
Kendaraan yang di tumpangi Prisha melaju dengan kecepatan sedang. Membuat Prisha semakin deg degan. Entah Andrian mengajaknya menuju kemana, yang jelas ia begitu takut. Namun ia tetap mencoba berfikir positif. Tidak mungkin Andrian yang notabennya orang berpendidikan melakukan hal-hal jahat. Kalaupun ia orang jahat, sudah pasti dulu ia tidak akan menyelamatkannya dari penganiyayaan yang di lakukan Elina.
Motor berhenti di depan rumah megah. Di parkiran ada beberapa kendaraan yang salah satunya bertuliskan SMK Kusuma. Perasaan Prisha sedikit lega. Ia berfikir ini pasti rumah salah satu staf SMK Kusuma.
"Ayo turun" Perintah Andrian.
"Baik pak. Maaf kalau boleh tau ini rumah siapa ya? Kok bapak ngajak saya kesini?" Tanya Prisha. Dalam hati ia menerka nerka, apakah ia akan dijadikan babu yang bertugas untuk bersih bersih di rumah tersebut. Karena cuman pekerjaan itu yang bisa di lakukan anak SMK seperti dia sekarang.
"Turun aja dulu. Nanti juga tau" Kata Andrian dengan senyum tipis.
Prisha turun dari kendaraan lalu mengikuti langkah Andrian sampai ke pintu.
"Ngapain berdiri disitu? Ayo ikut masuk" Suara Andrian sedikit lembut. Sangat berbeda ketika di lingkungan sekolah. Dengan langkah berat Prishapun ikut masuk kedalam rumah tersebut. Terlihat ada sebuah foto keluarga yang dipajang di ruang tamu. Dimana dalam foto keluarga tersebut ada Andrian bersama ayah dan ibunya juga dua perempuan cantik. Ia yakin rumah ini pasti rumah Andrian.
"Ma. Pa. Rian pulang nih bawa calon mantu" Kata Andrian sedikit berteriak.
"Maksud bapak apa?" tanya Prisha kaget dengan kata kata Andrian.
"Udah diem aja. Anggap aja latihan di kenalkan ke calon mertua. Kan kamu udah gede." Kata Andrian santai.
"Eh bujang mama udah pulang." Seorang perempuan memakai dres warna biru laut muncul dari belakang. Andrian mencium tangannya. Kemudian Prisha pun mengikutinya. Wajahnya masih terlihat cantik diumur yang tak lagi muda. Pakaiannya pun terlihat modis. Bukan lagi menampakkan seorang emak-emak berdaster seperti di lingkungan Prisha tinggal. Namanya Ammy. Ia adalah mama dari Andrian. Perempuan yang telah melahirkan Andrian dan merawatnya dari kecil.
"Ayo silahkan duduk" Kata Ammy mempersilahkan. Mereka duduk pada sebuah sofa yang tersedia di ruang tamu. Rumah bercat gray yang di padukan dengan warna putih itu terlihat begitu elegan. Ada beberapa tanaman hias hidup yang di letakkan di dalam pot di sudut ruangan membuat siapapun yang tinggal di dalamnya merasa nyaman.
"Ini yang kamu bilang calon mantu tadi?" Tanya Ammy setelah mereka duduk di sofa ruang tamu.
"Iya ma. Gimana mama setuju kan?" Kata Andrian sambil tersenyum.
"Ini masih berseragam lho Yan."
"Kenapa emang? Kan kuliahku juga belum selesai ma"
__ADS_1
"Maaf bu. Tapi saya bukan calonnya pak Andrian. Ibu salah faham." Prisha berkata sambil menunduk takut-takut.
"iya saya tahu. Lagian masak ya sama calon panggilannya pak. Gak romantis ah. Kecuali kalian udah kecelakaan duluan" hahaha Ammy tertawa lebar yang ditutupi dengan telapak tangannya. Ia membayangkan bagaimana anaknya yang kaku itu memperlakukan Prisha yang begitu polos. Ah tidak mungkin. Hal itu tidak akan terjadi. Andrian bukan tipe orang yang suka icip-icip. Jangankan icip-icip, pacaran aja tidak pernah. Padahal banyak sekali perempuan yang medekatinya.
"Sebentar ya saya panggilkan mbak dulu. Masak ada tamu di anggurin" Kata Ammy setelah tawanya terhenti. Ia sedikit menoleh kebelakang sambil memanggil
"Mbak.. Tolong buatin minum buat temennya mas Rian ya." Kata Ammy pada asisten rumah tangganya.
"Baik buk"
"Jadi ada apakah gerangan yang membuatmu membawa gadis cantik ini ke rumah? Mama gak percaya tuh kalau cuman mau ngenalin doang" Kata Ammy yang membuat Andrian senyum-senyum sambil mengelus elus pundak mamanya yang duduk di sampingnya. Tatapannya manja. Terlihat cukup dekat antara ibu dan anak laki lakinya.
"Jadi gini Ma. Kemaren katanya mama kan capek ngurusi butik sendiri. Ini aku bawain temen buat bantu bantu mama. Prisha ini udah biasa jahit di rumah. Soalnya ibunya juga penjahit. Disamping itu di sekolah dia juga ambil jurusan tata busana. Jadi biar di sekolah dapat teori, di butik praktik sambil bantuin mama. Disamping itu biar mama bisa ngawasin Rian sama Prisha kalau mau pacaran. Gimana?" Tanya Andrian sambil mengedip genit ke arah Ammy.
"Ok deh. Biar mama tau gaya pacaran bujang mama yang egois ini gimana. Yang jadi pertanyaan adalah apakah kamu sama Prisha beneran pacaran?" Tanya Ammy sambil tersenyum menatap Andrian dan Prisha bergantian.
"Ooo tidak buk. Tidak. Kami tidak pacaran. Mana mungkin pak Andrian mau dengan saya. Ibu salah faham." Bukan Andrian yang menjawab tapi Prisha. Ia terlihat begitu panik ditanya soal pacaran. Padahal anak-anak seumurannya rata-rata sudah pacaran. Bahkan sering diajak main kerumah. Tapi bagi dia pacaran adalah suatu yang tabu. Apalagi sampai di ajak berkunjung ke rumah laki-laki yang belum jelas hubungannya.
"Denger kan mas?" Tanya Ammy sambil melotot ke arah Andrian.
"Apa sih ma. Mama itu gak percaya banget sama Rian. Udah ah. Rian mau mandi sama ganti baju dulu" Andrian melangkah ke belakang menuju kamarnya untuk mandi dan ganti baju. Meninggalkan Prisha dan Ammy duduk berdua di ruang tamu. Suasana menjadi canggung. Prisha menunduk sambil memilin ujung bajunya. Ia begitu grogi harus berhadapan dengan Ammy.
"Ayo silahkan di minum" Kata Ammy mempersilahkan. Wajahnya ramah. Namun Prisha masih tegang jika harus mengobrol berdua seperti ini.
"Baik bu. Terima kasih" Prisha meminum es sirup yang berwarna merah menyala di hadapannya. Terlihat segar dengan bongkahan es batu yang masih utuh. Prisha hanya menyesapnya sedikit. Membasahi tenggorokannya yang kering.
"Sudah kenal sama mas Rian berapa lama?" tanya Ammy memulai pembicaraan.
"Baru sekitar satu bulanan bu. Semenjak saya daftar sekolah di SMK Kusuma"
"Ooo anak baru berarti?"
__ADS_1
"Ya bu."
"Wah beruntung banget ya kamu. Rian itu orangnya cuek banget kalau soal perempuan. Dari dulu gak pernah pacaran apalagi sampai bawa perempuan ke rumah. Makannya saya berniat untuk menjodohkan dia dengan salah satu alumni SMK Kusuma dulu. Tapi Rian selalu menolak. Eh gak taunya udah punya pilihan sendiri" jelas Ammy. Prisha begitu bahagia ketika tau bahwa dia satu satunya perempuan yang dibawa ke rumahnya. Tapi di sisi lain ia cukup sadar diri dengan kondisinya saat ini. Mungkin Andrian membawanya ke rumah hanya untuk menyelamatkannya dari perjodohan. Menjadikannya senjata untuk melawan perjodohan.
"Kenapa saya jadi cerita begini ya. Ngomong ngomong soal kerja di butik apa kamu benar benar minat?" Tanya Ammy kemudian. Prisha hanya mengangguk mengiyakan. Awalnya ia berfikir jika Andrian akan menjadikannya asisten rumah tangga di rumahnya yang mewah. Tapi ternyata Andrian justru menyuruhnya bekerja di butik yang sekaligus wadah untuk Prisha mempraktikkan ilmu yang ia peroleh dari sekolah. Dengan senang hati Prisha menerima pekerjaan tersebut. Selain untuk membayar kas bon kepada Andrian nantinya gajinya juga bisa ia gunakan untuk memenuhi kebutuhan sekolah.
Drettttt.. Dretttt..
Ada sebuah getaran panjang di handphon Prisha yang menunjukkan ada panggilan masuk. Ia pun segera mengambilnya dari tas.
"Maaf bu ada telphon dari ibu saya. Apa saya boleh menjawabnya?" tanya Prisha setelah melihat nama ibunya yang tertera dilayar.
"Silahkan" Jawab Ammy sambil memberi isyarat tangan.
"Halo bu" kata Prisha mengawali percakapannya.
"Kamu dimana nduk? Jam segini kok belum pulang" Tanya Ratna khawatir. Pasalnya waktu telah menunjukkan pukul 3 sore. Sedangkan jam pulang sekolah pukul 1.
"Tadi ada foto pembuatan kartu pelajar dulu bu. Jadi pulangnya agak telat. Ini Prisha masih dirumah temen. Ada urusan sebentar. Sebentar lagi Prisha juga pulang." jawab Prisha masih dengan wajah tertunduk. Ia tahu jika sekarang ini Ammy masih memperhatikan wajahnya. Setelah penjelasan Prisha, Ratna pun menutup panggilannya dengan perasaan lega.
"Sudah di cariin ibu kamu ya?" tanya Ammy setelah Prisha memasukkan handphonnya kembali ke dalam tas.
"Ya bu. Saya pamit dulu ya. Sampaikan ke pak Andrian jika saya sudah pulang naik angkot" Prisha meminta izin kepada Ammy. Mengulurkan tangannya untuk berpamitan.
"Jangan pulang dulu. Biar saya panggilkan Rian dulu. Biar di anterin pulang. Masak ya kesininya barengan pulangnya sendirian. Kalau ada apa-apa gimana?" Jawab Ammy membuat Prisha mau tak mau harus duduk kembali.
"Oo ya soal kerja di butik, kamu boleh datang setelah pulang sekolah." Lanjut Ammy kemudian.
"Ya sudah biar saya panggilkan Andrian di kamarnya dulu."
"Baik bu. Terima kasih. Tapi ibu tidak usah repot repot panggil pak Andrian. Saya bisa pulang sendiri. Biar saya naik angkot saja" Prisha sungguh sungkan merepotkan orang lain. Namun Ammy tetep kekeh memanggil Andrian untuk mengantarnya pulang.
__ADS_1