
MPLS atau MOS bagi Prisha sama saja. Hanya beda istilah saja. Setiap apel pagi selalu saja ada bentakan dan hukuman dari panitia dengan alasan untuk kedisiplinan peserta. Untung saja semua itu akan segera berakhir.
Sesuai jadwal yang tertera dibuku panduan, hari ini adalah hari ketiga dilaksanakannya MPLS. Itu artinya hari ini adalah hari terakhir bagi siswa untuk melaksanakan masa pengenalan lingkungan sekolah. Cukup melegakan bagi siswa yang penakut seperti Prisha.
Namun dari beberapa rangkain acara yang ada, ada hal yang membuat Prisha begitu ketakutan. Itu adalah kegiatan renungan malam yang akan dilaksanakan nanti pukul 12 malam. Belum dilaksanakan saja Prisha sudah ketakutan sendiri membayangkan hal yang tidak-tidak. Prisha memang anak yang penakut. Ditambah lagi gedung sekolah SMK Kusuma terletak persis disamping tempat pemakaman umum desa setempat. Sudah menjadi konsumsi publik bahwa kuburan selalu dikaitkan dengan mahluk tak kasat mata.
"Han.. Nanti malam kamu jangan jauh-jauh dariku ya." Kata Prisha saat mereka sudah duduk di ruang auditorium untuk mendapatkan materi.
"Ya ya.. Kan biasanya juga tanpa elo minta gue udah selalu disampingmu. Bodyguard gitu lho"
Hani tersenyum sambil mengedipkan sebelah matanya pada Prisha.
"Tapi gue orangnya gak bisa anteng kalau tidur lho. Sukanya mencak-mencak. Entar tidur elo gak nyenhak lagi" Kata Hani kemudian.
"Gak apa-apa Han. Mau mencak-mencak, mau ngorok atau ngiler sekalipun aku gak keberatan. Asal ada yang nemenin tidur aja. Takutnya ntar malem-malem jam 12 atau jam 3 ada yang keluar dari bangunan sebelah. Kata ibuku jam segitu itu waktunya mereka keluar. Kalau muncul tiba-tiba disampingku gimana? Hiii ngeri."
Prisha bergidik ngeri dengan fikirannya sendiri. Padahal hal tersebut belum tentu adanya. Hani yang melihat ekspresi Prisha hanya bisa tertawa.
"Sha, Sha elo ini ada ada aja. Maaf ya bukannya gue gak percaya hal begituan. Cuman yang namanya kuburan itu kan tempatnya orang mati. Bukan tempat mahluk halus yang kasat mata seperti yang elo bayangin tadi. Orang mati kalau udah dikubur ya udah. Mereka bakal pulang kealamnya. Bukan gentayangan di jam 12 sama jam 3. Elo dikibulin emak elo kok ya mau mau aja" jawab Prisha sambil tertawa.
...****************...
Walau hari ini adalah hari ketiga kegiatan MPLS yang katanya ajang untuk bersenag-senang. Tapi kenyataannya apel pagi masih diwarnai dengan bentakan dan teriakan dari panitia. Prisha hanya bisa menunduk ketakutan dibarisan belakang. Namun ia masih beruntung karena tidak pernah mendapatkan hukuman lagi setelah tragedi pingsan di hari pertama. Ia sengaja menghindar dari Elina dan Mega agar tidak menjadi korban keusilannya. Walau dalam kenyataannya mereka masih melontarkan kata hinaan yang membuat sakit hati namun Prisha tak mempermasalahkan hal itu. Prisha cuek saja. Selama mereka tidak menimbulkan masalah yang membuat Prisha harus menerima hukuman dari panitia.
Pagi hari setelah apel, mereka menuju ruang auditorium untuk mendapatkan materi. Hingga siang tiba mereka baru diberi waktu istirahat dan makan sampai pukul 13.00. Dilanjutkan dengan game di halaman sekolah. Sedangkan malam hari diisi dengan pentas seni persembahan dari panitia, pengurus OSIS, kelompok ekstra kulikuler serta persembahan dari masing masing jurusan. Setelah itu dilanjutkan dengan pengumuman pemenang dan diakhiri dengan renungan malam.
Para peserta sudah berkumpul dihalaman sekolah untuk mengikuti games yang dipandu oleh pantia. Mereka bergerombol menurut kelompok masing-masing.
__ADS_1
"Selamat siang adek, adek"
sapa panitia perempuan yang bertugas menjadi hots.
"Siang kak" jawab kami kompak.
"Masih pada semangat gak nih? Harus semangat dong ya. Kan udah makan" pertanyaan itu dilontarkan sendiri juga dijawab sendiri oleh host tersebut.
"Karena kalian semua udah pada makan. Yuk kita seru-seruan main games"
Ada beberpa games yang melibatkan ketangkasan seperti balap karung dan tarik tambang. Ada juga gams seru-seruan seperti tebak lagu dan masib banyak yang lainnya. Karena gamesnya banyak maka masing-masing kelompok dibagi untuk mengikuti beberapa cabang lomba.
Dari beberapa gams yang ada, Prisha diajak Elina untuk main games lempar balon air. Kegiatan ini seperti sebuah kesempatan bagi Elina untuk mencelakai Prisha.
"Sha.. Elo ntar kebagian main balon air sama gue. Entar gue yang lempar, elo yang jadi objeknya."
"Maaf ya Sha gue nyakitin elo. Soalnya atutan mainnya emang gitu." Kata Elina penuh kemenangan.
"Nih handuk buat ngelap muka elo. Biar gak kayak comberan" hahaha.
Elina tertawa terbahak sambil melemparkan handuk kemuka Prisha. Mereka kembali kebarisan mereka dengan suasana hati yang berbeda.
Malam keakraban pun tiba. Para peserta duduk lesehan di depan panggung menyaksikan pentas seni. Dari jurusan tata busana mereka menampilkan fashion show pakaian dari bahan bekas yang langsung didampingi guru mata pelajaran desain busana. Terlihat menarik memang. Tapi yang lebih menarik bagi Prisha adalah saat anak-anak ekstra kulikuler band manggung. Prisha melihat Andrian ikut tampil menyanyikan lagu cinta yang sedang hits dikalangan remaja.
"Han.. Vokalis yang pakai kaos hitam itu bukannya udah ngajar ya. Kok masih ikut ekstra kulikuler band sih" Tanya Prisha penasaran.
"Mana ku tahu. Pendamping kali. Kayak tadi anak tata busana kan sama gurunya" jawab Hani.
__ADS_1
"Kenapa? Naksir?" Tanya Hani lagi yang hanya dijawab dengan gelengan kepala.
"Naksir juga gak apa-apa Sha. Yang lebih tua emang lebih menggoda. Lagian nih ya daripada elo naksirnya sama panitia atau OSIS, ya mending sama pendampingnya. Lebih mapan. Kalau traktir gak pake uang nyokap bokap lagi"
Hani terus menggoda Prisha yang terus menatap ke panggung dengan tatapan memuja. Tiba-tiba Hani teringat dengan obrolan mereka tadi pagi tentang mahluk tak kasat mata. Jiwa jailnya meronta ingin segera disalurkan. Hani segera mengambil ikat rambut yang ia pakai. Rambutnya yang tergerai ia buat sedikit menutupi wajahnya. Kemudian ia menyalakan lampu flash di handphonenya yang ia taruh di bawah mukanya. Matanya dibuka lebar. Ia segera melancarkan aksinya. Tangan Hani yang dingin ia gunakan untuk menowel punggung Prisha. Satu kali percobaan tidak berhasil. Prisha masih terpesona dengan nyanyian Andrian. Dua kali percobaan hanya direspon dengan gerakan bahu yang menghindar. Dipercobaan ketiga Hani menowel pipi Prisha dibarengi dengan gumaman haaaah. Yang disentuh langsung menoleh dengan cepat dan
"haaaaa hantu.." Prisha berdiri dan berlari menuju arah panggung. Karena pada saat itu yang terang hanya bagian panggung saja. Bagian depan hanya ada lampu temaram.
Bersamaan dengan itu Andrian diatas panggung sedang menawarkan untuk duet bareng.
"Wah gercep juga ya. Ayo silahkan naik"
Andrian mempersilahkan Prisha menaiki panggung karena menganggap ia maju untuk itu. Sedangkan Prisha hanya bisa melonggo dengan dada yang masih bergetar karena ketakutan oleh keusilan Hani.
"Kenapa saya harus naik ke panggung pak?"
Tanya Prisha dengan wajah bingung yang langsung mengundang perhatian banyak orang.
"Kok kenapa? Ya duet sama saya lah"
Jawab Andrian yang membuat Prisha semakin panas dingin ketakutan.
"Lho.. Saya gak bisa nyanyi pak" jawab Prisha jujur. Masalahnya sedari kecil ia tak pernah menyanyi didepan umum. Suaranya pas pasan. Ia hanya vokalis kamar mandi yang selalu manggung di pagi dan sore hari.
"Tapi kan sudah maju. Ayo naik. Atau mau saya jemput kebawah?"
Perkataan Andrian semakin membuat suarana ramai. Para siswa langsung meneriaki Prisha. Mereka bersorak sambil bernyanyi maju ayo maju, jangan malu malu, kalau enggak maju brarti gak punya anu.
__ADS_1
Hani yang tadi usil menjahili Prisha hanya bisa tersenyum melihat temannya jadi tontonan. Ia mengikat lagi rambutnya dan segera mematikan lampu flash dan menyimpan handphonenya. Ia pun ikut bersorak kompak dengan teman-temannya.