain kesini. Kirain tadi tamu" Kata Ammy setelah melihat ternyata Andrian yang masuk ke dalam butik.
"Ngadem" Jawabnya singkat. Ia pun segera duduk pada sofa yang ada. Merogoh handphon dari sakunya kemudian memainkannya. Ammy pun hanya bisa geleng geleng kepala melihat tingkah anak lelakinya.
...****************...
Waktu terus berjalan. Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 4 sore. Prishapun pamit untuk pulang. Begitupun dengan teman kerja yang lain.
"Saya pamit dulu bu. Terima kasih atas bimbingannya. Semoga pekerjaan saya tidak mengecewakan" kata Prisha. Ia meraih tangan Ammy, menciumnya dan segera melangkah keluar butik.
"Ayo saya antar" Kata Andrian yang ternyata mengikutinya keluar.
"Terima kasih pak. Tidak usah. Saya bisa pulang sendiri." Jawab Prisha. Ia melanjutkan langkahnya menuju jalan raya. Berdiri di tepi jalan sambil menunggu angkot datang.
Tin tin
Bunyi klakson motor yang berhenti dihadapannya. Tampak seorang lelaki berhelm menaiki motor spot memperhatikannya.
__ADS_1
"Baru pulang? Ayo aku antarin!"