
Pagi yang suram kembali Prisha alami. Elina end the geng telah menunggunya disamping pos keamanan sekolah. Namun Prisha tak menyadari hal itu. Ia masih tersenyum hangat sehangat cahaya matahari pagi yang menyehatkan. Ia tebarkan kebahagiaan kepada orang-orang yang ia temui. Berharap semua mahluk yang ada di bumi juga merasakan kebahagiaan yang sama.
"Pagi pak Suliso" Sapa Prisha ramah begitu melihat petugas keamanan yang berkalung peluit itu berdiri dijalan dimana ia turun dari angkot. Sulilo pun membalas sapaan itu dengan senyuman yang tak kalah merekah. Setelahnya ia salami beberapa guru yang sudah berjajar rapi digerbang sekolah. Ia langkahkan kakinya dengan semangat baru. Dengan stok sabar yang melimpah untuk menghadapi kejahilan yang di lakukan Elina dan teman-temannya.
"Hallo gembel. Baru dateng loe" Sapa Elina sambil merangkul bahu Prisha. Membuat Prisha tak bisa menghindar.
"Kemana bodyguard elo yang preman pasar itu?" Tanya Fita sambil menoleh ke kanan kiri. Mencari sosok Hani yang ia juluki preman pasar.
"Mumpung gak ada bodyguardnya kita bisa kerjain dia sepuasnya berarti dong." Kata Mega dengan senyum lebar.
"Nih bawain tas gue ke kelas. Berat nih" Mega melemparkan tas sekolahnya ke arah Prisha. Di susul Elina dan Fita yang ikut serta melempar tas mereka. Mereka bertiga bejalan dengan melenggak lenggokkan badannya sambil tertawa. Sementara Prisha berjalan di belakang mereka dengan susah payah sambil membawa 4 tas sekaligus.
Bug
Bunyi salah satu tas terjatuh. Membuat Elina end the geng menghentikan langkahnya. Menoleh ke arah Prisha
"Kenapa tas gue elo jatohin?" Sewot Elina ketika mendapati bahwa tas yang jatuh adalah miliknya.
"Maaf El. Habisnya tasnya berat. Ditambah lagi membawa 3 tas kalian sekaligus membuat aku kerepotan." Jawab Prisha yang kembali memungut tas milik Elina. Mereka berjalan menuju kelas yang di tempati Elina. Meletakkan tas tersebut kemudian pergi kehalaman sekolah untuk melakukan apel pagi.
__ADS_1
Apel pagi telah selesai. Prisha pun segera menuju kelas dengan perasaan lega. Setidaknya selama pelajaran berlangsung ia bisa tenang tanpa gangguan Elina. Namun ketenangan itu hanya ada di dalam angan. Pasalnya setiba di ruang kelas ia dihadapkan oleh teror yang sama seperti hari kemarin. Sebuah foto ia menerima uang dari seorang lelaki serta tulisan dengan kata-kata kasar yang membuat teman sekelasnya menatapnya dengan tatapan jijik. Entah siapa yang mengambil foto tersebut. Yang jelas orang itu pasti dengan sengaja telah menguntit Prisha. Prisha berusaha mengingat kembali kejadian kemarin saat ia pulang kerja. Namun semuanya nihil. Ia merasa tak ada seorang yang mereka kenal disekolah yang melihat kejadian itu.
Prisha segera mengambil foto tersebut dari mejanya. Segera mengambil penghapus dari meja guru berniat menghapus tulisan tersebut. Namun penghapus tersebut direbut paksa teman sekelasnya.
"Mau ngapain loe? Mau hapus tulisan itu? Sekalipun loe ngapus tulisan tersebut, bukti itu bakal tetep ada di pikiran kita. DiHP kita juga ada. Jadi siap-siap aja dibawa ke ruang BP"
Prisha tak mau menanggapi perkataan temannya. Ia segera mengambil tasnya yang ia letakkan di laci meja. Membuka reslitingnya dan mengambil tissue yang ada di dalamnya. Ia hapus tulisan yang ada di mejanya itu dengan air mata yang terus menganak sungai. Ia mencoba menulikan telinganya dari umpatan teman sekelasnya. Namun nyatanya tak bisa. Ucapan itu terus berdengung seperti gerombolan lebah yang mengerubunginya.
"Apa yang kalian semua lakuin" Kata Hani keras. Membuat teman teman sekelasnya diam sejenak. Gita mendekat menerobos gerombolan teman sekelasnya yang mengrubungi Prisha. Ia peluk Prisha yang sedang menangis.
"Udah Sha. Gak usah nangis" Ucap Gita yang masih memeluk erat tubuh Prisha.
"Ngapain elo semua masih disini? Bubar. Kalian fikir ini tontonan" Bentak Hani tak sabar.
Waktu pelajaran sekolah Prisha lalui dengan perasaan yang berantakan. Ia tak bisa konsentrasi sama sekali. Yang ia fikirkan adalah siapa dalang dibalik teror yang melandanya dua hari ini. Prisha tak pernah merasa punya musuh dikelas. Musuhnya hanya Elina and the geng. Namun tadi pagi Elina bersamanya dari gerbang sekolah sampai kelas bersamanya. Tidak mungkin mereka yang melakukannya. Lalu siapa yang melakukan semua itu? Apa mungkin Andrian? Prisha menggelengkan kepalanya. Menepis prasangka buruknya.
"Ke taman yuk. Kita makan di sana aja. Biar sekalian elo bisa cerita soal tadi pagi" Kata Gita begitu guru yang mengajar di kelas keluar.
"Ok. Aku ke kantin bentar beli es ya." Kata Hani yang langsung berdiri dan berjalan keluar. Sedangkan Prisha dan Gita segera mengambil kotak bekal mereka sekaligus kotak bekal milik Hani yang sudah di siapkan di laci meja.
__ADS_1
Taman sekolah begitu asri. Ada beberapa pohon pucuk merah yang tumbuh menjulang serta berbagai bunga yang menghiasi. Ada juga kolam dengan air jernih yang berisi ikan koi. Serta terdapat beberapa bangku dibawah pohon rindang yang bisa digunakan untuk meneduh. Prisha dan Gita duduk disalah satu bangku tersebut. Meneguk air dari botol yang mereka bawa sambil menunggu Hani datang.
"Sebenernya tadi pagi itu ada kejadian apa sih Sha. Kok sampai temen temen merundung kamu kayak gitu?" Tanya Gita sambil menghadap ke arah Prisha.
"Udah dua hari ini setiap pagi di meja aku ada foto aku sama pak Andrian dan tulisan yang menuduh aku menjadi wanita bayaran. Di foto itu aku terlihat jelas banget tapi wajah pak Andrian gak terlihat. Kayaknya diambil dari arah belakang pak Andrian deh" Jelas Prisha tanpa menutupi apapun.
"Kira-kira maksudnya apa ya buat fitnahan kayak gitu?" Lanjut Prisha kemudian.
"Mana aku tahu." Jawab Gita sambil mengangkat kedua bahunya keatas.
"Sebelum ini kamu pernah dapet ancaman atau teror serupa gak?" Tanya Gita kemudian. Hani terlihat berjalan ke arah mereka. Merekapun sedikit merapatkan duduknya. Memberikan tempat untuk Hani.
"Ini es rasa coklat buat Prisha, dan ini rasa Jeruk buat Gita" Hani mengulurkan gelas plastik transparan dengan sedotan yang menancap didalamnya.
"Makasih Han" Jawab mereka serentak yang langsung direspon dengan anggukan.
"Sebenernya tadi pagi itu ada apa sih? Kok loe bisa dirundung anak sekelas? Mana elo cuman nangis aja lagi" Tanya Hani sambil menyedot es rasa kopi yang ada di tangannya.
"Tadi pagi itu aku diteror pake foto sama tulisan yang bilang kalau aku wanita bayaran. Temen-temen pada lihat. Jadinya mereka ngomong yang gak nggak"
__ADS_1
"Kira-kira pelakunya siapa ya Han?" Tanya Prisha kemudian.
"Palingan juga anak kelas kita. Kan cuman mereka yang paham tempat dudukmu" Jawab Hani sambil mulai menyuapkan nasi kedalam mulutnya. Prisha dan Gita juga melakukan hal yang sama. Mereka makan sambil bercerita tentang kejadian yang menimpa Prisha belakangan ini. Adakalanya mereka saling mencicip bekal satu sama lain. Berbagi rasa bersama. Membuat hubungan pertemanan mereka semakin akrab.