Cinta Di SMK

Cinta Di SMK
Bab 31


__ADS_3

"Selamat siang bu" Sapa Prisha kepada Ammy begitu ia masuk ke butik.


"Siang." Jawab Ammy dengan senyuman.


"Prisha. Sana kerumah dulu makan siang" Kata Ammy kemudian.


"Ya bu. Terima Kasih" Jawab Prisha. Ia terus berjalan masuk menuju meja kerja Ammy. Begitu sampai didekatnya ia ulurkan tangannya yang langsung disambut oleh Ammy. Prisha mencium tangan Ammy sebagai tanda hormat kepada orang yang lebih tua.


"Maaf ya bu. Untuk hari ini Prisha izin gak masuk kerja dulu. Karena di sekolah ada latihan kepramukaan." Kata Prisha.


"Oooh gitu. Gak apa-apa. Mama izinin. Kerja boleh tapi jangan sampai mengganggu kegiatan disekolah." Kata Ammy kemudian memberi nasihat.


"Jadi kamu kesini cuman buat izin aja nih? Kenapa gak chat wa aja sih Sha?" Tanya Ammy


"Maaf bu. Tapi saya tidak punya nomor ibu. Jadi saya berinisiatif kesini sekalian memberikan sesuatu kepada ibu" Prisha melepas satu tali tas yang ada dipundaknya. Memutarnya kedepan. Membuka reslitingnya kemudian mengeluarkan selembar kertas dari dalam tasnya.


"Apa itu?" Tanya Ammy penasaran.


"Ini hasil desain yang ibu minta kemarin. Semalem saya buatnya. Semoga tidak mengecewakan ibu." Prisha menyodorkan kertas yang berisi hasil sketsa baju yang ia gambar.


"Wah terima kasih ya Sha. Mama jadi punya referensi buat selera baju anak muda. Ini udah lumayan bagus. Tinggal nanti saya tambah detail-detail khas butik mama Ammy aja. Yang penting jangan takut mencoba. Mendesain pakaian itu seperti karya seni. Harus ada rasanya biar orang lain tertarik dengan produk kita. "


"Kalau begitu Prisha langsung kembali ke sekolah ya bu" Pamit Prisha.


"Nanti dulu. Ini kartu nama saya. Disana ada nomor hpnya. Nanti kalau udah gak sibuk chat mama ya. Biar mama save." Ammy menyodorkan kartu nama yang ia letakkan di sebuah kotak kecil di meja kerjanya. Prisha segera menerimanya dan menyimpannya kedalam tas.


"Kalau begitu Prisha pamit bu. Permisi"


...***************...

__ADS_1


"Ikhlas Bakti bina bangsa berbudi bawa laksana. Salam pramuka" Salam Pramuka dari seorang senior terucap lantang di halaman sekolah. Menandakan kegiatan kepramukaan sedang di laksanakan. Semua murid yang berbaris rapi dihalaman pun segera menjawab salam tersebut dengan kompak


"Salam"


"Tepuk pramuka" Perintah senior berseragam coklat tersebut.


Prok prok prok


prok prok prok


prok prok prok prok prok prok prok


Suara tepukan kompak terdengar. Tiada yang membantah ataupun berbicara sendiri layaknya ketika apel pagi. Mereka semua berbaris rapi dan patuh dengan apa yang dikatakan senior. Kedisiplinan begitu kentara disini. Bukan tanpa alasan tapi karna takut dengan sebuah sangsi hukuman yang akan diberikan senior jika mereka tak mendengar kata-kata senior.


Kegiatan kepramukaan dimulai dengan latihan baris berbaris. Kemudian dilanjutkan dengan materi didalam ruangan yang didampingi 2 senior di tiap masing masing kelas. Setelah itu dilanjutkan kembali kehalaman sekolah sebagai penutupan.


Prisha yang notabennya seorang pemalu sangat berusaha untuk terus disiplin dan tidak melakukan suatu kesalahan. Dari mulai seragam yang harus lengkap berikut hasduk dan topi pramuka. Konsentrasi dalam melaksanakan baris berbaris. Serta mengikuti materi dengan serius. Bagi Prisha kegiatan kepramukaan memang begitu menekan. Ada teriakan teriakan seperti layaknya MPLS diawal masuk sekolah. Jika saja boleh memilih pasti Prisha tidak akan ikut kegiatan tersebut. Namun kegiatan ini memang diwajibkan dari sekolah. Jadi mau tak mau Prisha pun mengikutinya.


"Semua pasukan saya ambil alih. Semuanya siap grak" Kata Rama memimpin


"Karna hari semakin sore saya ingin salah satu dari kalian maju kedepan untuk belajar memimpin barisan. Ayo silahkan maju"


Hingga beberapa menit berlalu, tak ada satupun dari mereka yang maju. Membuat Rama harus putar otak.


"Ok. Karena gak ada yang berani maju maka biar semesta yang memilih. Ini kakak punya pesawat kertas. Nanti akan saya terbangkan ke arah kalian. Siapapun yang kena harus maju memimpin. Siap?" Tanya Rama yang sudah memegang pesawat kertas. "Siap" Jawab mereka kompak. Pesawat diterbangkan. Dan semua siswa menghindar. Namun tetap saja salah satu diantara mereka ada yang kena. Yaitu Prisha. Mau tak mau ia harus maju. Memimpin batis berbaris layaknya senior mereka.


"Ayo dek Prisha maju. Tasnya di lepas dulu" Kata Rama. Prisha pun meletakkan tasnya asal. Ia maju kehadapan teman teman untuk memimpin barisan.


"Tenang. Gak usah takut. Nanti kakak ajari" Kata Rama setelah Prisha menghadap teman temannya.

__ADS_1


"Ok. Perhatikan ya semua. Ini teman kalian akan menggantikan kakak untuk memimpin barisan. Langkah pertama yang harus kalian lakukan adalah mengatakan 'semua pasukan saya ambil alih' itu kata kunci. Tanpa kata itu kalau barisan dipimpin orang yang berbeda maka kalian jangan mau melakukannya. Itu salah. Paham?


"Siap faham" jawab mereka serentak dengan posisi siap lalu kembali pada posisi beristirahat.


"Ayo mulai dek" Rama memerintah membuat Prisha dengan takut takut mengikuti apa yang dikatakan Rama. Ia mengambil alih pasukan. Memberi perintah dasar baris berbaris seperti siap, lencang kanan, istirahat di tempat dan juga hadap-hadapan. Semua berjalan dengan lancar berkat bantuan Rama.


"Terima kasih dek Prisha. Silahkan kembali ke barisan" Prisha kembali menuju barisan dengan perasaan lega. Setidaknya ia sudah berusaha melawan rasa takutnya untuk berdiri di depan umum.


"Saya rasa kegiatan sore ini cukup. Kalian bisa istirahat sejenak sambil menunggu kelompok lain selesai. Setelah itu apel penutupan dan pulang" Rama balik badan dan hendak pergi. Namun langkahnya terhenti ketika Elina dengan lantang berteriak


"Kak tolong. Handpon aku hilang." Kata Elina membuat teman teman langsung menghadap ke arahnya.


"Bagaimana ini. Padahal itu handphon baru dibeliin ayah." Elina berakting pura pura menangis membuat beberapa temannya iba.


"Ok semuanya tenang. Coba di ingat dulu terakhir kali kamu membawanya kapan" Rama mendekat ke arah Elina.


"Tadi waktu dari kelas aku masih bawa kak. Aku kantongin di saku" Kata Elina menjelaskan.


"Berarti ada kemungkinan jatuh di area halaman sekolah. Ya sudah ayo kita cari bareng bareng biar cepat ketemu. Saya coba cari bantuan teman lain biar ikut mencari" Rama berjalan ke samping untuk meminta yolong kepada teman temannya agar ikut mencari. Mereka berkeliling lapangan. Bahkan sampai ada yang mencari kedalam kelas. Namun semua sia sia. Handphon Elna tidak ketemu.


"Maaf ya Elina. Kita sudah berusaha membantu. Tapi belum ada yang menemukan" Kata Rama setelah mereka cukup lama mencari.


"Mungkin ada yang nemu langsung di kantongin kali kak. Itu kan handphon mahal." Celoteh Fita yang langsung memancing beberapa reaksi dari teman sekaligus senior mereka.


"Ok. Sekarang kita coba cek satu satu ya. Kakak senior bisa dibantu"


Elina dimintai keterangan terkait tipe HP dan warnanya. Sedangkan siswa lainnya berbaris rapi. Beberapa senior mulai membuka tas mereka satu per satu. Mencari handphon yang Elina katakan. Namun hingga beberapa menit masih tak kunjung ditemukan. Hingga tibalah giliran tas Prisha di periksa.


"Maaf ya dek. Kakak priksa dulu tasnya" Kata seorang senior. Prisha pun memberikan tasnya. Senior tersebut membuka tas Prisha dan

__ADS_1


"Kak......"


__ADS_2