
Pukul 04.00 sore Prisha masih berada di rumah Andrian. Membuatnya mau tak mau harus di antarkan oleh Andrian. Awalnya ia menolak di antarkan dan ingin naik angkot seperti biasa. Namun mama Ammy melarangnya sebab jika jam sore seperti ini akan susah kendaraan umum yang lewat.
Belum berangkat menuju rumah, perasaan Prisha sudah dipenuhi rasa was-was. Entah apa yang nanti harus dikatakannya kepada orang tuanya jika tau anak gadisnya pulang larut dengan masih memakai seragam sekolah.
"Ini helmnya di pakai" Andrian memberi Prisha helm ketika mereka sudah berada di samping motor di halaman rumah Andrian.
"Kenapa bengong? Mau saya pakaikan?" tanyanya lagi ketika Prisha masih berdiri mematung di samping motornya.
"Sha.." Andrian memanggilnya dengan suara yang lembut. Namun yang di panggil tetap bengong. Andrian segera turun dari motor. Membuka pengait tali helm kemudian memakaikannya di kepala Prisha. Sontak Prisha kaget
"Pak. Bapak ngapain sih pakaikan saya helm. Saya bisa kok memakainya sendiri" Kata Prisha yang baru tersadar dari lamunannya.
"Kirain minta dipakein. Kan dari tadi saya ngasih helmnya gak kamu ambil" Jawab Andrian santai lalu memutar badan melangkah menuju motornya lagi.
"Ayo. Saya antar pulang. Sudah sore"
"Baik pak"
Motor melaju menuju rumah Prisha dengan kecepatan sedang. Jalanan lumayan padat dipenuhi para pegawai pabrik yang baru pulang. Mereka mengendarai motor dengan kecepatan tinggi membuat Prisha sedikit ketakutan ketika berpapasan dengan mereka.
"Gak usah takut gitu kenapa? Saya bukan amatir yang baru bisa naik motor. Jadi walaupun mereka mendehului kita pakai bleyer-bleyer segala saya biasa aja. Insyallah gak akan oleng. Toh biasanya saya juga ke kota sebelah buat kuliah bawa motor sendiri juga aman aman saja" Terang Andrian yang menatap wajah tak tenang Prisha dari spion.
"Kalau takut pegangan aja. Gak bakalan ada yang marah kok" Kata Andrian lagi sambil tersenyum.
Jauh di lubuk hatinya Prisha begitu bahagia bisa diantarkan pulang oleh Andrian. Bahkan rasanya ia ingin memeluk tubuh Andrian. Menyandarkan kepalanya ke punggung lebar itu. Tapi rasa malu lagi lagi menutupi keinginan itu. Ia cukup sadar diri siapa dia dan siapa Andrian. Status sosial yang berbeda itulah yang membuat Prisha takut untuk mendekati Andrian. Terlebih dia seorang perempuan. Akan menjadi gunjingan banyak orang jika perempuan yang mendekati lelaki duluan.
__ADS_1
"Nanti tunjukkan jalan kerumah kamu ya. Belok beloknya sebelah mana"
"Baik pak"
Kendaraan melaju tanpa hambatan. Hingga sampailah mereka pada sebuah persimpangan.
"Pak stop" teriak Prisha yang langsung membuat Andrian mengerem mendadak. Posisi duduk Prisha yang awalnya menjauh sekarang terprntal kedepan menabrak punggung Andrian. Tangannyapun refleks memeluk perut Andrian. Membuat Andrian tersenyum penuh kemenangan.
"Maaf pak. Gak sengaja" Kata Prisha malu malu. Ia segera melepas pelukannya dan kembali mundur. Duduk sedikit berjauhan dengan Andrian.
"Kamu ini kenapa sih ngasih aba aba dadak banget. Kan bisa bilang agak jauhan. Pak di depan belok ya. Atau gimana. Lha ini tau tau bilang stop pak. Bikin panik aja." Kesal Andrian dengan ekspresi yang di buat buat.
"Maaf pak. Ini kita ambil yang arah kiri" kata Prisha kemudian.
"Antar sampai sini saja pak. Biar saya jalan kaki. Rumah saya masih masuk gang" kata Prisha menghentikan laju kendaraan Andrian dengan menepuk pundaknya layaknya tukang ojek.
"Kamu fikir saya tipe lelaki yang tidak bertanggung jawab. Yang beraninya main kucing kucingan dengan orang tua?" kata Andrian penuh penekanan.
"Kalau saya berani ngajak kamu pergi, berarti saya juga harus berani mengantar kamu pulang. Bertemu dengan orang tua kamu. Biar mereka tidak salah faham." Lanjutnya kemudian.
"Jalan ini masih bisa dilalui kendaraan roda dua kan?" tanya Andrian lagi
"Bisa pak"
"Ya sudah. Ayo kita jalan lagi. Nanti tunjukkan rumah kamu kalau sudah dekat. Jangan mendadak seperti tadi" Kata Andrian yang melajukan kendaraannya lagi.
__ADS_1
Motor melaju kembali menuju rumah Prisha. Jalanan cukup lenggang. Hanya ada beberapa petani dengan pakaian lusuh yang sesekali lewat menggunakan motor buntut mereka. Prisha hanya mampu menunduk menyembunyikan wajahnya dari para tetangga yang kebanyakan dari mereka sedang membersihkan halaman. Pasalnya ini sebuah pedesaan dimana mata tetanggalah yang menjadi CCTV. Bertingkah sedikit saja akan menjadi sorotan dan gunjingan. Apalagi ia yang dari golongan ekonomi menengah kebawah. Tidak melakukan kesalahan saja sudah menjadi bahan gibahan. Apalagi seperti sekarang Prisha pulang sekolah sampai sore dan di antarkan lelaki. Sudah pasti besok ketika membeli sayur mereka akan mengulitinya habis habisan.
Motor membelok pada sebuah rumah joglo klasik yang masih menggunakan papan sebagai dindingnya. Di samping rumah ada pohon kelapa, mangga, jambu dan rambutan. Membuat suasana menjadi sejuk khas pedesaan. Pagar rumah terbuat dari tanaman serut yang tertata rapi. Di depan rumah terdapat beberapa pot bunga yang penuh bunga warna warni. Menguarkan aroma wangi alami. Dihalaman juga terdapat kolam ikan yang disampingnya ditanami cabai dan beberapa sayuran.
"Buk. Pak. Prisha pulang" Kata Prisha setelah masuk ke dalam rumah dan mengucapkan salam. Andrian di biarkan berdiri di luar. Terlihat ia masih menikmati suasana rumah Prisha yang asri.
"Ya Allah nduk. Jam segini kok baru pulang. Ibu kawatir kalau kamu kenapa-napa." Ratna mengelus kepala Prisha ketika Prisha menyalami dan mencium tangannya.
"Maaf buk. Tadi Prisha kelupaan minta izin ibuk. Ya sudah Prisha masuk dulu ya bu. Mau naruh tas sama ganti pakaian." Baru saja Prisha hendak melangkah menuju kamarnya. Tiba tiba terdengar obolan diluar rumah membuat Rayna bertanya tanya.
"Bapakmu itu ngobrol sama siapa nduk? Kok suaranya asing" Kata Ratna penasaran. Sontak Prisha membalikkan badan dan tersenyum kaku
"Hehehe itu di luar ada temen Prisha yang tadi nganterin buk"
"Kamu itu. Bawa temen kok gak di anggep. Mbok ya disuruh masuk. Gak sopan banget. Itu namanya tidak menghargai tamu" Omel Ratna.
"Ya sudah sana kamu buruan ganti baju. Setelah itu buatin bapak dan temenmu minum. Biar ibu persilahkan masuk dulu tamunya"
Ratna keluar menemui suaminya yang sedang asik ngobrol dengan Andrian.
"Ooo sedang ada tamu rupanya. Kamu pasti temennya Prisha yang tadi nganterin dia pulang kan?" Tanya Ratna menyapa Andrian yang berdiri dihalaman.
"Nggeh buk. Saya Andrian. Tadi Prisha saya ajak ke butik mama saya untuk lihat lihat dulu. Rencananya saya mau minta tolong dia buat bantuin mama saya kerja di butik. Maaf ya saya membuat Prisha pulang telat" kata Andrian.
"Ya gak apa-apa. Ayo nak silahkan masuk. Kita ngobrol ngobrol di dalam." kata Ratna mempersilahkan. Iapun menurutinya. Masuk kedalam rumah membuntuti orang tua Prisha.
__ADS_1