Cinta Di SMK

Cinta Di SMK
Bab 35


__ADS_3

Waktu terus berjalan. Elina tak pernah lelah menindas Prisha. Ia selalu mencari cara agar Prisha selalu buruk dimata orang lain. Memfitnahnya dengan tindakan keji, hingga mengadu domba. Akibatnya Prisha dikucilkan. Mereka semua tak ada yang mau berteman dengan Prisha. Bahkan untuk pembagian kelompok belajarpun teman-temannya selalu menampiknya dengan seribu alasan. Untung saja gurunya bijaksana. Tetap memberikan hak Prisha sebagai salah satu pelajar di SMK Kusuma.


Terlepas dari itu semua, Prisha semakin sadar mana teman yang benar benar menyayanginya atau sekedar memanfaatkannya disaat mereka butuh. Sejauh ini hanya Gita dan Hani yang masih benar benar mau berteman dengan Prisha. Kendati demikian, Prisha tetap berusaha bersikap ramah kepada semua orang. Walau pada akhirnya ia sering kecewa ketika senyuman atau sapaannya diabaikan.


Hubungan Prisha, Gita dan Hani semakin akrab. Mereka sering bersama walau di luar jam sekolah. Mereka sering ke perpustakaan daerah ketika membutuhkan referensi dalam menyelesaikan tugas sekolah. Kadang mereka juga saling berkunjung ke rumah satu sama lain. Walau pada kenyataannya lebih sering Prisha yang di kunjungi, mengingat kesibukannya dalam dunia jahit menjahit.


Berbicara tentang jahit, Prisha masih tetap bekerja paruh waktu di butik Ammy. "Mencuri" ilmu yang Ammy punya demi belajar menjadi lebih baik lagi. Terkadang ia juga cerewet bertanya tentang sesuatu yang baru kepada seniornya yang sama-sama bekerja menjadi buruh jahit. Ia masih segan untuk bertanya langsung kepada Ammy yang tak lain adalah owner. Walau pada kenyataannya Ammy begitu welcome, terbuka kepada semua kariyawan. Termasuk Prisha.


Jarum jam di dinding telah menunjuk angka 4 dan 12. Menunjukkkan bahwa waktu kerja kariawan di butik telah usai. Kariawan butik tempat Prisha bekerja satu persatu berpamitan. Begitupun Prisha.


"Buk Prisha mau pamit pulang dulu. Sekalian izin besok tidak masuk kerja. Karena disekolah ada kegiatan outbound sekaligus kemah. Mungkin hari senin baru masuk lagi" Kata Prisha berpamitan. Ia pun segera mengulurkan tangan hendak bersalaman.


"Sebentar" Kata Ammy. Ia mengambil amplop yang diisinya dengan beberapa lembar rupiah.


"Ini buat beli keperluan kamu. Terima kasih ya sudah mau bantu saya" Ammy menyodorkan amplop yang berisi uang gaji kepada Prisha. Prisha segera menerimanya yang terlebih dulu mengucapkan terima kasih kepada Ammy.


Ia langkahkan kakinya lebar lebar seperti senyum di bibirnya. Ia begitu bahagia mendapatkan gaji pertamanya bekerja dibutik mama Ammy. Rencananya ia akan ambil sebagian uang itu untuk diberikan kepada Andrian sebagai ganti uang yang digunakan membayar kas bon dikantin dulu. Ia akan lega jika tak lagi punya hutang pada Andrian. Sementara sisa gajinya akan ia gunakan untuk membeli tas dan keperluan outbound besok.


"Pak Andrian" teriak Prisha begitu melihat Andrian keluar dari rumah. Andrianpun melangkah menghampirinya dengan malas.


"Ada apa manggil manggil" Tanya Andrian yang telah berdiri didepan Prisha. Ia masukkan tangannya kedalam saku celana yang memberikan effec cool. Prisha segera mengambil selembar uang warna biru bergambar pahlawan nasional I Gusti Ngurah Rai. lalu ia berikan kepada Andrian.


"Pak. Ini saya mau mengembalikan uang bapak yang waktu itu." Kata Prisha. Tangannya menjulur memberikan selembar uang yang tak kunjung di terima Andrian.


"Uang apa ya? Saya gak ngerti maksud kamu"

__ADS_1


"Dulu bapak kan pernah bantu saya bayarin bon dikantin. Dan saya belum bisa bayar. Ini sekarang saya sudah ada rizki. Di terima ya pak" Jawab Prisha ramah. Namun Andrian lagi lagi menyuekinya.


"Saya gak butuh itu. Memang kamu fikir saya ini orang yang suka pamrih kalau mau nolong orang? Kalau saya udah kasih berarti saya sudah ihlas."


"Tapi kan dulu bapak bilangnya......" Andrian mengangkat tangannya ke atas memberi gerakan stop. Membuat Prisha tak lagi melanjutkan perkataannya.


"Sekarang kamu ikut saya" Perintah Andrian. Ia berjalan menuju motor sport. Mengambil helm yang di letakkan di stang lalu memakainya. Setelahnya ia memberikan helm kepada Prisha dan menyuruh memakainya. Sedangkan Andrian sudah naik motor tersebut dan menyalakan mesinnya.


"Kenapa masih berdiri disitu?" Tanya Andrian ketika melihat Prisha yang tak kunjung berdiri.


"Saya harus naik motor ini juga pak?" tanya Prisha.


"Ya iya lah. Masak pakai helm saya suruh naik angkot. Kamu itu ada ada aja" Andrian menggeleng gelengkan kepalanya melihat tinggah Prisha.


Prisha mendekat ke arah motor dan bermaksud untuk menaikinya. Namun kendaraan yang tinggi itu tak mau bersahabat dengan tubuhnya yang mungil. Ditambah lagi ia yang memakai rok panjang membuat ia semakin kesusahan saja. Melihat Prisha yang kesusahan Andrian pun beraksi.


"Mas Rian" Teriak Ammy membuat mereka langsung menoleh kearah Ammy. Ammy berjalan mendekat ke arah Prisha dan Andrian. Menghampiri mereka yang masih berdiri disamping kendaraan milik Andrian.


"Mas Rian. Kamu itu apa apaan sih mas. Jangan mesum deh. Nyuruh Prisha naikin rok segala" Kata Ammy salah faham.


"Mama yang apa apaan. Nuduh sembarangan. Prisha itu kesusahan naik motor, makannya Andrian suruh naikin roknya. Biar gampang." Kata Andrian menjelaskan. Namun Ammy tak mau percaya begitu saja. Ia tatap Andrian dan Prisha secara bergantian tanpa mengatakan sepatah kata pun.


"Mama ini curigaan amat sih sama anak sendiri. Lagian disiang bolong dan di luar rumah kayak gini apa yang bisa Andrian lakuin. Kalaupun Andrian aneh aneh ya langsung bawa kekamar aja. Ngapain juga disini" Kata Andrian sebal ditatap sedemikian rupa oleh mamanya sendiri.


"Benar begitu Sha?" Tanya Ammy dengan pandangan yang masih tertuju pada mereka berdua.

__ADS_1


"Benar bu." Jawab Prisha yang disertai dengan anggukan. Ammy Menghembuskan nafas lega mendengar kata kata Prisha.


"huft. Syukur deh kalau begitu."


"Terus kalian mau kana sore-sore?" Tanya Ammy kemudian.


"Mau beli snack sama minuman buat kegiatan luar kelas besok ma" Jawab Andrian yang sudah kembali lagi menaiki motornya.


"Ya udah kalian berangkat sana gih. Ntar kesorean Prisha malah dicariin orang tuanya." Kata Ammy. Prisha menaiki motor dengan susah payah.


"Andrian berangkat dulu ya Ma" Pamit Andrian pada Ammy.


"Jangan lupa nanti sekalian anterin Prisha pulang" Teriak Ammy begitu kendaraan yang dinaiki Andrian melaju.


...****************...


"Mau belanja dimana?" Tanya Andrian begitu mereka sampai ke jalan raya.


"Terserah bapak" Jawab Prisha.


Angin melaju begitu kencang. Membuat rok yang di naiki Prisha sedikit mengembung. Membuatnya harus memeganginya.


"Lain kali kalau keluar itu pakai celana. Biar gak ribet" Kata Andrian yang melihat Prisha begitu kewalahan membenahi roknya. Padahal Andrian mengendarai motor dengan pelan.


Sesampai di sebuah supermarket Prisha turun dari motor dengan memegangi pundak Andrian. Setelah itu mereka masuk menuju rak snack yang berjajar. Ditengah kesibukan mereka belanja tiba-tiba datang seseorang yang menyapa Andrian

__ADS_1


"Kak Andrian" Sapa seorang wanita yang juga menenteng keranjang belanjaan.


"Ini siapa?" Tanya wanita itu lagi memandang ke arah Prisha. Andrian tak menjawabnya. Justru memegang tangan Prisha dengan erat.


__ADS_2