Cinta Di SMK

Cinta Di SMK
Bab 42


__ADS_3

"Kamu lagi, kamu lagi. Apa kamu gak bosen cari masalah? Saya sampai hafal wajah kamu" Bentak guru BK yang melihat Prisha bersama teman-temannya dibawa keruangan oleh keamanan sekolah. Prisha tidak berani menjawab. Ia hanya tertunduk merasa bersalah telah membawa Hani dan Gita ikut disidang di ruang BK. Sebenarnya tadi ia hendak melerai pertengkaran Hani dengan Elina and the geng. Namun mereka bertiga justru menyerang Prisha secara membabi buta. Mau tak mau ia harus melawan agar tidak semakin kesakitan. Namun belum ada yang berhenti, justru pihak keamanan sudah datang. Mereka ber-6 dilerai dan dibawa menghadap guru BK.


"Sebutkan nama dan kelas" Perintah guru BK dengan wajah kejamnya. Merekapun menyebutkan nama beserta kelas mereka satu persatu. Wejangan-wejangan terus diberikan dan mereka hanya bisa tertunduk diam. Hingga akhirnya hukumanlah yang mereka dapatkan.


"Sebagai hukumannya kalian harus membersihkan toilet siswa perempuan" pungkas guru BK


"Baik pak" jawab mereka kompak.


"Ingat, agar tugas kalian cepat selesai dan bisa mengikuti pelajaran. Kalian harus bekerja sama dengan baik. Dan jangan bertengkar lagi. Jika sampai saya dengar kalian ribut lagi, maka saya tidak segan segan menambah hukuman kalian" himbau guru BK. Mereka pun segera keluar dari ruangan yang begitu pengap itu dengan perasaan lega.


Huft Prisha menghembuskan nafas keras.


"Syukur deh kita cuman dapat hukuman bersihin toilet aja"


"Kita? Kalian bertiga aja yang bersihin toilet. Kita mah ogah" Kata Elina sambil menyedekapkan tangannya didada. Memperlihatkan keangkuhannya.


"Hello. Itu telinga masih berfungsi dengan baik kan?" Sewot Hani. Ia paling tidak mau ditindas. Sebisa mungkin ia melawan siapapun yang berusaha mengusiknya. Berbanding terbalik dengan Prisha yang terus saja mengalah dengan alasan tak mau cari ribut.


"Ooo elo ngatain kita b*d*g? Elo fikir kita kayak temen gembel elo itu yang gak mampu periksa kesehatan?" Sewot Elina


"Yup. Elo fikir kita kayak temen elo itu yang cuman bersihin telinga pakai jarum peniti?" Tambah Fita yang ikut nimbrung menghina Prisha. Hani hendak melawan namun dicegah Prisha dan Gita.


"Udah lah Han gak usah dengerin omongan mereka. Percuma melawan. Mereka gak akan ada habisnya menghina aku yang memang miskin ini" Kata Prisha memelas


"Ya Han. Mending kita langsung bersih bersih aja. Keburu masuk ntar" Lanjut Gita. Mereka bertiga segera mengambil peralatan kebersihan dan mulai mengerjakan tugas mereka. Prisha mengambil cairan pembersih kloset dan menyiramkannya. Sambil menunggu mereka membersihkan lantai dan menguras bak mandi. Sementara Elina end the geng hanya menjadi penonton saja layaknya mandor. Mereka asyik bercanda sambil memperhatikan musuh bebuyutannya sibuk membersihkan toilet sekolah. Tidak lupa mereka memvidiokannya untuk dijadikan bahan cemoohan nantinya. Prisha sama sekali tak menghiraukannya. Berbeda dengan Hani dan Gita yang terus menggerutu.

__ADS_1


"Kalau si badan pucet rambutnya dikasih pembersih toilet halal gak sih? Biar gundul" Cicit Hani sambil menyikat lantai.


"Halal kali ya. Gak cuman Elina doang tapi mereka bertiga. Kan mereka tadi yang jambak-jambak rambut kita sampai mau rontok semua." jawab Gita. Mereka masih bisa tertawa bersama walau sedang menjalani hukuman.


"Kalian gak boleh gitu ah. Dosa" Kata Prisha memperingatkan dua temannya itu.


"Jangan karna mereka jahat terus kita juga mau balas kejahatan mereka dengan hal yang sama. Mending di do'ain aja biar dapat hidayah dari Tuhan dan berubah baik" Lanjut Prisha sambil menyikat lantai kamar mandi.


"Lagian kalau kata kata kalian tadi di denger orang lain apa gak bikin masalah? Kalian bisa dituduh merencanakan kejahatan. Apa gak bahaya itu? Pembunuhan berencana aja hukumannya mati" Kata-kata Prisha barusan justru membuat Gita dan Hani tertawa geli. Mereka tak habis gikir dengan jalan fikiran Prisha.


Hahaha Hani tertawa lebar sambil menimpali omongan Prisha.


"Sha, Sha. Fikiran elo kejauhan. Mana bisa pembunuhan berencana elo samain kejahatan berencana. Gak ada undang undangnya itu. Hahaha kamu ini ada ada aja"


Hahaha Gita pun ikut tertawa.


"Lebih baik ngalah dari pada melawan malah jadi gak karuan"


Teeeet


Teeeet


Teeet


Bunyi bel sekolah menandakan waktu istirahat telah habis. Elina dan 2 temannya itu segera beranjak dari tempat tongkrongannya menghampiri Prisha, Gita dan Hani.

__ADS_1


"Eh gembel. Bersihin tuh toilet sampai kinclong. Awas aja kalau sampai gue dipanggil guru BK lagi gara-gara gak menjalani hukuman. Elo yang bakalan habis." bentak Elina dengan angkuhnya


"Daaaa gembel. Gue balik ke kelas dulu ya. Udah ada bel" Kata Mega sambil berjalan dibelakang Elina yang melambaikan tangan layaknya seorang model.


"Eh Prisha. Elo kan udah biasa jadi babu. Kenapa bersihin gitu aja lama banget sih. Dasar siput. Apa apa lelet" Ejek Fita


"Ya udah gue balik duluan. Ntar ketinggalan pelajaran lagi. Daaaa" lanjut Fita yang ikut berlalu pergi.


Sepeninggal Elina end the geng mereka buru-buru menyelesaikan tugas mereka membersihkan toilet. Sesekali Hani dan Gita menggerutu dan mengumpat. Mereka begitu benci dengan kelakuan Elina yang sok berkuasa. Namun Prisha terus saja mengingatkan agar tidak terhasut dan ikut berkelakuan buruk.


"Akhirnya selesai juga. Yuk kita cuci tangan terus ke kelas" ucap Prisha lega. Ia mengembalikan sikat WC yang tadi ia gunakan kembali ketempatnya. Disusul oleh Gita dan Hani. Mereka berjalan terburu-buru ke kelas dengan Prisha yang berada di posisi paling depan.


"Ayo Han, Git. Buruan. Nanti kita ketinggalan jauh pelajarannya" Prisha berjalan sambil menoleh menarik tangan kedua temannya itu. Membuat ia tak menyadari jika didepan mereka ada orang.


Bug


Tubuh Prisha menabrak seseorang. Membuat ia langsung menoleh dan melepaskan kedua tangan temannya itu. Sekilas ia bisa menghirup aroma parfum maskulin yang digunakan pemilik tubuh tersebut. Heem wangi. Namun Prisha segera menyadari kesalahannya. Ia begitu ceroboh berjalan tergesa-gesa tanpa memperhatikan jalan.


"Maaf pak. Saya gak sengaja" Prisha menunduk dan meminta maaf pada sosok lelaki perberawakan kurus dan tinggi itu.


"Heem. Lain kali kalau jalan itu yang diperhatikan depan. Jangan menoleh kebelakang. Udah jalannya buru-buru gak lihat ke depan. Nabrak kan jadinya" jawab Andrian yang berjalan dari arah kantor membawa selembar kertas.


"Maaf pak. Kami buru-buru. Takut ketinggalan pelajaran." Jawab Gita sopan


"Kalau buru-buru ya udah sana ke kelas. Ngapain masih berdiri disini. Aneh"

__ADS_1


"Baik pak. Sekali lagi saya minta maaf" Prisha beserta kedua temannya menunduk meminta maaf. Lalu kembali berjalan beriringan menuju kelas.


__ADS_2