
POV Prisha
Aku duduk bersama teman-temanku di depan panggung menikmati pentas seni. Kami semua duduk lesehan menikmati penampilan dari panitia, OSIS, perwakilan jurusan dan beberapa persembahan kelompok ekstrakurikuler. Aku begitu salut dengan penampilan dari jurusan Tata busana yang menampilkan gaun dari limbah bahan bekas.
Mataku tak bisa lepas dari panggung yang menabjukkan itu. Bahkan semakin terkejut ketika melihat Andrian duduk bernyanyi bersama anak-anak ekstrakurikuler band sekolah. Karna rasa penasaran yang tinggi akupun bertanya pada Hani yang duduk disampingku.
"Han.. Vokalis yang pakai kaos hitam itu bukannya pak Andrian ya. Dia kan bukan siswa lagi. Kok masih ikut ekstra kulikuler band sih" Hani terlihat tak acuh. Namun detik selanjutnya dia justru meledekku.
"Mana ku tahu. Pendamping kali. Kayak tadi anak tata busana kan sama gurunya" jawab Hani.
"Kenapa? Naksir?" Tanya Hani lagi dan aku hanya mengedihkan bahu tanda tak tahu.
"Naksir juga gak apa-apa Sha. Yang lebih tua emang lebih menggoda. Lagian nih ya daripada elo naksirnya sama panitia atau OSIS, ya mending sama pendampingnya. Lebih mapan. Kalau traktir gak pake uang nyokap bokap lagi"
Hani berbicara panjang lebar namun aku tak menggubrisnya. Aku lebih fokus menikmati nyanyian Andrian yang membuatku semakin terpesona. Terkadang ikut bergumam lirih mengikuti lirik yang dinyanyikan.
Setelah Hani terdiam aku merasa ada yang menjawil pundakku namun tak aku hiraukan. Barangkali itu Sinta, Manda atau Gita yang ikut menjahiliku. Namun lagi-lagi aku merasa ada yang mencolekku lagi. Kali ini colekan itu mengenai leher belakangku. Rasanya dingin seperti es. Aku sudah sedikit merinding tak sepenuhnya menikmati penampilan Andrian. Bulu kudukku mulai berdiri. Ditambah lagi hembusan angin seperti meniup telingaku membuatku semakin berfikir yang tidak-tidak. Dan yang ketiga kalinya aku menoleh. Aku melihat ada sosok perempuan berwajah pucat dengan rambut panjang yang tergerai. Spontan aku berteriak
"Haaa.. Haaa hantu.." aku berlari menuju arah panggung yang terang dengan jantung yang berdetak kencang.
Jantungku masih berdetak begitu kencang. Ku pegangi dadaku dengan mata yang terpecam. Belum tenang perasaanku, namun lagi-lagi aku dibuat terkejut oleh suara Andrian yang mengajakku duet. Aku melongo kebingungan. Mau naik panggung grogi. Gak naik sudah terlanjur didepan dan diteriaki teman-teman. Akhirnya aku beranikan diri tetap naik panggung. Berdiri disamping Andrian yang begitu mempesona. Ia memberikan mikrofon kepadaku yang aku terima dengan tangan yang masih bergetar.
"Mau nyanyi apa?" Tanya Andrian.
"Lagu dangdut boleh gak pak?" Jawabku yang justru membuat teman-teman band Andrian tertawa.
"Kamu dipanggil pak sama peserta kak? Sungguh panggilan yang sangat berbeda" Kata teman Andrian sambil tertawa.
Andrian masih cuek tak mau menaggapi perkataan temannya itu. Membuatku semakin penasaran saja. Apa kesehariannya emang cuek begini. Andaikan aku bisa meluluhkan hatinya dan menjadikannya orang yang hangat. Ah sudah lah. Rasanya itu semua hanya anganku saja.
"Lagu apa aja yang kamu bisa. Asal bisa menghibur" Jawab Andrian
"Kalau gitu aku mau nyanyi lagu Lesti dan Fildan yang judulnya lebih dari slamanya"
"Boleh.." Ia menoleh memberi kode kepada teman-temannya untuk memulai musik. Namun aku belum siap. Rasa grogi ini akan membuat suaraku semakin hancur.
"Tunggu dulu pak. Saya gak hafal liriknya. Apa boleh saya turun dulu ambil HP buat browsing lirik?" tanyaku
"Gak usah. Ini pakai saja HPku"
Andrian mengulurkan HP yang sudah menyala kearahku. Aku menerimanya lalu mencari lirik lagu Lebih Dari Selamanya lewat aplikasi pencarian. Setelah ketemu aku pun mengatakan siap pada mereka. Andrian mulai bernyanyi. Ia memandangku menghayati lagunya
...Ku akan menyayangmu...
...hingga waktu memanggilku...
__ADS_1
...Selalu menjagamu...
...Janjiku pada Tuhanku...
Dadaku semakin bergemuruh ketika tiba giliranku menyanyi. Aku tak berani menatap penonton yang adalah teman-teman seangkatanku. Aku hanya tertunduk menatap layar handphone yang menyala.
...Aku terlanjur teramat sayang padamu...
...Aku tak sanggup bila harus berpisah darimu kekasihku...
Suaraku memang tak merdu. Ditambah lagi rasa grogi membuat suaraku semakin tak karuan. Untung saja alunan musik yang mengiringi begitu kompok. Membuat suaraku yang biasa-biasa saja masih bisa dinikmati para penonton. Terbukti mereka ikut menyanyi bersamaku.
...Ku akan menyayangmu...
...Sampai waktu memanggilku...
Rasa grogiku semakin lama semakin mereda. Aku mulai bisa menikmati alunan musik yang ada. Ditambah Andrian cukup bisa mengimbangi suaraku. Membuatku semakin nyaman.
...Hari terus berganti...
...Kutakut engkau pergi...
...Kau telah kumiliki...
Suaraku bersahutan menyanyikan lirik lagu yang dipopulerkan Lesti dan Fildan itu.
...Roda hidup berputar...
...Suka terkadang duka...
...Asal bersamamu kurela...
...Dan menerima...
...Terima kasih cinta...
...Atas segala rasa...
...Semoga selalu bersama...
...Lebih dari selamanya...
...Ku akan menyayangmu...
...Sampai waktu memanggilku...
__ADS_1
Alunan musik berhenti. Para penonton bersorak membuatku tersenyum lega. Aku membungkukkan badan dan menundukkan kepala. Kemudian ku kembalikan handphone milik Andrian dan turun kembali ketempat dudukku semula.
...****************...
Prisha kembali duduk bersama teman-temannya begitu turun dari panggung.
"Cie.. Cie.. Yang jadi artis dadakan" Ledek Manda.
"Katanya gak bisa ngomong didepan umum" Hani ikut nimbrung.
"Tadi kan gak ngomong. Cuman nyanyi" Jawab Prisha.
"Tapi kan sama-sama tampil didepan umum" kata Hani mencebik.
"Lagian loe gercep banget pengen duet sama kak Andrian. Sampe lari-lari segala" kata Sinta ikut menimpali.
"Sebenernya tadi itu aku bukannya mau maju nyanyi. Tapi tadi ada hantu disini. Kalian lihat gak?" Tanya Prisha yang justru membuat rekannya tertawa.
"Mana ada hantu di sini Sha. Loe itu ada ada aja" Kata Gita
"Beneran Ta.. Tadi aku lihat pakai mata kepala aku sendiri. Awalnya kayak ada yang nyolek-nyolek aku. Tapi tangannya dingin banget kayak es. Begitu aku nengok ada sosok berambut panjang dengan wajah pucet. Terus apa kalau gak hantu. Masak kalian gak lihat?"
Prisha masih ingat bagaimana dia ketakutan sampai lari terbirit-birit menuju tempat terang di depan panggung.
"gak lihat" jawab mereka kompak dengan sebuah tawa yang ditahan. Pasalnya mereka tahu yang dimaksud hantu itu adalah Hani yang usil menjahili Prisha. Namun Prisha dengan polosnya percaya bahwa yang ia lihat adalah hantu.
"Lagian ya Sha kalau emang yang elo lihat itu hantu, mesti kakinya gak nginjek bumi alias ada di awang-awang. Emang tadi melayang-layang gitu" Tanya Manda.
"Mana aku lihat kakinya Nda. Lihat wajahnya aja nyeremin. Ya aku tinggal lari lah." kata Prisha
"Kalau kalian tahu kejadian tadi itu ibarat pepatah keluar dari mulut buaya masuk ke mulut singa. Sama-sama nyeremin tahu gak." Prisha antusias bercerita. Hingga penampilan dipanggung sudah berganti lagi.
"Kita nunggu sampe acara selesai apa masuk ke ruangan duluan? Ntar malem harus bangun lagi lho?" tanya Gita menawari.
"Disini aja dulu sampe acara selesai. Temen-temen juga masih banyak yang disini. Lagian aku itu masih takut kalau harus ke ruang kelas buat tidur dengan jumlah orang sedikit. Ntar kalau hantunya muncul lagi gimana?" Ada rasa takut yang masih menyelimuti batin Prisha. Mereka pun akhirnya menikmati pentas seni sampai selesai.
Pukul 23.30 mereka sudah berkumpul diruang kelas yang akan mereka gunakan untuk tidur. Prisha memilih tidur ditengah dengan dihimpit Hani dan Gita di sebelah kiri serta Manda dan Sinta di sebelah kanan. Ruangan itu cukup ramai. Lampu juga masih dinyalakan.
Ketakutan Prisha justru membuatnya harus pergi ke kamar mandi untuk menuntaskan hajatnya. Ia mencoba membangunkan teman-temannya untuk mengantar ke kamar mandi yang terletak disamping ruang guru. Tapi mereka tak ada yang bergeming. Prisha mencoba kembali berbaring tapi kandung kemihnya semakin penuh saja. Akhirnya ia nekat bangun dan melangkah ke kamar mandi. Ia sedikit berlari melewati ruang guru dan langsung masuk ke kamar mandi dan mengosongkan kandung kemihnya.
Lantunan do'a selalu diucapkan Prisha dalam hati. Berharap kejadian di halaman sekolah tidak terulang lagi. Akhirnya ia bisa bernafas lega ketika berhasil keluar dari kamar mandi tanpa ada gangguan apapun. Ia melangkahkan kaki keluar kamar mandi. Namun ia melihat sosok hitam berdiri tak jauh darinya. Setelah itu lampu diluar kamar mandi mati membuat Prisha menjerit ketakutan.
"Aaaaaa" Prisha menjerit sambil berlari menuju arah ruang kelas. Bukannya segera sampai, justru ia menabrak tubuh yang tadi ia anggap sosok mahluk halus itu. Seketika itu pula ia pingsan.
~[Cinta itu sederhana. Tak mesti memikirkan tentang perasaan yang terbalas. Melihat wajahnya membuat lega. Mendengar suaranya hati berbunga-bunga]~
__ADS_1