
Prisha baru saja bersiap pulang dengan naik angkot. Namun langkahnya terhenti ketika ada seseorang menarik bajunya dari belakang. Ia pun spontan mundur agar tidak terjatuh.
"Eh gembel, mau ke mana loe? Nih duit buat ngeprint makalah sama beli nasi kotak"
Kata Mega kasar sambil melemparkan beberapa lembar uang yang tadi telah dikumpulkan anggota kelompok.
"Bukannya kesepakatannya tadi bendahara yang ngurusin makan? Itu berarti kan kamu Ga" Jawab Prisa takut-takut.
" Loe pikir gue mau ngurusin nasi kotak itu? Lagian ya, nggak akan ada warung yang mau ribet milihin sayap ayam bagian kanan. Besok subuh elo ke pasar milihin sayap ayam terus dimasak. Nanti ketemu di sekolah jam 07.30." Perintah Mega penuh keangkuhan.
"Ya udah gue balik dulu. Tuh duitnya loe pungutin. Ingat jangan korupsi"
Tambah Mega yang langsung pergi mengendarai motornya. Prisha hanya bisa menunduk memunguti uang yang telah dilempar ke arahnya. Hatinya sakit. Ia merasa dipermalukan oleh Mega. Namun ia tak kuasa untuk melawannya. Tanpa ia sadari ada sepasang mata yang menatap Prisha penuh iba.
...****************...
Suatu kelompok dengan Elina membuat Prisha sangat sibuk. Sejak pulang sekolah siang tadi ia sudah sibuk mencari beberapa perlengkapan yang harus dikenakan besok pagi. Mulai dari pakaian hitam putih, papan nama yang terbuat dari kardus, serta barang-barang yang lainnya. Malam hari ia harus ke rumah tetangga meminjam laptop untuk menyelesaikan tugas makalah kelompok. Sekitar pukul 10.00 malam tugas makalah itu sudah ia selesaikan.
"Mbak ini laptopnya. Makasih ya sudah pinjemin dan bantu Prisha buat makalah." Kata Prisha kepada tetangganya itu.
"Ya dek. Sama-sama" jawabnya ramah.
"Kalau Prisha pinjem flash disk-nya dulu boleh nggak mbak? Besok kalau udah aku print aku kembaliin." pinta Prisha kepada tetangganya yang langsung diberikan izin. Setelah mengucapkan terima kasih Prisha pun segera pulang kerumah.
__ADS_1
Pagi hari sebelum subuh Prisha sudah sibuk memasak nasi di dapur. Sambil menunggu nasi matang, ia membuat sambal geprek sebagai pendamping. Setelah nasi matang ia segera membentuk bulatan setengah bola menggunakan mangkuk lalu meletakkan nasi tersebut ke dalam kotak sterofom yang ia lapisi kertas minyak. Setelah selesai ia pun segera ke pasar membeli sayap ayam, mentimun dan juga selada.
Pukul 06.00 ia baru pulang dari pasar. Ia segera membuat bumbu untuk marinasi ayam yang akan dibuat ayam krispi. Ratna juga ikut membantu. Walaupun nasi kotak itu hanya sekitar 20 kotak tetapi cukup menyita waktu. Untung saja Ratna cukup pengertian. Melihat anaknya sibuk Ratna sejenak melupakan jahitan yang menumpuk. Ia membantu Prisha terjun ke dapur untuk menyiapkan nasi kotak. Ketika Prisha ke pasar Ratna melihat sambal yang sudah jadi. Ia membantu Prisha meletakkan sambal tersebut kedalam wadah-wadah kecil.
"Terima kasih ya bu sudah bantuin Prisha siapin bekal" kata Prisha sambil menuangkan tepung ke dalam wadah.
"Ya nduk gak apa apa" jawab Ratna
"Kenapa temenmu nggak nyiapin bekalnya sendiri-sendiri nduk? Ini kan cuman masakan sederhana." Tanya Ratna kemudian.
"Emang sederhana sih Bu. Tapi kalau anak orang kaya ya tetep gak mau buat lah. Lagian kemaren itu rencananya mau pesen bareng-bareng. Biar lebih hemat. Cuman karena panitianya minta lauk sayap ayam kanan jadi warungnya nolak. Terus Prisha deh yang disuruh masakin." Jelas Prisha.
"Ya sudah nggak papa. Itung itung nolong temen. Yang penting kamu ikhlas nolongnya. Biar semua dipermudah Tuhan." Kata Ratna sambil mengocok telur membuat adonan basah.
"Amiin." Kata Prisha
Prisha sungguh cekatan dalam memasak. Sayap ayam yang sudah ia marinasi tadi ia masukkan kedalam adonan kering. Kemudian ia masukkan ke adonan basah yang telah dibuat Ratna. Setelah itu menggulingkan kembali ke adonan kering dan langsung menggorengnya dengan minyak yang sudah panas. Terlihat simpel tetapi memakan banyak waktu karena harus digoreng dengan api kecil agar matang merata.
"Buk.. Ibu bantuin Prisha goreng ayamnya ya. Prisha mau mandi terus ke tempat fotocopyan dulu. Mau cetak tugas." Pinta Prisha
"Ya nduk. Sana kamu siap-siap biar ibu yang terusin" jawab Ratna.
Prisha mengucap terima kasih kepada ibunya lalu segera mencuci tangan yang penuh tepung itu. Setelah bersih, ia menyambar handuk yang ada di gantungan lalu melangkah sedikit berlari ke kamar mandi.
__ADS_1
Pukul 07.55 Prisha baru sampai ke sekolah. Membuat Mega begitu murka.
"Kok baru dateng sih Sha. Kan kemarin gue bilangnya ketemuan jam 07.30. Ini udah mau di mulai apel paginya" gerutu Mega tak sabaran. Namun Prisha tak menggubrisnya dan justru melangkah pergi menuju halaman sekolah yang akan dijadikan tempat apel pagi. Kemudian ia meletakkan tas bawaanya di tanah. Ia segera membagikan kotak makan kepada teman-teman sekelompoknya. Itu semua ia lakukan agar waktu pengecekan perlengkapan semua sudah siap dan tidak ada yang mendapat hukuman.
Kecerobohan Prisha yang meletakkan barang bawaannya sembarangan dimanfaatkan oleh Mega dan Elina. Ia segera menggambil papan nama milik Prisha dan segera membuangnya kedalam tong sampah. Sangat mudah bagi mereka melakukan hal itu. Karena Elina dan Mega berdiri di barisan belakang. Sementara Prisha sibuk membagikan kotak makanan ke depan.
Apel pagi telah di mulai. Prisha bingung mencari papan nama miliknya. Belum sampai ketemu, panitia sudah melakukan pengecekan perlengkapan peserta. Akhirnya ia harus maju kedepan sebagai hukuman tidak melengkapi atribut.
"Siapa namamu?" Tanya salah satu panitia MPLS yang ternyata adalah Rama.
Rama yang masih terhasut oleh omongan Elina saat pendaftaran, begitu antusias ketika tahu Prisha melakukan kesalahan. Ini seperti aji mumpung yang akan ia gunakan untuk mempermalukan Prisha.
"Prisha Maharani" jawab Prisha dengan kepala tertunduk. Sinar matahari yang menyengat tubuhnya membuat kepalanya sedikit pusing. Ditambah lagi kurang tidur dan tidak sarapan menjadikan pandanganya sedikit buram.
"Kenapa kamu gak memakai papan nama?"
"Sudah merasa terkenal ya sampai-sampai gak mau pakai papan nama?" Bentak Rama yang membuat kepala Prisha semakin pusing.
"Denger ya kalian. Kami menyuruh kalian memakai atribut dan membawa perlengkapan itu bukan untuk kakak kakak panitia. Tapi buat kebaikan kalian sendiri. Saya gak akan hukum kalian. Hanya saja harus tetap mengajarkan disiplin dan bertanggung jawab"
Rama masih bicara panjang lebar, namun kepala Prisha semakin pusing. Ia ambruk begitu saja membuat suasana semakin gaduh. Panitia segera membopong Prisha menuju ruang kesehatan sekolah dan membaringkannya di ranjang.
Setelah beberapa menit pingsan ia akhirnya sadar dengan bantuan minyak angin yang di hirupkan melalui tangan oleh salah satu panitia. Tak tak tak. Suara sepatu mendekat kearah ranjang Prisha. Terlihat sosok pria memakai kemeja putih menyembul dari arah pintu. Tubuhnya tinggi, kulitnya putih, bibirnya pink alami. Rambutnya yang sedikit basah membuat penampilannya semakin memukau.
__ADS_1
"Kenapa sampai ada kejadian peserta pingsan kayak gini?" Tanya lelaki itu kepada panitia perempuan yang menunggui Prisha. Yang ditanya hanya bisa menunduk sambil mengucap maaf lirih.
"Jauh-jauh hari saya sudah peringatkan kalian. Jangan sampai ada kekerasan dalam melakukan MPLS. Entah itu kekerasan fisik ataupun kekerasan verbal. Tapi ternyata masih ada kasus seperti ini." Lelaki itu berbicara penuh karisma. Tidak ada nada tinggi tapi mampu membuat lawan bicaranya bungkam. Membuat Prisha terpesona sekaligus penasaran dengan sosok tampan di depannya.