Cinta Di SMK

Cinta Di SMK
Renungan Malam


__ADS_3

Prisha terbangun dari pingsannya dan mendapati Andrian duduk di sampingnya. Dengan kebingungan ia bertanya


"di mana saya Pak?"


Matanya mengerjap menyesuaikan sinar lampu yang menerangi ruangan itu.


"Kamu sekarang ada di ruang guru. Saya nggak kuat kalau harus bohong kamu sampai ke UKS. Terlalu jauh. Lagian berapa sih berat badan kamu? Berat banget. Kalau punya hobi pingsan lebih baik kamu diet."


Andrian berbicara panjang lebar, terkesan marah. Namun Prisha justru menyukai itu. Ia menganggap semua ocehan Andrian adalah bentuk perhatiannya kepada Prisha.


"Maaf pak. Tadi saya ketakutan karena ada hantu didepan toilet sekolah." Kata Prisha beralasan.


"Hantu? Mana ada hantu bisa bopong kamu sampe kesini?" Jawab Andrian ketus.


"Maksud bapak?" Tanya Prisha kebingungan.


"Yang kamu maksud hantu itu saya tadi. Lampu didepan toilet perempuan redup. Saya berinisiatif menggantinya. Tapi saya baru nyopot bohlamnya malah kamu sudah berteriak. Untung saja saya cekatan. Kalau gak sudah ambruk dilantai kamar mandi tadi kamu" Jawab Andrian menjelaskan.


"Maaf pak.. Saya minta maaf. Saya gak bermaksud menyamakan bapak dengan hantu. Hanya saja saya kaget. Ketika saya keluar lampunya tiba-tiba mati dan ada sosok hitam besar." Prisha ikut menjelaskan kronologinya.


"Heeem.. Lain kali kalau gak berani ke kamar mandi sendiri itu minta temen buat nganterin. Jangan sok berani tapi ujung-ujungnya pingsan"


"maaf pak.. Maaf telah merepotkan bapak"


"Sejak kapan saya jadi bapakmu?"


Kata-kata Andrian menghanyung di udara. Kemudian ia berdehem untuk menghilangkan suasana canggung


"Renungan malam udah mau dimulai. Sana nyusul temenmu di ruang auditorium."


Perintah Andrian yang lebih mirip pengusiran.


"Baik pak.. Kalau begitu saya permisi. Terima kasih sudah nolongin saya tadi" Jawab Prisha lalu menurunkan kakinya melangkah keluar ruangan.

__ADS_1


"Kenapa bapak ngikutin saya? Saya berani kok" Kata Prisha yang mendapati Andrian berjalan dibelakangnya.


"Siapa juga yang ngikutin kamu. Kepedean. Saya itu mau ke ruang auditorium. Mau ngawasi prosesi renungan malam. Jangan sampai ada yang pingsan atau kerasukan setan"


Andrian melangkah mendahului Prisha menuju ruang auditorium yang sudah penuh dengan peserta. Prisha berjalanan di belakangnya. Ia hanya bisa menatap punggung Andrian yang berjalan didepannya itu dengan senyuman.


Ruang auditorium sudah penuh dengan peserta yang duduk melingkar. Terlihat beberapa dari mereka masih mengantuk. Namun tetap memaksakan diri untuk melangkah menuju ruang tersebut lalu duduk melingkar bersama peserta lain.


Prisha mencari keberadaan Hani begitu sampai di ruang auditorium. Ia segera duduk disamping teman satu kelompoknya itu.


"Han.." Sapa Prisha


"Loe dari mana aja Sha? Kok baru dateng. Gue cariin gak ada tadi. Kirain digondol genderuwo" Ledek Hani


"Iya nih. Habis digondol genderuwo ganteng ke ruang guru" Jawab Prisha sambil senyum-senyum sendiri.


"Hah.. Maksud elo?" Tanya Hani penasaran. Namun rasa penasarannya belum terjawab lampu ruangan sudah dimatikan diganti dengan cahaya lilin yang redup. Itu pertanda jika prosesi renungan malam akan segera dilaksanakan.


"Apakah masih ada yang mengantuk?"


"Jika kalian yang masih muda dan hanya bertugas belajar saja dibangunkan jam segini masih enggan bangun dan mengantuk, bagaimana dengan ibu kalian? Tidak kah kalian tahu, jika dulu pada waktu kalian kecil ibu kalian selalu terbangun di jam-jam seperti ini? Apa kalian tak pernah membayangkan betapa lelahnya raganya mengurus kebutuhan rumah sambil mengurus kalian saat kecil. Tengah malam menangis, rewel karna popok basah. Menangis lapar ingin menyusu. Tubuh mereka yang lelah bekerja dan semakin menua tetap bangun. Mengalahkan rasa kantuk dan letih. Mengganti popok kalian yang basah. Menyusui kalian yang kelaparan. Menyelimuti tubuh kalian agar tak kedinginan. Bahkan mereka rela terjaga agar tidurmu nyenyak dan memastikan tak ada nyamuk yang menggigitmu. Lalu apa balasan kalian setelah besar? Kalian masih suka membangkang ketika diperintah. Kalian masih suka membentak mereka. Kalian masih suka berbuat onar hingga menyeret mereka pada sebuah masalah."


Semua siswa tak ada yang berani mendongakkkan kepala. Mereka semua menunduk mendengarkan perkataan seniornya. Bahkan ada dari mereka yang mulai menitihkan air mata.


"Wahai adik-adikku tercinta.. Apa pernah kalian bangun untuk memastikan tubuh ibumu berselimut atau tidak? Apakah pernah malam hari kalian terjaga merawatnya yang sakit? Apakah pernah kalian menyuapi mereka sebelum memikirkan perutmu yang kroncongan? Rasa-rasanya kalian terlalu egois hingga tak pernah melakukan itu. Padahal ibu kalian. Orang tua kalian, begitu banyak berkorban untuk kalian. Membesarkan kalian hingga tumbuh menjadi remaja. Jika itu di materikan sudah berapa banyak uang yang mereka berikan kepada kalian? Lalu apakah kalian mampu untuk membayar semua itu? Andaikan kalian bisa menukarnya dengan uang, sebanyak apapun itu, semua tak akan cukup menebus kasih sayang orang tua. Namun yang diharap mereka bukan materi. Yang diharapkan mereka bukan uang atau harta yang berlimpah. Yang diharapkan mereka hanya ingin melihatmu menjadi manusia yang sukses dan bahagia."


Panitia itu berbicara panjang lebar hingga membuat peserta MPLS yang melakukan renungan malam menangis sesenggukan. Malam yang sunyi ditambah kata-kata yang begitu menyentuh membuat mereka tak bisa membendung air mata.


Acara renungan malam selesai ketika lilin yang dinyalakan di tengah lingkaran peserta itu tinggal sedikit. Panitia lain menyalakan lampu ruangan auditorium itu. Kemudian melanjutkan kegiatan malam dengan membawa peserta berjalan-jalan dengan mata yang tertutup oleh hasduk mereka masing-masing. Setiap kelompok akan dituntun oleh 1 panitia yang akan membimbing jalan mereka.


"Jalannya hati-hati ya dek. Jangan sampai kaki kalian menyandung nisan"


kata panitia berbohong namun sukses membuat peserta ketakutan. Apalagi Prisha yang notabenya seorang penakut. Padahal mereka hanya diajak mengelilingi lokasi parkir sekolah.

__ADS_1


...****************...


"Han.. Pinjem Prisha bentar ya. Mau gue ajak buka hadiah pemenang presentasi terbaik nih. Kan kemarin yang presentasi gue sama Prisha."


Kata Elina pada Hani yang selalu berada disisi Prisha. Sejenak Hani dan Prisha saling menatap curiga namun detik berikutnya Hani mengangguk tanda mengiyakan.


"Kalau gitu gue ke ruang kelas yang tadi buat kita tidur ya Sha"


Hani beranjak pergi namun masih tak tenang melihat gelagat Elina yang biasanya selalu berbuat jahat kepada Prisha. Dan benar saja, bukannya memberi hadiah tetapi Elina mengajak Prisha ke ruang auditorium yang kini sudah gelap gulita.


"Kok gelap El. Aku nyalain lampunya dulu ya. Biar nanti gampang buka hadiahnya." Kata Prisha yang masih belum menangkap gelagat aneh dari musuh bebuyutannya itu.


"Gak usah" jawab Elina.


Ia menyeret tubuh Prisha untuk segera menuju tengah ruangan yang tadi mereka gunakan untuk renungan malam. Ternyata disitu sudah ada Mega dan Fita yang menunggu dengan korek dan lilin di tangannya.


"Mana tangan loe" Bentak Elina.


Seperti kerbau yang dicolok hidungnya, Prisha pun tunduk dan mengulurkan kedua tangannya. Tanpa diduga Elina meneteskan lilin yang sebelumnya sudah di nyalakan Mega ke tangan Prisha yang kini telah dipegang erat oleh Fita.


"Aduh El.. Sakit.. Panas.." rintih Prisha.


"Tolong hentikan. Emangnya aku ada salah apa sama kalian?" Tanya Prisha disela sela menahan sakit.


"Elo gak tau kesalahan elo? Kesalahan elo adalah elo udah berani cari muka dihadapan kita semua. Pakai naik panggung nyanyi segala. Loe fikir dengan begitu banyak orang yang memuja elo terus mau temenan gitu? Gak bakalan. Cepat atau lambat mereka semua bakal tau kalau elo itu cuman gadis miskin yang cuman jadi benalu dalam berteman." Bentak Elina yang menambahkan satu lilin yang menyala lagi di tangan Prisha yang sebelah.


"Aduh El. Sakit. Tolong hentikan. Aku minta maaf soal itu. Aku gak sengaja maju karena ketakutan ada hantu" Jawab Prisha jujur namun justru membuat mereka tertawa mengejek.


"Elo fikir kita percaya dengan omong kosong itu? Gak bakal" Kata Elina sinis.


Lilin semakin terkikis habis membuat Prisha tak kuasa menahan tangisnya. Ia masih merintih meminta Fita melepaskan tangannya yang dibuat tumpuhan lilin yang menyala. Namun seberapa keras ia meminta, Elina and the geng tanpa rasa kasihan masih terus menyiksa Prisha. Mereka justru tertawa senang melihat Prisha kesakitan hingga terdengar suara dari pintu auditorium bagian tengah


"Hai.. Apa yang kalian lakuin disitu?"

__ADS_1


~{Cinta... Mantramu sungguh hebat. Kau mampu membuat ocehan menjadi melodi yang indah}~


__ADS_2