
Sore hari jalan raya terlihat ramai. Beberapa kendaraan bermotor dengan pengemudi baju warna biru yang menjadi identitas sebuah pabrik garmen di kota Jepara itu memadati jalanan. Wajah mereka terlihat lelah. Terlihat buru buru ingin segera sampai ke rumah atau tempat kost masing masing.
"Kenapa wajahnya ditekuk begitu" Kata Andrian sambil mengemudikan scooter maticnya. Ia melirik Prisha dari spion. Terlihat sekali wajah kesal Prisha yang marah karena sikap Andrian. Bagaimana ia tak marah jika sikap Andrian kepadanya begitu prosesif. Awalnya Prisha mengobrol dengan Rama yang menghampirinya ketika menunggu angkot. Entah dari mana asalnya, yang jelas tiba-tiba Rama datang menghampirinya seolah telah menunggu Prisha sebelumnya. Rama bermaksud untuk mengantarkan Prisha pulang. Prisha menolak. Namun Rama sedikit memaksa. Berdalih Prisha harus balas budi karena telah ditolong waktu pendaftaran. Prisha yang hatinya lembut dan polos merasa tak enak hati jika menolak. Akhirnya ia pun menerima tawaran Rama. Ia raih helm yang Rama sodorkan kepadanya. Hendak memakainya. Namun Andrian datang. Mengambil helm tersebut dan mengembalikannya kepada Rama.
"Bapak ini apa apaan sih" Sewot Prisha.
"Kenapa? Mau pulang sama dia?" Andrian menuding wajah Rama dengan tatapan yang tidak bersahabat.
"Jangan harap" lanjutnya kemudian.
"Kamu itu masih tanggung jawab saya. Enak aja pulang dari butik langsung kencan. Ntar kalau terjadi apa apa saya lagi yang di salahkan. Kamu tadi gak denger mama minta saya nganter kamu? Ayo pulang sekarang" Andrian menggenggam tangan Prisha menjauh dari Rama. Ia pakaikan helm yang tadinya di gantung di stang motornya. Terlihat Rama sedikit kesal lalu melajukan motornya menjauh dari mereka.
"Bapak itu nyebelin. Bisa bisanya ngatur ngatur Prisha" Kata Prisha setelah mengingat kejadian sebelumnya.
"Ngatur? Gak ada yang ngatur hidup kamu. Saya cuman berusaha menjadi orang yang bertanggung jawab atas keselamatanmu. Bisa saja kan Rama punya niat jahat dan nanti saya jadi pihak yang bersalah karena lalai menjagamu." Jawab Andrian santai
"Tau dari mana kalau kak Rama ada niat jahat. Bisa aja kan bapak sendiri yang begitu" Prisha masih kekeh dengan pendapatnya. Dimatanya Rama begitu baik. Justru baginya Andrianlah yang kejam. Terlihat begitu cuek. Walaupun begitu Prisha masih saja terus mengaguminya. Berharap ia menjadi wanita yang diperlakukan manis oleh Andrian. Berharap suatu hari nanti bisa bermanja seperti sikap manja Andrian kepada Ammy.
Hari semakin sore. Andrian dan Prisha masih diperjalanan pulang. Tiba di gang menuju rumah Prisha, tiba-tiba ada kucing lari menyebrang. Membuat Andrian refleks mengerem mendadak. Prisha yang kagetpun langsung memeluk tubuh Andrian dengan erat.
"Maaf tidak sengaja. Lagian kenapa bapak tiba-tiba berhenti sih?" Kata Prisha yang masih jengkel.
"Kamu tidak lihat ada kucing nyebrang? Daripada nabrak kucing ntar pamali" Jawab Andrian tanpa rasa bersalah. Ia melajukan motornya kembali menuju rumah Prisha.
__ADS_1
...****************...
Kokok ayam jago yang bersahutan membuat Prisha bangun dari tidurnya. Matanya masih mengantuk. Namun ia paksakan terbuka untuk melakukan rutinitas paginya. Semalam setelah mengerjakan tugas sekolah, Prisha memperbaiki tali tasnya yang putus. Kemudian membantu ibunya menjahit. Menyelesaikan pesanan sarimbit untuk hajatan pernikahan tetangganya.
"Pagi buk" Sapa Prisha yang langsung duduk di meja makan.
"Anak ibu sudah bangun? Gak ngantuk semalam bergadang" Tanya Ratna yang sudah sibuk memasak untuk membuat sarapan.
"Masih ngantuk sih buk. Tapi udah pagi. Kalau Prisha gak bangun nanti gak ada yang bantuin ibu dong" Jawab Prisha yang masih saja menguap.
"Gak apa-apa. Sana tidur lagi. Nanti jam 6 ibu bangunkan. Ibu cuman masak nasi goreng saja kok. Soalnya masih ada nasi berkatan dari hajatan bapakmu semalam." Ratna mematikan kompor yang diatasnya terdapat panci dengan air yang bergolak golak. Ia menggangkat panci tersebut dengan lap lalu menuangkan isinya ke dalam gelas yang sudah berisi bubuk kopi dan gula. Prisha yang masih mengantuk mejamkan matanya lagi. Ia tidur di meja makan dengan meletakkan kepalanya di meja berbantalkan lengan tangannya.
...****************...
"Tampangnya aja polos tapi suka mejajakan diri sama cowok cowok berduit" Sahut teman lainnya yang membuat Prisha semakin bingung.
"Maklum dong kalau dia open BO. Kan buat cari tambahan uang jajan. Secara dia kan gak pernah dapet uang jajan dari orang tuanya" Tambah teman yang satunya lagi dengan tatapan meremehkan. Mereka tertawa bersama setelah puas melakukan penghinaan tersebut. Prisha tak menanggapi perkataan teman temannya. Ia langkahkan kaki menuju kursinya sambil menerka nerka dengan apa yang terjadi.
Langkah Prisha terhenti didepan mejanya. Ia begitu kaget ketika mendapati sebuah foto dirinya yang sedang memeluk erat tubuh lelaki di atas motor. Ia yakin sekali itu foto dirinya bersama Andrian kemarin. Tetapi siapa yang memotretnya? Prisha semakin kaget ketika mendapati tulisan KALAU BUTUH UANG KERJA YANG HALAL. JANGAN JADI JA**NG..!! Ia begitu tertohok dengan tulisan tersebut. Apa karena dia miskin sehingga semua orang memandangnya remeh. Prisha masih butuh waktu untuk mencerna semuanya. Namun ia tak mau terlalu memikirkan hal tersebut. Ia segera mengambil foto yang tertempel di mejanya. Kemudian mengambil penghapus dari meja guru dan segera menghapus teror tersebut sebelum semua temannya melihatnya.
...****************...
Saat jam istirahat tiba, Prisha didatangi oleh Elina and the geng.
__ADS_1
"Kenapa elo gak dateng ke kelas kita? Lupa kalau elo harus beliin kita makanan" Elina menggebrak meja Prisha. Membuatnya yang hendak mengambil kotak bekal dari dalam tasnya kaget. Untung kotak itu tak jatuh. Kalau jatuh mungkin nasibnya sama seperti kemarin. Menahan lapar sampai siang.
"Sekarang berani ngelawan kita ya. Mentang mentang udah bisa cari uang sendiri. Mau sombong loe?" kata Fita yang tak di tanggapi oleh Prisha.
"uang haram aja bangga. Dibayar berapa loe sekali kencan?" kata Mega menimpali.
"Heh.. Ngomong apa elo barusan? Berani ngehina temen gue?" Hani dan Gita baru saja datang dari kantin sekolah membeli minuman. Mereka sengaja membawa bekal seperti Prisha agar bisa makan bersama di kelas.
Mendengar perkataan Mega barusan membuat Hani naik pitam. Ia menarik baju Mega lalu mendorongnya menjauh dari tempat duduk Prisha.
"Ooh bodyguardnya udah datang?" Elina menatap Hani dengan tatapan meremehkan.
"Kenapa elo? Ada masalah? Beraninya keroyokan" Tantang Hani dengan tatapan tajam.
"Elo itu yang bermasalah. Bisa bisanya bela cewek gak bener itu. Asal elo tau ya kemaren itu dia pergi kencan sama orang yang bayar dia sampai sore. Ntah dibayar berapa dia." Kata Elina
"Ini buktinya" Elina memperlihatkan foto Prisha yang sedang berboncengan dengan seorang lelaki. Tangannya memeluk erat tubuh yang ada di depannya. Wajahnya menghadap samping membuat wajahnya terekspos dengan jelas.
Awalnya Hani sedikit terkejut. Namun detik berikutnya ia tetap membela Prisha. Ia yakin Prisha tidak mungkin melakukan apa yang dituduhkan Elina.
"Terus apa masalahnya sama elo? Hak dia dong. Mau kencan bayaran ataupun kencan beneran itu bukan urusan elo. Apalagi sampai menghakimi." Kata Hani
"Gak usah suka ngurusi hidup orang kalau hidup elo sendiri masih kayak telur orak arik. Berantakan" Sambung Gita. Merasa tak bisa mendebat. Elina dan teman temannya pun berlalu pergi meninggalkan kelas.
__ADS_1