
Prisha menangis se jadi jadinya di taman sekolah. Ia singkirkan beberapa gelintir bakso, pangsit serta toping lainnya yang masih melekat di rambutnya. Aroma kuahnya begitu kuat. Membuat ia mau tak mau harus ke kamar mandi untuk membersihkan rambutnya. Begitu nelangsa hidup menjadi orang miskin. Menjadi pelayan tanpa bayaran. Mendapat hinaan. Bahkan selalu dipermalukan. Ingin melawan tapi ia tak mampu. Siapalah dia. Tak akan ada yang membelanya jika ia melakukan kesalahan. Dia bukan orang berharta yang bisa membeli segalanya dengan uang. Orang tuanya juga bukan orang berkuasa yang dengan mudahnya memutar balik keadaan. Biarlah sekarang ia di tindas oleh Elina. Di kucilkan, diendahkan, di aniyaya. Ia yakin roda pasti berputar. Akan ada masanya ia bangkit menjadi orang sukses dan memperbaiki perekonomian keluarga. Yang harus ia lakukan sekarang adalah belajar, belajar dan terus belajar. Menggapai mimpi dan terus berprestasi.
Air mata masih terus membanjiri pipi Prisha. Namun ia memaksakan diri untuk melangkahkan kakinya menjauh dari taman menuju toilet perempuan. Bermaksud untuk membersihkan rambutnya yang diguyur bakwan malang. Karena kurang fokus, tanpa sengaja tubuhnya menabrak seseorang yang masih memakai seragam olah raga. Membuat orang itu mengaduh
"Loe itu kalau jalan pakai mata dong" umpat lelaki tersebut
"Maaf kak. Gak sengaja" Kata Prisha yang masih mencoba menahan tangisnya. Ia tak berani menunjukkan wajahnya kepada orang yang ada dihadapannya. Membuat lawan bicaranya sebal. Dipegangnya kepala Prisha lalu di dongakkan. Seketika lelaki tersebut kaget mendapati wajah Prisha.
"Prisha. Kamu kenapa dek?" Tanya lelaki tersebut yang ternyata adalah Rama. Senior yang pernah mengerjainya waktu pendaftaran. Namun kepolosan Prisha justru menganggap Rama menyelamatkannya.
"Gak kenapa-kenapa kak. Maaf Prisha gak sengaja nabrak kak Rama. Prisha duluan ya kak. Prisha buru-buru mau ke toilet" Tanpa mendengar jawaban Rama, Prisha segera beranjak pergi melanjutkan langkahnya menuju toilet.
Sepeninggal Prisha, Rama tersenyum penuh arti. Ia begitu bahagia bertemu Prisha disaat perasaan Prisha sedang sedih. Ia berjanji akan terus memperhatikan Prisha dan memberi sedikit perhatian sampai Prisha tahluk olehnya.
Disisi lain, Prisha sedang bersusah payah membersihkan rambut panjangnya dari bau kuah bakwan malang. Ia guyur rambut panjangnya dibawah kran dengan kepala yang menunduk. Ia gosokkan sabun mandi batangan yang disediakan pihak sekolah keseluruh rambutnya. Ia terus menunduk membersihkan rambutnya dari busa sabun. Setelah dirasa bersih ia pun segera memeras rambutnya lalu mengibas ibaskannya.
...****************...
"Sha.. Rambutmu kok basah kenapa?" Tanya Gita setelah mereka berkumpul di kelas.
"Eeem... Eeemm.. Itu tadi hawanya gerah banget. Kepalaku sedikit pusing. Jadi aku guyur aja di bawah kran. Biar seger" Prisha menjawab dengan tergagap. Ia mencoba mencari alasan yang sekiranya bisa di terima oleh teman-temannya.
__ADS_1
"Kamu ini ada ada aja idenya. Lihat tuh bajumu jadi basah" Gita menunjuk puggung Prisha yang basah.
"Lain kali kalau pusing tuh mending ke UKS. Minta obat terus tidur. Enak. Gak usah ikut pelajaran" Kata Hani menimpali. Merekapun terlibat obrolan ringan hingga ada guru mapel yang masuk.
Waktu berjalan begitu cepat. Tak terasa jam pelajaran ke4 sudah selesai. Mereka berbondong bondong keluar kelas dan segera pulang ke rumah masing masing. Sebagian dari mereka ada yang menuju parkiran sekolah untuk mengambil kendaraan. Ada yang di depan gerbang menunggu angkot dan bus. Ada juga yang di jemput oleh supir.
"Sha.. Elo pulangnya bareng gue aja ya. Naik motor. Ntar sekalian ikut ekskul bela diri" tawar Hani ketika mereka melangkah keluar kelas.
"Maaf ya Han. Kayaknya hari ini aku belum bisa ikut kegiatan ekstra kulikurel dulu deh. Soalnya hari ini hari pertamaku kerja paruh waktu." Kata Prisha
"Elo kerja dimana?" Tanya Hani dan Gita penasaran.
"Kerja di butik. Itung itung bantu ibu cari tambahan uang jajan." Jawab Prisha yang masih berjalan sambil mendekap tas yang talinya putus.
"Ooo ini. Talinya putus jadi gak bisa digendong" Jawab Prisha dengan wajah sedih.
"Ya ampun Sha. Kalau talinya putus kenapa masih dipakai sih. Seharusnya tadi pagi elo chat gue. Bilang kalau butuh tas. Gue ada banyak kok dirumah. Masih layak pakai." Gita begitu kasihan dengan keadaan Prisha. Sejenak ia hentikan langkahnya hanya untuk memeluk Prisha. Memberikan kekuatan. Memberi pengertian bahwa ia tak sendiri. Ada mereka yang siap membantu.
"Makasih Git. Tapi kamu gak usah repot- repot. Biar ntar kalau sampai rumah aku jahit." Jawab Prisha dengan tegas. Ia tak mau dikasihani orang lain hanya karena ia miskin. Ia akan buktikan kepada semua orang jika kemiskinan tak bisa menghentikan langkahnya untuk menggapai mimpinya.
Prisha, Gita dan Hani berpisah diparkiran sekolah. Hani dan Gita mengambil kendaraannya. Sementara Prisha berjalan kaki menuju gerbang sekolah.
__ADS_1
"Dek Prisha" Sapa Rama sambil mendorong kendaraannya. Sepertinya ia sengaja menunggu Prisha untuk melancarkan aksinya.
"iya" jawab Prisha sambil menoleh.
"Kak Rama" Kata Prisha kemudian setelah melihat siapa yang berjalan di sampingnya.
"Ya. Aku Rama. Masih inget kan"
"Masih inget kak. Kakak kan yang ngasih Prisha surat kehilangan kartu regristrasi dulu. Makasih ya kak. Karna pertolongan kakak Prisha jadi bisa ikut tes dan bisa sekolah di sini sekarang." Prisha lagi lagi mengucapkan terima kasih kepada orang yang telah berniat jahat kepadanya.
"Jangan cuman makasih doang dong. Harus ada imbal baliknya" Jawab Rama yang masih setia berjalan di samping Prisha sambil mendorong motornya menuju gerbang sekolah. Senyumnya manis namun penuh dengan niat terselubung.
Para siswa yang membawa kendaraan bermotor berjalan menuju gerbang sekolah dengan menuntun kendaraannya seperti yang dilakukan Rama. Di SMK Kusuma memang tidak memperbolehkan menghidupkan mesin motor di area sekolah. Motor baru boleh di nyalakan ketika sudah di gerbang. Begitu juga ketika masuk. Motor harus dimatikan ketika masuk ke gerbang sekolah.
Perjalanan dari parkiran menuju gerbang memang singkat. Namun Rama memanfaatkan waktu yang singkat itu dengan sebaik baiknya. Ia dekati Prisha seolah ia sedang jatuh cinta kepada gadis polos tersebut.
"Maaf ya kak. Untuk saat ini Prisha belum bisa ngasih apa apa ke kak Rama. Nanti kalau Prisha udah punya uang, pasti kakak aku kasih sesuatu sebagai tanda terima kasih" ucap Prisha.
"Aku gak butuh ucapan terima kasih yang seperti itu. Cukup izinkan aku mengenalmu lebih jauh"
Mendengar kata kata tersebut Prisha hanya bisa tertunduk malu. Wajahnya memerah seperti tomat masak. Maklum. Ini adalah kali pertama Prisha didekati lelaki. Pasalnya sejak ia SMP sampai sekarang belum ada satu lelakipun mendekatinya.
__ADS_1
"Kakak bisa saja. Ya sudah Prisha duluan ya kak. Mau kerja paruh waktu" Prisha berjalan meninggalkan Rama dengan hati yang berbunga bunga.